Hanif-log

  • Aku ingin hilang Sekali, Lagi aku ingin menghilang Menjadi hilang Jadi menghilang Hi Lang Menjadi tenang …. … .. .

  • Hai, Sudah lama aku tidak mengunjungimu. Sejujurnya, selama ini aku mencoba betul menjauh darimu. Menahan diri untuk tidak menumpahkan semuanya, meski lewat kata. Aku mencoba mencukupkan diri dengan antidepresan, kerja, dan mengerjakan apapun yang ada. Aku mencoba menikmati hidup repetitif. Berulang-berulang-berulang. Lagipula, katanya beginilah mayoritas manusia hidup. Ah, ternyata tidak mudah. Aku tetap mencorat-coret dinding.…

  • 03.24. Angka itu lagi. Entah sudah malam keberapa aku dan sepi beradu pandang dalam seminggu ini. Aku masih terjaga, membiarkan asap rokok menari pelan di udara kamar yang dingin, sementara jempolku setia menggulir layar tanpa tujuan. Doomscrolling. Algoritma YouTube (entah karena memang jenius atau aku yang terlalu murah hati membagikan data privasi) tiba-tiba menyodorkan satu…

  • Di sinilah kita, Terjerat waktu Dan tali-tali kekang. Membiarkan segalanya, meludah di pasak-pasak yang tidak kita tanam. Kemudian Takdir kita tuang, nasib kita hisap, duka kita telan jadi bahan tertawaan. Setelah khusyuk kita bersama, mari akhiri dengan rapalan, seperti kata neruda, kita tahu kita semua dilahirkan! – Magelang, 12 Juli 2022

  • Hai, Hari ini hari senin. Hari senin pertama di tahun 2026. Lama tidak menulis membuatku canggung dan bingung ingin menulis apa. Aneh sekali rasanya. Sudah habis 1 playlist new jeans dan tulisan yang ada tak lebih dari 1 paragraf. Aku akan mulai seperti awal lagi. Di hari senin ini aku bangun siang hari. Ya, aku…

  • hai, Lama sekali tidak menulis. kali ini aku akan memberi alasan. Karena persoalan teknis (domain dan hosting), aku melewatkan bulan desember tanpa menulis catatan sama sekali. Beberapa bulan sebelumnya juga aku alpa menulis. Sepertinya jurnal harian kini menjadi jurnal bulanan, atau bahkan tahunan? entahlah. Saat ini hari ke-3 bulan pertama di tahun 2026. Damn. Waktu…

  • Hai, Sudah lama aku tidak menulis(kali ini akh tidak akan memberikan alasan). Sebenarnya aku ingin membagikan catatan perjalananku selama satu minggu kemarin. Namun hal itu urung aku lakukan. Kenapa? Entah. Aku sendiri-pun tidak tahu mengapa. Aku hanya merasa belum ingjn melakulannya. Beberapa hari lalu aku sempat ingin berhenti merokok. Keinginan yang hanya bertahan 3 jam.…

  • Hai, apa kabar? Aku menulis ini sepulang dari kantor. Setelah membersihkan diri dan meminum obat-obat penenang. Tidak, aku tidak panik ataupun cemas. Aku hanya perlu obat-obatan itu untuk memicu rasa kantuk. Sembari menunggu kantuk datang, aku duduk di ruang tengah rumahku sambil mendengarkan suara hujan. Atap rumahku memang terbuat dari seng. Hujan yang tidak terlalu…

  • Hai, sudah lama sekali aku tidak menulis jurnal harian di sini. Salah satu kekuranganku memang tidak disiplin dan konsisten. Aku tidak akan membela diri untuk itu. Aku menulis tulisan ini di pagi hari, setelah berusaha untuk tidur namun sia-sia. Rasa kantuk tak mampu membuat kesadaranku pergi. Memejam mata dan berdiam diri hanya membuat pikiranku semakin…

  • Membaca tulisan-tulisan Matt Haig tidak pernah terasa seperti membaca sebuah buku. Lebih mirip seperti membuka dosgrip yang lupa disimpan di laci, lalu menemukan selembar kertas kecil dengan tulisan tangan yang entah milik siapa: “Jangan lupa, kamu masih di sini.” Buku-bukunya sering kali seperti memoar orang yang duduk sendirian di kamar dengan lampu kuning pucat. Ia…

