Aku terpuruk dalam kegelapan yang tak berujung. Aku merasa gagal sebagai manusia—kegagalan mutlak yang tak mampu kuperbaiki. Setiap hari, aku merasa semakin terjebak dalam gelap, tak tahu lagi harus bagaimana. Goresan-goresan di tangan tak lagi memberi sensasi hidup meski sejenak. Semua terasa kosong dan gelap. Aku tenggelam dalam palung kegagalan. Aku telah hancur ditekan kehidupan.

Aku terlalu malu untuk melanjutkan hidup, namun juga terlalu lemah untuk mengakhirinya. Setiap langkah terasa seperti beban yang menekan, setiap napas hanyalah pengingat betapa hampa dan sia-sianya segalanya. Aku merasa bahwa segala yang pernah kuimpikan kini hancur berkeping-keping, tersapu oleh keputusasaan.

Aku menulis ini di tengah kebingungan yang aneh dan menusuk, aku bahkan tak sanggup lagi menangis. Aku merasa semakin tertelan kehampaan. Aku hanyalah bayangan diriku sendiri, terjebak di antara keinginan untuk menghilang dan ketakutan untuk benar-benar berakhir. Aku gagal dan pengecut.

Aku benci diriku sendiri. Aku harap saat ini aku memiliki sepucuk revolver dan segenggam keberanian untuk meletakkan moncongnya di mulutku, lalu menarik pelatuknya. Satu detik, lalu aku hancur dan menghilang. Seperti sebagaimana seharusnya.