Aku bolos menulis jurnal harian beberapa hari kemarin. Pikiranku kacau. Kepalaku sakit. Tubuhku seakan terpisah dari diriku. Aku juga susah tidur kembali. Kurasa ini efek dari terapi lepas obatku. Aku sedang berhenti mengonsumsi clozapine dan thrihexypenidyl yang tadinya rutin kuminum tiap malam. Aku sudah menduga akan seperti ini, namun menjalaninya ternyata tetap tidak mudah.

Syukurlah hari ini penderitaan itu berkurang. Aku masih susah tidur, namun ada hal yang membuatku membaik. Semalam aku masih terjaga hingga sahur. Duo clobazam dan diazepam tak mampu membuatku tertidur. Pikiranku berkeliaran tak jelas. Aku merasa serupa Kierkegaard, pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi diri terus muncul dalam benakku. Sialan. Aku benci diriku yang seperti ini.

Selepas subuh(mungkin karena lelah atau pikiranku pada akhirnya menyerah) aku bisa tertidur. Dalam tidurku, tak seperti biasanya yang hanya gelap. Aku bermimpi. Mimpi yang hingga aku menulis tulisan ini masih teringat jelas. Aku memimpikan dirimu. Tenang, ini bukan mimpi yang “aneh-aneh”. Meskipun, barangkali cukup aneh juga. Namun yang jelas mimpi ini bukan mimpi basah. Walaupun kuakui aku keramas pagi tadi, tapi perihal keramas tak ada kaitannya dengan mimpi ini.

Aku murni berkeramas karena sudah lama tidak keramas dengan shampoo. Bukan karena aku ingin menggimbal rambutku atau apa, tetapi lebih karena shampoo yang ada di rumahku adalah shampoo produksi Protect and Gamble, P&G. Aku pribadi sedang memboikot perusahaan tersebut. Ah, pada intinya, perihal keramas ini tidak begitu penting. Dalam tulisan ini aku akan bercerita tentang mimpiku. Mimpi yang ada dirimu di dalamnya.

Rasanya sangat “nyata”. Hembusan angin, Terik matahari, suara bising sekitar, semuanya benar-benar seperti hari-hariku di kehidupan nyata. Aku tak menyadari bahwa itu mimpi sampai pada akhirnya aku terbangun karena bunyi alarm. Dalam mimpi tersebut, kita duduk bersandingan. Bahuku dan bahumu saling bersinggungan. Tak seperti biasanya, dirimu dalam mimpiku tak berhijab. Namun wajah itu. Benar-benar jelas wajahmu. Sorot mata yang tajam berbinar. Pipi yang membulat. Juga senyum kecil itu. Aku tahu benar itu senyummu.

Kita berbincang tentang banyak hal-hal kosong. Tentang hujan, tentang dedaunan, juga tentang hidup manusia jika Hawa tak bersikeras meminta Adam memetikkan buah khuldi. Dalam mimpiku kamu banyak tertawa. Lesung samar-samar di pipimu muncul tanpa jeda. Kamu juga beberapa kali menyandarkan kepala di bahuku. Rambutmu yang tergerai membelai pelan daguku. Rasanya menyenangkan sekali. Tak ada waktu dalam mimpiku. Tak ada pengganggu. Mungkin ini makna dari frasa “Dunia milik berdua”. Sampai bunyi alarm sialan itu muncul, dan aku terbangun. Tak ada kepala kecilmu di bahuku. Tak ada belai rambutmu di daguku. Tak ada dirimu di sandingku. Aku merasa ada yang hilang, meski aku tahu sejak awal memang tak ada dirimu. Meski aku sadar bahwa aku hanya bermimpi. Aku mencoba tidur kembali. Namun tak ada jaminan akan kutemui dirimu lagi dalam mimpiku berikutnya.

Aku takut yang hadir dalam mimpi berikutnya adalah gelap. Gelap yang biasanya menghabiskan ketidaksadaranku. Sejujurnya aku sudah terbiasa dengan gelap. Sampai dirimu muncul di mimpiku. Aku tak ingin lagi tidur berhiaskan gelap. Aku ingin dirimu dalam tidurku. Meski aku belum tahu benar apakah aku sungguh mencintaimu, atau hanya mencintai pikiranku tentangmu. Jika benar kita saling mencinta, aku rasa aku bersedia menghabiskan sisa ruang dan waktuku untukmu. Aku ingin terus menopang kepalamu di bahuku. Aku ingin terus dibelai rambutmu. Aku ingin dirimu.