  • Aku terbangun sebelum alarm, seperti dipanggil oleh sesuatu yang tidak punya suara. Bukan mimpi buruk yang membangunkan, tapi justru ketiadaan mimpi. Kekosongan yang menarikku dari tidur seperti lubang hitam. Kamar terasa seperti kotak sepatu yang ditutup rapat, udaranya pengap oleh napas semalam yang tak menemukan jalan keluar. Di luar jendela, langit menggantung seperti layar yang…

  • Hari ini Wifi(tembakan) rumahku tidak berfungsi. Aku lupa menyalakan data seluler ketika membuka smartphone. Dalam momen itu, entah mengapa aku merasa ada yang “aneh”. Aku bingung. Smartphone di tanganku mendadak terasa sangat biasa. Aku juga baru sadar, dari seratusan aplikasi yang terpasang, hanya kamera dan catatan yang bisa dipakai dengan normal. Sisanya tidak berguna, hanya…

  • Malam ini, seperti malam-malam lain yang terlalu sunyi untuk dijelaskan, aku kembali terdiam pada layar kosong. Tak ada rencana, tak ada premis, hanya hasrat samar untuk menulis. Entah tentang apa. Mungkin tentang waktu yang terus berjalan tanpa kompromi. Atau tentang rasa yang diam-diam membatu di sudut hati. Atau mungkin hanya sekadar membuktikan bahwa aku masih…

  • Ketika aku membuka kembali draft tulisan ini, sudah lewat berminggu-minggu semenjak aku (akhirnya) wisuda. Karena momentumnya sudah terlewat sangat jauh, aku memutuskan untuk menulis ulang saja. Mari kita mulai kembali. Singkatnya, setelah belasan semester, pada akhirnya aku resmi meraih gelar sarjana pendidikan. .S.Pd. Sebuah gelar yang setelah resmi kudapatkan, aku pun bingung akan diapakan(?). Perjalanan…

  • A thought came to me tonight, seemingly from nowhere. It’s about the subtle space between two small words: the difference between working “with” people and working “for” them. On the surface, they might seem the same. But I’ve come to realize they are worlds apart. To work with people suggests a flat landscape. A place…

  • Hai. Sudah satu bulan lebih aku tidak menulis jurnal (yang seharusnya) harian ini. Jika diminta mencari alasan, aku bisa menemukan banyak hal yang menjadi alasan mengapa beberapa waktu ini tidak menulis. Alasan-alasan yang sebenarnya hanya perpanjangan dari rasa malas. Barangkali mungkin juga karena aku sedang tidak resah. Seperti sebuah tulisan(yang aku lupa karya siapa), manusia…

  • Ketika itu dini hari. Aku sedang khusyuk menikmati insomniaku yang tak pernah pergi. Tiba-tiba muncul notifikasi whatsapp dari seorang kawan lama yang dulu kerap menemaniku berpetualang di dunia malam jogja. Sebut saja ia Azkas.  “Kiro-kiro Sisyphus bahagia tenan ra yo karo urip e?” Chat singkat dari Azkas. Ketika itu aku hanya menjawab singkat pula “Bolo,…

  • There is something haunting about this light in the sky. Not haunting in the way horror movies depict a flickering bulb or a shadow in the hallway, but haunting in the way memories can be. Soft. Lingering. Almost warm. Almost sad. At first glance, you might think it’s the sun, and perhaps it is. But…

  • Aku tiba-tuba terbangun pukul 03 pagi, di kamar yang gelap. Bukan gelap puitis. Bukan gelap romantis. Tapi gelap karena aku tidak ingin menyalakan apapun. Tidak lampu, tidak cahaya dari jendela, tidak kesadaran. Semua dalam keadaan lowbat. Di luar sana, dunia tetap sibuk memainkan perannya. Tapi di sini, aku cuma satu orang yang tidak bisa tidur…

