Hari ini aku gagal menjadi puisi dan terbangun di siang hari(meski rasanya seperti tak tidur sama sekali). Setelah mandi dan rutinitas harian lainnya, aku pergi ke minimarket yang dikelola Mbak Sherly untuk membantunya memperbaiki komputer kasir. Pekerjaanku selesai menjelang sore hari. Tak ada agenda, aku memutuskan mampir ke taman pancasila.

Aku berbaring di bangku semen, menatap deretan pepohonan yang tenang. Di antara riuh kendaraan yang lewat di jalan samping taman dan bisikan angin, aku tenggelam dalam keheningan yang sederhana namun menenangkan, lebih menenangkan dari 10mg benzodiazepine. Meski aku masih bergumul dengan susah tidur dan tubuhku merasakan Nausea(aku tak tahu apa bahasa indonesianya), sore ini aku sadar bahwa ada keindahan dalam setiap detik yang kita jalani. Aku teringat kata-kata Dostoevsky “Beauty will save the world.” Di antara sinar lembut senja yang menerobos dedaunan, aku merasa keindahan itu mengalir, menyelamatkan dunia kecil yang berantakan dalam pikiranku.

Di beberapa sudut taman, aku melihat pasangan-pasangan yang saling berbagi tawa dan pelukan. Aku membayangkan, seandainya kamu ada di sini bersamaku menikmati keheningan ini. Bahu kecilmu bersandar pada bahuku, saling berbagi beban takdir yang tak pernah kita minta. Berbagi kehangatan kecil dalam dinginnya semesta. Serupa kata Camus, “In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer.” Kurasa summer-ku adalah dirimu.

Hari ini, aku memilih untuk merayakan setiap detik yang ada. Aku menikmati keheningan yang sederhana, menjadi seorang spectator dalam pertunjukan alam dan bising sekitar yang diam-diam memesona. Aku tersenyum melihat betapa sederhana kehidupan ini, dan betapa setiap momen kecil, dari getaran angin hingga senyum asing di taman, mengingatkan bahwa kebahagiaan itu selalu ada—meski tersembunyi di balik kerumitan takdir.

Aku memutar Norwegian Wood-nya The Beatles

And when I awoke I was alone
This bird had flown
So I lit a fire
Isn’t it good Norwegian wood?

Tidurku terbangun. Linggar tiba-tiba datang menemuiku. Aku tak heran, rumahnya memang dekat taman ini. Dia bersikeras mengajakku berbuka puasa bersama dengan kawan-kawannya(yang banyak sekali itu) di daerah menowo. Tepatnya di Kedai Ruka. Sebuah Ruang Karya, Kantin, sekaligus Ruang Komunal.

Kami menghabiskan waktu di sana membincangkan banyak hal-meski aku lebih banyak menyimak. Aku mendapat insight-insight menarik dari kawan-kawan linggar yang menurutku “nyeni”. Ide-ide kreatif mereka luar biasa. Waktu yang panjang seakan tak terasa. Kami kembali ke rumah linggar pukul 21.

Di Rumah linggar, aku menyempatkan diri memperbaiki Laptopnya yang error. Setelahnya, aku dan linggar masih berbincang mengenai kehidupan, kisah nabi-nabi, bahkan evolusi darwin. Kami juga menyanyikan lagu-lagu pidi baiq.

Lalu kapan saya akan diwisuda?
Adik kelas sudah lebih dulu
Hati cemas, merasa masih begini

Aku serasa menyanyikan nasibku sendiri. Terpikir olehku sebentar lagi lebaran. Momen-momen hidupku dihujam banyak pertanyaan. “Sudah lulus belum?”, “Sekarang kerja di mana?”, “Kapan nikah?” Ah.. aku lebih suka ditanya tentang bagaimana dinosaurus punah, mengapa umat manusia tak akan pernah menggapai ujung semesta, atau mengapa senyum kecilmu begitu cantik dan memesona.

Samar-samar kudengar suara parau linggar menyanyikan lagu the panturas “You know, that you will always be my sunshine.” Seolah menyuarakan pikiranku tentangmu. Yap, sudah kuputuskan, Lebaran esok aku ingin mengunjungimu barang sejenak. My Sunshine.

Aku pulang sambil mendengarkan —star. nya Nadin Amizah. Suara lirihnya menemaniku menembus jalanan kota kecilku yang katamu ramai. Berbeda denganmu, menurutku kota ini begitu sepi. Dan dingin.

Lend me your palm
I have brought you a star
As bright as who you are
But not enough as lovely as what you are

Whisper me a kiss
You can draw me your dreams
It’s safe inside this tiny house
Where we both understand of who we are

Good Night.