Komet Marlboro dalam Kronik Insomnia Kamar 3×3 dan Surat-Surat yang Terbakar

Kau muncul lagi—seperti biasa—dari celah wallpaper whatsapp yang menampilkan wajah Ryujin dibalik teks-teks di layar. “Apa kabar, Nif?” suaramu bergema dari dalam kaleng kopi bekas, di mana semut-semut sedang rapat membahas korupsi gula. Aku mengangkat bahu, jari mengetik kalimat-kalimat yang lebih mirip mantra voodoo bercampur naskah skripsi: “Pemerolehan bahasa manusia adalah upaya menyusun tangga ke bulan dari kepingan kaca patri.”

Hari ini, kamarku jadi observatorium mini. Tumpukan buku-buku linguistik bersandar di dinding seperti kerangka dinosaurus, sementara Kafka on the Shore terbuka di halaman 143—di mana Nakata bertemu kucing yang bicara dalam dialek Kansai. Aku mencoba menerjemahkannya ke bahasa Jawa, tapi malah jadi kidung tentang malam-malam di mana insomnia adalah kekasih yang lebih setia daripada siapapun.

“Kamu ingin jadi apa?” tanyamu tiba-tiba, sambil menyambar marlboro kretek terakhirku. Asapmu membentuk wajah Nietzsche yang sedang bersin. “Aku ingin jadi glitch di algoritma Instagram,” jawabku. “Lalu menghapus semua kisah palsu tentang kebahagiaan.” Kau tertawa, suaramu pecah seperti kaset The Beatles yang diputar mundur.

Di luar, Magelang sedang dilanda hujan meteorologi—air hujan turun dalam bentuk angka-angka statistik: 47% kecemasan, 32% nostalgia, 21% keringat dingin. Aku menampungnya di ember bocor, lalu menuangkannya ke mesin ketik tua. Hasilnya? Sebuah puisi tentang nausea yang berjudul “Muntahan Bintang”.

Tiba-tiba, kau menjelma jadi algoritma youtube music yang memutar lagu “Blackbird” versi slowed + reverb. Aku menyiapkan benzodiazepine di atas sajadah berlumur debu—tapi tiba-tiba teringat pesanmu: “Beresin kamar, Nif. Biar jiwamu ada ruang bernapas.”

Aku membereskan buku-buku dengan sistem Dewey Decimal ala kadarnya:

  • Filsafat Eksistensialisme di rak “Aku Yang Berkeping-Keping”
  • Norwegian Wood di rak “Luka yang Bisa Disiulkan”
  • Surat cinta—yang tak pernah tersampaikan—di rak “Arsip untuk Tertawa di Hari Tua”

Di sudut kamar, ada kaktus kecil yang aku tanam bertahun-tahun lalu—kini tumbuh menjulur seperti menara Eiffel versi post-apocalyptic. Aku menyiramnya dengan air hujan statistik tadi. “Jadi apa kabarmu?” bisiknya tiba-tiba.

“Aku sedang belajar jadi quantum particle,” jawabku. “Bisa ada di dua tempat sekaligus: antara mencintai hidup dan ingin kabur darinya.”

Kaktus itu mekar tiba-tiba—bunganya berbentuk spiral DNA yang bersenandung “Here Comes the Sun”.

Kau kembali sebagai suara di random play youtube music: “Kapan kau diwisuda?”
Aku menyetel ulang pertanyaan itu jadi lagu “Imagine” versi death metal. Drumnya berdentum seperti detak jantungku yang protes: Wisuda apa? Wisuda dari jadi sandera pikiran sendiri?

Hujan berhenti. Magelang sekarang berbau tanah basah dan kopi tubruk yang dingin. Aku menyalakan marlboro kretek sisa yang tinggal setengah—asapnya membentuk wajah Camus yang sedang tersenyum sinis. “Kau masih hidup?” tanyanya.

“Sementara,” jawabku sambil menulis tulisan ini. “Sampai kata-kata habis atau harga marlboro kretek naik dua kali lipat.”

Kau kembali lagi—seperti notifikasi yang terlambat muncul, menyelip di antara pesan-pesan tak terjawab dan spam promosi pinjaman online. “Ohh iyaa, rokok juga. Kurangi, ya. Susah, tapi harus dicoba gasiii,” Bubble pesanmu  itu muncul di antara mata dan senyum Ryujin . Aku menghisap dalam-dalam marlboro kretek yang terselip di sela-sela bibirku, bara merahnya menyala pelan seperti kunang-kunang insomnia.

Di luar, malam menguap dengan aroma paving basah dan hujan yang tak sampai ke tanah. Aku menghembuskan nafas panjang—bercampur asap, lalu melempar rokok terakhir itu—ia menyala di udara seperti komet kecil, lalu padam di jalanan gang depan kamar. Besok, mungkin aku akan jadi Nakata yang bicara pada burung gagak. Atau tetap jadi Hanif: lelaki 24 tahun yang terjebak dalam kamar 3×3 meter, buku-buku, dan butir-butir pil antidepressan, menulis catatan harian untuk malam-malam yang menolak mati.