  • Aku membuka mata, tapi tidak bangun. Tubuhku terlempar ke hari yang baru, tapi jiwaku masih rebah di lantai mimpi semalam. Jam di dinding berkata pagi, tapi seluruh diriku masih menggenggam gelap. Ada keanehan yang tak bisa dijelaskan—bukan karena matahari belum naik, tapi karena aku belum siap disinari. Beberapa pagi memang tak datang dengan semangat. Ia…

  • (sebuah catatan setelah membaca Viktor Frankl dan mengobrol dengan kekosongan) Beberapa buku tidak menawarkan jawaban. Mereka hanya duduk diam di samping kita, mengangguk pelan saat kita mulai bicara tentang luka. Man’s Search for Meaning adalah salah satu dari sedikit yang begitu. Viktor Frankl tidak menulis untuk membuat hidup terasa lebih ringan. Ia hanya menunjukkan bahwa…

  • Beberapa orang datang terlalu awal untuk dunia yang belum siap. Mereka menulis, melukis, berpikir—bukan untuk dikenang. Tapi karena mereka tidak bisa tidak melakukannya. Mereka tidak sedang mencari perhatian, tapi sedang mencoba tetap hidup. Franz Kafka tidak ingin karyanya dibaca. Ia bahkan meminta sahabatnya membakar semuanya setelah ia mati. Tapi permintaan itu tidak pernah dipenuhi. Dunia…

  • You mean to tell me that someone, a former BAZNAS employee, no less, had the balls to speak out about fucking corruption in a zakat institution, and now he’s the one being hunted down like a criminal? Wallahi, this country is rotting from the inside out. This is BAZNAS we’re talking about. A body built…

  • There’s something sad about watching something rot slowly. Not rotten enough to leave, not whole enough to hold on to. I live in a country that says it’s free. But every day feels like a new kind of colonization. Not by strangers, but by those standing on the podium, smiling too wide to be trusted.…

  • Aku tertidur habis isya’ tadi dan terbangun dini hari. Masih hidup. Masih di sini. Kadang bangun dari tidur seperti ini membuatku merasa seolah-olah kembali dari sesuatu. Entah dari mana, entah menuju apa. Dan seperti biasa, malam punya cara sendiri untuk membangkitkan pikiran yang tidak ingin kupikirkan. Aku teringat kutipan Soe Hok Gie di buku hariannya:…

  • There’s a corner in my days that remains empty,no matter how time keeps filling it with new things.It’s not that nothing ever comes,but because something that once lived therenever truly left. Sometimes, I just sit in silence,feeling a shadow I can’t see—but I know it’s there.Like the scent of rain lingering in the air,even though…

  • Aku duduk di beranda kantor lamaku, di tepi jalan magelang-purworejo. Angin dari kendaraan lalu lalang menampar wajah. Putih, lagu itu berputar lagi di telingaku. Liriknya menggali kubur-kubur kecil di kepala. “Saat kematian datang, aku berbaring dalam mobil ambulans…” Suara khas Cholil mengiris sunyi pikiranku. Aku membayangkan diri sendiri terbujur di dalam logam dingin itu, mendengar bisik-bisik…

  • Haihai…, tidak terasa lama sekali aku bolos menulis jurnal. Padahal harusnya ini jadi jurnal harian. Tapi yasudahlah, kadang hidup memang lebih sering dijalani daripada diceritakan. Sedikit life update, it getting worse, gak ding wkwkwk, bercanda. Slowly but sure aku mulai berprogress. Akhirnya setelah sekian purnama, beberapa hari yang lalu aku sidang skripsi (yay!) Meski tanpa…

  • “Kita dapat menggunakan Mortality Salience untuk kampanye parfum ini,” ujar Mas Panji di tengah rapat di Kafe Kalahari. “Aroma adalah kenangan terakhir yang bertahan setelah tubuh rapuh.” Aku segera mencatat di Notion: Mortality Salience (Greenberg dkk): Kesadaran akan kefanaan → dorongan untuk meninggalkan jejak sensorik. Mortality Salience sendiri merujuk pada kondisi psikologis ketika seseorang menjadi…

  • I can’t sleep. Again. It’s not just frustrating anymore. It’s exhausting. Deeply, relentlessly exhausting. My body feels worn out, but my mind refuses to shut off. Even with 5mg of Valium, 10mg of Clobazam, and 25mg of Zoloft, I lie awake for hours. Insomnia doesn’t feel like a condition anymore. It feels like a second…

