Aku tidak bisa tidur(lagi), maka aku menulis tulisan ini

Suara Billie Eilish itu mengalir di kepalaku seperti tetesan air keran bocor. mengikis sisa tenang yang kusembunyikan di balik kelopak mata. Aku mencoba menghitung napas: satu, dua, tiga… Tapi suaranya terus berputar di pikiran, berdengung seakan mengiringi detak jantung dengan tempo piano muram yang mengiris-iris.

Bantalku terasa seperti batu kali, dingin. Kuraih TWS, kuputar white noise suara hujan. Tapi Billie bersikeras: “Take me to the rooftop…”—suaranya merayap di antara derau hujan buatan, menyabotase upayaku mencari damai.

Diazepam di meja berserakan. Aku sudah meminum sebutir tadi malam. Intruisive Thought mendorongku untuk meminumnya 10 butir lagi. Namun pikiran liar itu urung ku lakukan, aku tak ingin suara Billie yang terus mengganggu pikiranku itu akan jadi soundtrack pemakamanku sendiri. I’m not okay, I feel so scattered…” Suara itu masih belum hilang. Ah, sialan.

Aku terus bergulat dengan bising pikiran itu hingga teriakan bocah-bocah tetangga membangunkan sahur terdengar. Tak lama berselang, lampu ruang utama rumahku menyala. Tanda ibuku sudah bangun menyiapkan sahur. Aku keluar kamar dan memasang topeng pura-pura mengantuk.

Aku makan beberapa suap, minum, dan akhirnya menelan beberapa butir lagi obat penenang.  Persetan dengan dosis. Aku ingin tidur. Aku ingin mimpi panjang berbincang denganmu. Aku ingin membelai rambutmu. Aku ingin membacakan puisi-puisi dari Rumi hingga Malna. Sebab puisi adalah intimasi menuju keabadian.

Seperti kata George Bataille “Poetry leads to the same place as all forms of eroticism — to the blending and fusion of separate objects. It leads us to eternity, it leads us to death, and through death to continuity. Poetry is eternity; the sun matched with the sea.”

Kepalaku mulai terasa berat. Aku akan mencoba tidur lagi setelah memposting tulisan ini. Jika aku tidak bangun lagi, mungkin aku telah menjelma puisi.