“Kita dapat menggunakan Mortality Salience untuk kampanye parfum ini,” ujar Mas Panji di tengah rapat di Kafe Kalahari. “Aroma adalah kenangan terakhir yang bertahan setelah tubuh rapuh.”
Aku segera mencatat di Notion: Mortality Salience (Greenberg dkk): Kesadaran akan kefanaan → dorongan untuk meninggalkan jejak sensorik.
Mortality Salience sendiri merujuk pada kondisi psikologis ketika seseorang menjadi sadar akan kematian dirinya. Menurut teori yang dikembangkan oleh Greenberg, Solomon, dan Pyszczynski, kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari makna, membangun warisan, dan mempertahankan identitas melalui simbol-simbol budaya, karya, atau kenangan.
Namun malam ini, di bawah langit yang seolah runtuh, semua teori itu terasa rapuh, seperti kelopak mawar kering. Bintang jatuh bukan lagi sekadar metafora; mereka adalah serpihan fosil langit yang berkilau, lebih jujur daripada data survei mana pun.
Di kejauhan, sosok itu tetap berdiri melawan langit yang mengerang. Siluetnya mengingatkanku pada lukisan Monet yang larut dalam badai. Mungkin ini yang dimaksud Heidegger dengan Dasein: eksistensi yang dilemparkan ke dunia tanpa pegangan.
Aku terus melangkah, menembus debu waktu yang mengeras di udara. Kematian malam ini bukan lagi teori, melainkan pasir yang menggesek kerongkongan, haus yang tidak terdefinisikan.
Aku teringat pada puisi Eliot: “These fragments I have shored against my ruins.” Namun fragmen apa yang kumiliki? Hanya percakapan singkat dalam arsip WhatsApp, dan kenangan akan senyummu yang perlahan memudar.
Langkahku terhenti. Sebuah batu, masih menyimpan panas ledakan bintang, menghalangi jalanku. Di permukaannya yang retak, terukir kalimat Rilke: “Who speaks of victory? To endure is everything.” Kata-kata itu terasa seperti luka yang menguatkan.
Aku teringat Beckett dalam The Unnamable: “You must go on. I can’t go on. I’ll go on.”
Sosok itu menoleh. Matanya seperti kawah bulan yang mencerminkan sejarah manusia. Mungkin Unamuno akan tersenyum getir melihat kami: dua makhluk kecil yang diam-diam memperdebatkan antara kefanaan dan keabadian.
Namun malam ini, aku memilih diam. Membiarkan hujan meteor menghapus pertanyaan-pertanyaan itu.
Di atas sana, gugus bintang baru mulai menganyam dirinya dari abu supernova. Aku teringat tulisan Virginia Woolf: bahwa kematian justru membuat dedaunan tampak lebih hijau. Mungkin karena di ambang kehancuran, hidup menjadi lebih jujur.
Aku berjalan lagi. Membawa serpihan malam ini untuk kususun menjadi mozaik kecil dalam jurnal harian. Catatan rapat di Kalahari telah berubah menjadi puisi setengah sadar:
I was born between
a dying sun
and a tired dream.
every breath I take
rips a hole
in the silent fabric of forever.
no gods,
no maps,
only the flicker of a name
I almost forgot
to love.
someday,
the sky will swallow itself —
and maybe,
maybe,
I’ll finally feel at home.