  • Writing used to be my safe place. A space to tend wounds, to gather the scattered pieces in my head.But lately, even that place feels too quiet. I took my usual valium and sertraline tonight. I know how they work, how they feel. But still, my eyes refuse to close. Outside, the stars hang quietly…

  • “I walk this empty streetOn the Boulevard of Broken DreamsWhere the city sleepsAnd I’m the only one, and I walk alone”— Green Day Some lessons don’t come in grand, dramatic moments. Sometimes, they arrive quietly — lying alone in a bed of grass, staring up at the trees and the empty sky, feeling small in…

  • It’s past midnight and I’m fuming in this pitch-black room, the only light coming from the cold, unfeeling glow of my phone. I open X and instantly curse everything. Every fucking post is a gut-punch, a brutal reminder that this country is falling apart under Prabowo and his army of power-hungry assholes. #IndonesiaGelap isn’t just…

  • Today(or yesterday) was a very dark day. Earlier, I took pills to try to sleep forever—literally—because I felt so sad, depressed and scattered. Sadly(or gladly) it didn’t work—I woke up at Maghrib with a bad headache. I still felt empty and have nothing to do, so I decided to visit Windis’ house. It’s still Syawal,…

  • Aku terpuruk dalam kegelapan yang tak berujung. Aku merasa gagal sebagai manusia—kegagalan mutlak yang tak mampu kuperbaiki. Setiap hari, aku merasa semakin terjebak dalam gelap, tak tahu lagi harus bagaimana. Goresan-goresan di tangan tak lagi memberi sensasi hidup meski sejenak. Semua terasa kosong dan gelap. Aku tenggelam dalam palung kegagalan. Aku telah hancur ditekan kehidupan.…

  • Aku menulis ini dengan pipi yang basah oleh rasa bersalah. Maafkan aku, Ummi, karena hanya berani menyampaikan lewat tulisan. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk mengatakannya langsung, tenggorokan ini seperti dihimpit batu. Air mata mengalir lebih cepat daripada kata-kata. Ummi mungkin tak pernah melihatnya, tapi percayalah—di balik diamku, ada badai yang merobek-robek diri. Pesan…

  • Aku menulis ini dengan sisa tangis bersama hujan, karena kata-kata ini telah terlalu lama membakar tenggorokan. Aku gagal, dik. Bukan gagal dalam hal kuliah atau kerja, tapi gagal menjadi kakakmu. Aku seharusnya jadi pelindung, penyangga, orang yang kamu lihat dan berpikir, “Aku aman.” Tapi nyatanya? Aku hanya tumpukan janji yang rapuh. Kamu kini semester 6,…

  • Hai, dua hari kemarin aku bolos menulis jurnal harian. Lebaran memang menyenangkan, tapi juga melelahkan. Ah, atau barangkali itu sekedar aku mencari alasan. Hari ini aku akan menulis lagi. Seperti bulan-bulan april sebelumnya. Aku selalu menyempatkan diri untuk rewatch anime shigatsu wa kimi no uso. Sebuah anime tentang cinta. Jadi, mari bicara tentang cinta—lagi—sambil merenung di dalam…

  • Pagi ini, langit masih menggantungkan sisa hujan di ujung daun. Jalanan sepi, tapi di balik pintu-pintu tertutup, ada ribuan tangan yang merajut ketupat seperti merajut luka lama jadi pengampunan. Aku duduk di teras, mencium bau sangit dari wajan tembaga yang mewarisi karat zaman—kakekmu mungkin pernah menggoreng rasa bersalah di sana, nenekku mungkin membakar doa di…

  • Aku menemukan tulisan Santi di Instagram pagi ini, di antara story Digital Marketing DNVB dan meme politik WKWKTHO. Dia bicara tentang cinta sebagai ilusi neurokimia—dopamine yang memabukkan, oxytocin yang menjebak, dan kortisol yang menggerogoti. Kamu pasti tahu perasaan itu: saat jantung berdebar bukan karena spark, tapi karena amygdala-mu mengira sedang menghadapi predator, padahal cuma melihat…

