Aku lupa kapan tepatnya, namun sekitar bulan februari/maret tahun lalu(di hari-hari menjelang pemilu) aku dipanggil oleh Mas ZZZ(Beliau 3 orang, Huruf depan nama beliau-beliau sama-sama huruf Z, jadi kita panggil saja demikian). Mas ZZZ dengan pandangan visionernya, berencana membentuk sebuah tim untuk kemudian dikirim belajar ke sebuah perusahaan di Purbalingga. Aku menjadi bagian dari tim tersebut. Sebagai seorang yang menjalani hidup berbekal rasa penasaran, tentu aku mengiyakan ide tersebut tanpa pikir panjang.
Singkat cerita, lalu dikirimlah kami(seingatku ada aku, Mas Rizal, Mbak Fajar, Mbak Utari, dan Mbak Ajeng) ke Purbalingga. Tempat di mana kami akan belajar lebih mendalam mengenai Digital Marketing. Harapannya kami mampu menduplikasi kesuksesan perusahaan tempat kami belajar di Purbalingga tersebut. Bulan pertama di Purbalingga terasa mudah dan menyenangkan, agenda harian dipenuhi materi-materi yang sebagian menarik namun sebagian lainnya(menurutku) sudah cukup aku ketahui dari Mas Zahid(mentor sekaligus pendorong awal aku terjebak di dunia Digital Marketing).
Karena suatu hal, Mbak Ajeng ditarik kembali ke Magelang dan digantikan Mbak Nina. Bulan kedua berjalan. Hari-hari di Purbalingga mulai terasa menantang, akun meta business terkena banned menjadi hal yang biasa. Bulan-bulan berikutnya, kami tidak lagi berkutat dengan akun yang terkena banned. Namun, kali ini target omset. Pengeluaran iklan kami ketika itu masih lebih banyak daripada hasil penjualan. Stress, tentu saja. Tapi bagiku terasa semakin menarik. Kami sibuk mengotak-atik banyak hal, metode dan strategi mengiklan, konten iklan, hingga narasi dan struktur landing page. Di bulan-bulan itu pula seingatku Riski(teman SMAku) bergabung.
Riski seorang pembelajar yang cepat, dalam waktu yang cukup singkat, kemampuannya dalam mengelola iklan meningkat drastis. Perihal omzet mulai ada harapan. Namun harapan itu terhalang satu hal, hasil mengiklan tidak akan terkonversi menjadi pembelian tanpa closing dari Customer Service. Dengan kata lain, jika CS kewalahan, maka hasil iklan yang bagus tidak terkonversi menjadi omzet. Mbak Utari sebagai satu-satunya Customer Service di tim kami ketika itu, tentu merasakan tekanan yang cukup berat. Ditambah peningkatan leads yang masuk tentu membuatnya overwhelming.
Untungnya, beliau bukan orang yang mudah menyerah. Seiring berjalannya waktu, Mbak Utari bisa beradaptasi dan kemampuannya menghandle customer sudah tidak perlu diragukan lagi. Hari-hari kami berlanjut menjadi hari-hari penuh percobaan dan mengulik banyak hal, dengan tujuan meningkatkan omset. Sekitar mendekati lebaran idul fitri, Mas Rizal harus kembali ke Purworejo(tempatnya berasal) karena suatu hal.
Berkurangnya personil tidak membuat semangat kami berkurang. Dipimpin Mbak Fajar, kami menjalani hari-hari mengejar omset. Hari-hari tersebut terasa menyenangkan karena tim kami tidak sendirian. Bersama dengan kami ada tim-tim dari daerah lain. Terkadang, kami saling beradu strategi dan omset satu sama lain. Semacam Sparring Partner. Kehidupan diluar pekerjaan juga menyenangkan. Kami satu kosan dengan tim jogja dan tasik. Seringkali kami mengadakan acara kumpul-kumpul bareng untuk sekadar makan bersama atau menonton bareng pertandingan tim nasional.
Tak terasa, waktu berjalan 6 bulan. Satu Semester. Aku(yang belum lulus kuliah) meninggalkan satu semesterku di kampus dan menghabiskannya di Purbalingga. Aku merasa hari-hari di Purbalingga lebih memberiku rasa puas dan senang daripada hari-hari mengerjakan skripsi. Namun perasaanku berbeda dengan perasaan orang tuaku. Mereka memintaku menyudahi kegiatanku di Purbalingga dan Pulang ke Magelang untuk menyelesaikan studi. Aku sebenarnya enggan. Selain itu aku juga tidak enak hati dengan Mas ZZZ yang telah “mensponsori” kehidupanku di Purbalingga karena omset yang aku(dan tim) dapatkan belum sampai di titik optimal.
Namun, perintah orang tua tetaplah perintah yang sulit ditentang oleh seorang anak. Setelah sekitar 7 bulanan di Purbalingga. Akhirnya kini giliranku yang pulang ke Magelang dan meninggalkan tim. Aku juga harus meninggalkan kegiatanku mengotak-atik iklan dan dunia pekerjaan lainnya. Orang Tuaku memintaku fokus menyelesaikan studi. Tak ingin menjadi serupa malin kundang, aku memilih patuh akan permintaan orang tuaku tersebut.
Meski begitu, aku tetap memantau perkembangan tim tempatku dulu bergabung. Sebuah tim yang kini bernama REDIGMA. Aku menyimak grup chat dan sesekali nimbrung. Jujur saja, aku sudah terlanjur tertarik pada dunia Digital Marketing sejak pertama aku diperkenalkan ke dunia tersebut oleh Mas Zahid. Susah untuk mengabaikan ketertarikan tersebut ketika ada topik yang menarik. Tak terasa REDIGMA sudah berumur satu tahun. Berawal dari sebuah tim beranggotakan lima orang, kini bertumbuh lebih dari dua kali lipat.

Bagiku pribadi, REDIGMA lebih dari sekedar catatan pengalaman kerja. REDIGMA adalah tempatku bersenang-senang sekaligus kawah candradimuka untuk belajar banyak hal terkait bisnis, marketing, dan teknologi seputarnya. Aku merasa, tak berlebihan jika kuanggap bertahun-tahun waktu kuliahku tak sebanding dengan setengah tahun lebih sedikit waktu yang kuhabiskan di REDIGMA.
Aku mendedikasikan tulisan ini untuk kawan-kawan di REDIGMA. Teruslah bertumbuh dan menghasilkan omset lebih banyak. Buat mas ZZZ menjadi bagian dari 9 naga. Aku juga memohon maaf harus meninggalkan tim lebih awal. Semangat!
Ohiya, tak lupa aku ucapkan terima kasih yang khusus dan spesial kepada Mas ZZZ. Bagiku beliau-beliau bukan sekadar bos atau atasan. Mereka adalah Mentor, Guru, Mursyid atau apapun yang mirip dengan itu. Terima Kasih telah “mensponsori” banyak rasa penasaranku. 🫡