Aku menulis ini usai membereskan kamarku—meski, sejujurnya, tak banyak yang berubah. Buku-buku masih berserakan, sebab rakku sudah tak mampu menampung semuanya. Aku sering tersandung hasrat mendadak untuk membaca, dan keberadaan buku-buku yang berserak justru memudahkan keinginan itu. Walaupun penglihatanku semakin buram, keinginan membaca kapanpun—bahkan dalam cahaya yang remang—tetap sulit untuk kupadamkan.
Membaca telah menjadi hasrat tersendiri bagiku. Aku terpukau oleh bagaimana imajinasi dan gagasan tersampaikan lewat deretan kata. Bagiku, kemampuan menyampaikan hal-hal abstrak melalui bahasa adalah semacam mukjizat yang menakjubkan. Mungkin karena itulah aku memilih untuk mendalami bahasa, meski hingga kini aku masih belum sepenuhnya memahami bagaimana proses pemerolehan bahasa itu terjadi.
Hari ini, aku pun mencoba menahan diri untuk tidak merokok setelah berbuka, walaupun usahaku itu ternyata tidak semudah yang kupikirkan. Rokok memang candu yang menakutkan. Aku bahkan lupa kapan aku pertama kali mencicipinya; yang terpatri hanyalah saat aku dengan berani mengakui pada keluargaku bahwa aku seorang perokok.
Itulah awal mula konflik terbuka antara aku dan keluargaku. Ayah dan ibuku menasihati—atau lebih tepatnya, memarahi—aku dengan berbagai alasan: bahaya merokok, hukum Islam yang melarangnya, dan seterusnya. Aku membantah semua nasihat itu dengan serangkaian argumentasi, menjelaskan bahwa rokok bagiku seperti obat yang membantu mengendalikan hormon otak, dan bahwa bahaya rokok, pada hakikatnya, serupa dengan zat lain—“The dose makes the poison.“
Perdebatan itu pun berakhir dengan ungkapan kecewa ibuku, yang merasa telah gagal mendidik anaknya. Aku menanggapinya dengan mengutip puisi Mustofa Bisri, “anak-anakmu bukanlah sekadar anak-anakmu, tetapi juga anak-anak zaman.” Adikku hanya menimpali dengan singkat, menyatakan bahwa aku telah cukup bijak untuk memahami risiko dari pilihan yang kuputuskan secara sadar.
Aku bisa saja menyusun seribu alasan mengapa aku merokok—sebagaimana perokok lain pada umumnya—tapi aku selalu merasa alasan terkuat itu terletak pada sejarah awal munculnya rokok. Dulu, rokok hadir sebagai teman setia prajurit di tengah peperangan, sebagai “doping” dalam pertaruhan antara hidup dan mati.
Aku pun selalu merasakan bahwa aku tengah berperang—meski itu hanya dalam ranah pikiran. A constant battle between me, myself, and I. Sebuah pertaruhan untuk terus menimbang antara pilihan untuk melanjutkan hidup atau menyerah pada kematian. Meski sejauh ini, aku masih sependapat dengan Camus: “In the end, one needs more courage to live than to kill himself.”
Jujur saja, di momen-momen tergelap dalam hidupku, aku pernah hampir berhenti merokok. Entah bagaimana, terjebak dalam kesedihan yang tak terdefinisikan, aku tiba-tiba memutuskan menghubungi layanan berhenti merokok yang tercantum di bungkus rokok Surya 16. Di luar dugaan, teleponku terjawab.
Petugas layanan berhenti merokok dengan penuh kesabaran menanyakan identitasku dan berjanji akan menghubungiku setiap jam yang sama selama beberapa minggu untuk membantuku berhenti. Aku pun menyambut baik tawaran itu dan menunggu panggilan di waktu yang dijanjikan. Namun, keheningan yang kian panjang hari demi hari membuatku sadar bahwa janji itu hanyalah angin lalu. Aku merasa dikhianati, namun pada saat yang sama, aku tertawa getir—merasa bodoh telah mengharapkan adanya layanan seperti itu di negara yang bahkan menganggap nyawa rakyatnya tak lebih dari angka-angka statistik.
Pada akhirnya, aku tetap menjadi perokok—meskipun kini rokokku telah berganti menjadi Marlboro Kretek seharga 11ribu limaratus atau tembakau Tingwe gratisan dari Linggar. Namun, anehnya, aku yakin aku bisa berhenti merokok jika setiap hisapan yang menghangatkan bibirku digantikan oleh sentuhan bibir kecilmu. Sungguh.