  • Aku memandangi mereka—tiga gumpal daging berbulu yang bergerak-gerak seperti gelembung sabun yang enggan pecah. Si Callico Kecil, si Callico Besar, dan si Oren. Usianya mungkin sekitar dua minggu. Beratnya barangkali tak seberat genggaman tangan. Tapi di sini, di dalam kardus di sudut kamar yang sempit, mereka bernapas. Bernapas. Paru-paru mini itu mengembang dan mengempis dengan ritme yang…

  • Aku membaca argumenmu tentang agama sebagai sistem pengganti yang sempurna, tentang sedekah sebagai senjata melawan rezim. Kamu bicara seperti seseorang yang baru saja menemukan kitab suci di tengah reruntuhan pasar saham—suara penuh keyakinan, tapi matamu (aku bisa melihatnya lewat kata-katamu) masih berkedip-kedip menatap bayangan 1998 yang terus bergema di dinding-dinding kosong. Kita memang hidup di…

  • Hai,Hari ini tidak banyak yang kulakukan. Semalam aku tidak bisa tidur lagi untuk ke sekian kalinya. Aku baru bisa tidur sekitar jam 08:00 dan bangun menjelang dzuhur. Setelahnya sejujurnya aku bingung ingin melakukan apa. Pikiranku sudah terlalu lelah akibat memikirkan hal-hal yang tidak bisa aku kontrol semalam. Sampai akhirnya linggar mengirimkan pesan whatsapp. Ia mengajakku…

  • Aku ingin dipeluk rembulan, sekali sajaMenitipkan sunyi pada sinar yang lembutMerenda mimpi dalam gelap yang menawanLalu membiarkan bayangku menari di atas bayang Aku ingin dipeluk rembulan, sekali sajaAgar segala letih terhempas ke cakrawalaDi antara bintang-bintang yang memejamkan mataKutitipkan harap, menanti fajar tanpa nestapa Aku ingin dipeluk rembulan, sekali sajaMerasakan dingin yang membungkus kehangatanSebab di sana,…

  • Aku duduk di bangku paling pojok Taman Pancasila. Langit Magelang malam ini terlalu jujur—tidak ada awan yang mau menutupi rembulan. Tangan kananku memegang Marlboro Kretek 11.500, tangan kiri mengusap leher yang masih terasa panas bekas cekikan rutinitas. Puasa? Ya, aku berpuasa. Tapi bukan pada rokok. Bukan pada pertanyaan-pertanyaan yang menggerogoti tulang rusuk. Aku hanya puasa…

  • Hai,Malam ini, aku menelan kegelapan—butir-butir sertraline, diazepam, dan clobazam hancur di kerongkongan, berubah menjadi debu penanggal waktu menuju kehancuran.Insomnia menyayat setiap detik,membawa aku ke ambang kekosongan yang mencekam,sebuah kehampaan yang meremukkan segala keyakinan,hingga setiap dogma luluh dalam keraguan dan pengap keputusasaan. Di tengah kegelapan,bayangmu muncul seperti bara kecil menjelang padam,membawakan kehangatan yang fana serupa serpihan…

  • Indomaret dekat Kampus, 19.30 Aku berdiri di depan kasir, tanganku sibuk merogoh-rogoh waist bag lusuhku. Marlboro Kretek 11.500. Uang recehan sisa print skripsi cukup untuk satu bungkus. Aku menyulutnya sembari duduk di bangku legend depan Indomaret. Bau parfum samar tiba-tiba menyelinap di antara aroma tembakau. “Skip tarawih?” Suara itu datang dari belakangku. Aku menoleh, dan di…

  • UU TNI disahkan kemarin—seperti pisau bedah yang menusuk jantung demokrasi yang sudah sekarat. Aku duduk di lantai kamar, dikelilingi oleh buku-buku yang berserakan bagai sisa-sisa pertempuran dalam medan perang yang lengang. Di salah satu sudut, 1984 karya Orwell terbuka di halaman 143, di mana Winston menoreh diari tentang kebenaran yang sudah hancur, seakan-akan kata-kata itu…

