Aku dan Kamu, di Suatu Ruang dan Waktu Imajiner

Aku menulis ini di kamar yang sama, pukul 03.47, ketika asap rokok masih menggantung di udara seperti pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab. Lima jam sebelumnya, kami duduk bersila di lantai, membahas Nietzsche dan bayang-bayang Sisyphus—sampai tiba-tiba salah satu dari kami berbisik, “Kita ini seperti dua asteroid yang kebetulan bertabrakan di ruang hampa. Apakah tabrakan itu memberi arti?” Suaranya pecah, setengah tertawa, setengah tercekik.

Tahun ini, kami adalah dua buku dari rak berbeda yang terjatuh ke lantai yang sama. Satu tentang astronomi, satu tentang mitos Yunani. “Kematian itu pasti,” katamu, “tapi kita masih menulis puisi tentang bulan.” Aku tak menjawab. Di antara kami, ada sebotol anggur yang separuh kosong dan sepasang cangkir retak—yang kami pinjam dari dapur bersama. Entah kapan obrolan tentang absurditas berubah jadi bisikan tentang gravitasi. Tentang bagaimana jarak antara dua bintang bisa terasa lebih pendek dari 20 cm, atau bagaimana langit-langit kamar ini tiba-tiba terasa seperti kubah observatorium yang retak.

“Pernahkah kamu bayangkan,” ucapmu sambil memutar cincin di jari kelingking, “bahwa sentuhan hanyalah ilusi fisika? Partikel-partikel kita saling tolak, tapi kita paksa diri untuk merasa menyatu?” Aku menatap bayangan kami di jendela: dua siluet yang hampir bersentuhan, tapi terpisah oleh lapisan kaca tipis. Mungkin itu metafora terbaik untuk pertanyaanmu.

Paragraf-paragraf sebelumnya terdengar seperti upaya melarikan diri. Sejujurnya, yang lebih absurd adalah bagaimana kami—dua makhluk yang bicara tentang ketiadaan—justru terjebak dalam ritual purba: menciptakan kehangatan dari gesekan kulit, seolah-olah itu bisa mengusir dinginnya kesadaran akan kefanaan. Di The Waves, Virginia Woolf menulis tentang bagaimana gelombang laut selalu kembali, meski tahu akan pecah di karang. Aku membayangkan diri kami seperti itu: dua ombak yang saling mendorong, lalu lenyap.

Tapi ritual sudah dimulai. Kamu melepaskan jaketmu, perlahan, seperti menguliti lapisan logika. “Kita terlalu banyak berpikir,” gumammu, sambil menjatuhkan diri ke hamparan kain abu-abu yang kami sebut kasur. Aku menatap langit-langit—retakannya membentuk rasi bintang fiktif. Mungkin Orion, atau mungkin hanya coretan sembarang dari tetesan air.

Diskusi tentang eksistensialisme tenggelam di sini. Yang tersisa hanyalah desiran angin lewat celah jendela, detak jam dinding yang memecah kesunyian, dan napas kita yang berusaha menyamakan ritme. Aku heran, mengapa justru dalam keheningan ini, aku merasa paling hidup? Seperti lilin yang menyala terang sesaat menjelang padam.

“Masih percaya pada makna?” tanyamu tadi, sebelum segalanya menjadi abstrak. Aku menggeleng. Tapi sekarang, dengan rambutmu yang terurai seperti sungai di kegelapan dan jarak yang tersisa hanya selembar napas, aku ragu. Mungkin inilah cara kita mencuri sejumput keabadian: dengan menjadi dua arus listrik yang bersinggungan, lalu memercikkan cahaya palsu.

Besok, kita akan bangun sebagai dua teks yang terpisah—satu tentang astronomi, satu tentang mitos. Tapi untuk malam ini, biarkan retakan di langit-langit menjadi saksi: dua asteroid yang memilih untuk ada dalam tabrakan, meski tahu akan jadi debu kosmis yang terlupakan.


Aku masih tak tahu apakah ini pemberontakan atau kepasrahan. Tapi kamu sudah tertidur, dan mimpi-mimpi—entah hitam atau berbentuk nebula—telah menjadi semesta paralel yang tak bisa lagi kusentuh. Kita tetap dua buku di rak berbeda, hanya sebentar bersinggungan di lantai yang dingin.