  • Aku tidak bisa tidur—entah ke berapa kali, aku sudah terlalu lelah mengingatnya. Karena memejam mata tak menghasilkam apa-apa, aku memutuskan membuka youtube. Algoritma membawaku pada sebuah video. Video sebuah jerapah. Jerapah di layar itu menunduk, lehernya yang panjang terpelintir jadi teleskop yang mengarah ke lubang hitam di rongga dadanya. “Aku sudah menelepon badak, zebra, bahkan…

  • Kau muncul lagi—seperti biasa—dari celah wallpaper whatsapp yang menampilkan wajah Ryujin dibalik teks-teks di layar. “Apa kabar, Nif?” suaramu bergema dari dalam kaleng kopi bekas, di mana semut-semut sedang rapat membahas korupsi gula. Aku mengangkat bahu, jari mengetik kalimat-kalimat yang lebih mirip mantra voodoo bercampur naskah skripsi: “Pemerolehan bahasa manusia adalah upaya menyusun tangga ke…

  • Hari ini aku gagal menjadi puisi dan terbangun di siang hari(meski rasanya seperti tak tidur sama sekali). Setelah mandi dan rutinitas harian lainnya, aku pergi ke minimarket yang dikelola Mbak Sherly untuk membantunya memperbaiki komputer kasir. Pekerjaanku selesai menjelang sore hari. Tak ada agenda, aku memutuskan mampir ke taman pancasila. Aku berbaring di bangku semen,…

  • Suara Billie Eilish itu mengalir di kepalaku seperti tetesan air keran bocor. mengikis sisa tenang yang kusembunyikan di balik kelopak mata. Aku mencoba menghitung napas: satu, dua, tiga… Tapi suaranya terus berputar di pikiran, berdengung seakan mengiringi detak jantung dengan tempo piano muram yang mengiris-iris. Bantalku terasa seperti batu kali, dingin. Kuraih TWS, kuputar white…

  • Aku menulis ini usai membereskan kamarku—meski, sejujurnya, tak banyak yang berubah. Buku-buku masih berserakan, sebab rakku sudah tak mampu menampung semuanya. Aku sering tersandung hasrat mendadak untuk membaca, dan keberadaan buku-buku yang berserak justru memudahkan keinginan itu. Walaupun penglihatanku semakin buram, keinginan membaca kapanpun—bahkan dalam cahaya yang remang—tetap sulit untuk kupadamkan. Membaca telah menjadi hasrat…

  • Tidak ada kutipan karena ini adalah pos yang terlindung sandi.

  • Aku menulis ini di warung kopi dekat rumah, di mana asap kretek dan desis pelatihan kadet Akademi Militer bercampur jadi satu. Langit malam di sini selalu terbelah dua: lampu-lampu kota kecil yang temaram, dan sorot lampu LED penghias tembok AKMIL yang menyapu bukit Tidar seperti penjaga yang tak pernah tidur. RUU TNI berpotensi disahkan, Dwifungsi…

  • Aku menulis ini di kamar yang sama, pukul 03.47, ketika asap rokok masih menggantung di udara seperti pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab. Lima jam sebelumnya, kami duduk bersila di lantai, membahas Nietzsche dan bayang-bayang Sisyphus—sampai tiba-tiba salah satu dari kami berbisik, “Kita ini seperti dua asteroid yang kebetulan bertabrakan di ruang hampa. Apakah tabrakan itu…

  • Hari ini hari ke 15(atau 16 ya?) Ramadhan. Aku menulis ini di kamar yang masih berantakan, di meja berserak tumpukan buku Tafsir Al-Jalalayn dan The Gene: An Intimate History, sementara lagu Dream Theater “The Ministry of Lost Souls” mengalun pelan dari TWS SoundCore yang lagi-lagi mati sebelah. Aku menulis ini setelah perbincangan panjang dengan seorang…

  • Apa kabarmu hari ini?Semoga langit di atasmu tidak terlalu kelam. Aku di sini, duduk di sudut kamar yang sama.Baru saja menonton Before Sunrise untuk kesekian kali.Aku membayangkan kita berjalan di tepi rel kereta Wina,berbicara tentang segala yang remeh, lalu tertawa.Tapi mungkin itu terlalu indah untuk nyata. Kamu sedang apa hari ini?Apakah kamu masih suka menatap…

  • Aku mengetik tulisan ini pukul 00:30 WIB. Aku mengetik ini dengan jari-jari yang lebih fasih berbicara tentang kecemasan daripada teori Foucault. Semester 12, dan skripsiku masih berupa kumpulan draf yang lebih absurd dari senyum Monalisa. Suara jam dinding berdetak seperti mengejek: “Masih hidup? Masih mencoba?” Hari ini hari ke-14 Ramadhan(seingatku), tapi jari-jari ini lebih setia pada…

  • A Journey Through Phases Phase: Frost in June (June 12th) Today, she wore a sweater the color of fog. I asked if she’d ever been sunburned. She said, “Heat doesn’t stick to me.” I laughed. She didn’t. Her smile? A flicker—there, then ice. I wonder if winter follows her or if she carries it in…

  • Aku bolos menulis jurnal harian beberapa hari kemarin. Pikiranku kacau. Kepalaku sakit. Tubuhku seakan terpisah dari diriku. Aku juga susah tidur kembali. Kurasa ini efek dari terapi lepas obatku. Aku sedang berhenti mengonsumsi clozapine dan thrihexypenidyl yang tadinya rutin kuminum tiap malam. Aku sudah menduga akan seperti ini, namun menjalaninya ternyata tetap tidak mudah. Syukurlah…

  • Aku lupa kapan tepatnya, namun sekitar bulan februari/maret tahun lalu(di hari-hari menjelang pemilu) aku dipanggil oleh Mas ZZZ(Beliau 3 orang, Huruf depan nama beliau-beliau sama-sama huruf Z, jadi kita panggil saja demikian). Mas ZZZ dengan pandangan visionernya, berencana membentuk sebuah tim untuk kemudian dikirim belajar ke sebuah perusahaan di Purbalingga. Aku menjadi bagian dari tim…

  • hujan, bau tanaharoma basahhai! jika semua ini perjuangansaksikanlah sejak ini aku menyerahjika semua ini perlombaansampaikan pada yang lain aku mengalahpersetan dengan cerita,aku memilih jalan sia-sia

  • Hari ini hari rabu. Aku mengawali hari rabu dengan bangun sahur pukul 03:30 dan tidur kembali setelah subuh. Sesudahnya aku benar-benar bangun sekitar pukul 11:00. Aku mandi dan berangkat ke kampus. Sebelum ke kampus aku menyempatkan diri untuk mampir ke taman pancasila. Ternyata siang ini taman cukup ramai. Beberapa petugas Dinas Lingkungan Hidup kulihat sedang…

  • Tak banyak yang kulakukan di hari selasa ini. Aku bangun sahur pukul 03:30 dan tidur kembali setelah subuh. Entah karena efek obat atau apa, aku baru terbangun ketika adzan dhuhur. Setelah bangun, aku mandi dan pergi ke kampus untuk menyelesaikan revisian skripsi. Karena puasa, tak ada marlboro kretek dan segelas es teh tawar. Aku langsung…

  • Aku menulis ini setelah sahur tanggal 4. Lagi-lagi terlambat. Semalam aku tanpa sadar tertidur saat sedang menyimak kuliah Dr. Michael Sugrue tentang Existensialismenya Kierkegaard. Satu hal yang kuingat tentang Kierkegaard adalah pandangannya tentang anxiety. Beliau memandang anxiety sebagai sebuah momentum manusia menyadari hasrat dasarnya tentang kebebasan. Sebuah possibilitas di atas possibilitas. Sebagaimana Adam dan Eve(atau…

  • Saat aku menulis tulisan ini, hari mingguku sudah berakhir. Saat ini masuk hari senin pukul 00:12. Aku terlambat menulis jurnal harian karena baru saja pulang sehabis bertemu mas panji di sebuah kafe. Kami berbincang cukup lama dan membicarakan banyak hal. Usaha kami yang belum menghasilkan. Pergolakan batinku. Hingga masalah Republik. Aku sampai menghabiskan satu bungkus…

  • Hari ini hari sabtu, hari pertama bulan maret sekaligus hari pertama bulan Ramadhan. Aku bangun sahur 30 menit menjelang imsya’. Efek obat-obatan antidepressan dan obat penenang membuatku sahur setengah sadar. Setelah subuh aku tidur kembali dan bangun pukul 10. Setelah mandi, sekitar pukul 10:30 aku menuju ke minimarket untuk kembali mensetting aplikasi POSnya. Sesampainya di…

  • Tulisan ini harusnya aku tulis hari jum’at akhir februari lalu. Namun, hari jum’atku tidak ada yang istimewa dan menarik untuk ditulis. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Segelas Es Teh, Marlboro Kretek, dan Perpustakaan Kampus. Oleh karena itu, alih-alih menulis tentang kehidupanku di Hari Jum’at, aku ingin menulis hal lain. Semua berawal dari ajakan nongkrong seorang…

  • Hari ini aku bangun cukup pagi. Setelah sarapan, aku bergegas menuju kampus. Sesampainya di kampus, seperti biasa aku menaruh tas di loker perpustakaan lalu beranjak ke kantin. Segelas Es Teh tawar dan Marlboro kretek seakan telah menjadi starter-pack-ku untuk memulai hari. Setelah Es Teh tawar dan beberapa batang rokok habis, aku masuk ke perpustakaan. Di…

  • Aku seharusnya menulis jurnal ini kemarin malam, tetapi aku tertidur lebih awal tanpa sempat menulis apapun. Aku mengawali hari rabu dengan penuh semangat. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dijadwalkannya seminar proposal skripsiku. Aku menyiapkan segalanya sejak pagi hari. Aku berencana menjalani seminar proposal skripsi(yang dilakukan secara online) di…

  • Aku mengawali hari selasa dengan bangun pagi hari(setidaknya lebih pagi dari hari-hari sebelumnya).  Setelah sarapan, aku menuju ke kampus seperti biasa. Sesampainya di kampus, aku menaruh tasku di loker perpustakaan lalu keluar dan pergi menuju kantin. Seperti hari-hari sebelumnya, aku memesan es teh tawar dan menikmatinya bersama rokok marlboro kretek. Sembari mengamati mahasiswa yang lalu…

  • Aku sempat libur menulis jurnal harianku di Jum’at hingga senin(hari aku menulis tulisan ini). Aku lupa alasan persis mengapa aku tidak menulis dan mengunggah jurnal harian pada hari-hari itu, namun satu hal yang pasti adalah ketidakdisiplinanku. Sembari mengingat kembali apa yang aku lakukan di hari-hari itu, aku akan menulis tulisan ini. Jum’at Seingatku, di hari…

  • Rabu Rabu kemarin aku luput menulis jurnal harian karena mengakhiri hari terlalu malam. Aku memulai hari rabu-ku dengan berangkat ke kampus seperti biasa. Selepas dua batang rokok dan segelas es teh tawar, aku berencana berpindah dari kantin ke perpustakaan kampus dan bergumul dengan skripshit. Belum habis rokok kedua, aku mendapat pesan dari Mas Panji(Senior SMA…

  • Hari ini tidak banyak yang terjadi. Kehidupanku yang begini-begini saja berjalan kembali. Aku bangun pukul 11 siang dan berangkat ke kampus. Aku mengerjakan skripsiku yang lama aku hindari itu. Di kampus, aku bertemu beberapa kawan. Kami memutuskan untuk mengobrol dan merokok bersama di kantin. Aku yang tidak berpenghasilan(selain uang saku harian 15ribu/hari) tentu hanya membeli…

  • Sudah lama sekali aku tidak menulis jurnal harian. Aku jadi bingung ingin menuliskan apa. Tetapi aku ingin menulis. Apapun. Existensial Krisis Aku sudah mendekati 25 tahun hidup di bumi. Pada masa ini, umum sekali manusia mengalami krisis eksistensi. Hasrat untuk menemukan jawaban tentang alasan mengapa kita hidup? Aku lupa siapa, tetapi aku pernah membaca sebuah…

  • Setelah absen lama tidak menulis jurnal harian, kali ini aku mencoba untuk memulai lagi menulis jurnal di web ini. Masih seperti web-jurnal sebelumnya blog kroepoek dan Hanif-log v1, blog ini akan berisikan celotehan-celotehan pribadi, puisi, atau apapun yang ada di pikiran. Selamat membaca!