Haihai…, tidak terasa lama sekali aku bolos menulis jurnal. Padahal harusnya ini jadi jurnal harian. Tapi yasudahlah, kadang hidup memang lebih sering dijalani daripada diceritakan. Sedikit life update, it getting worse, gak ding wkwkwk, bercanda. Slowly but sure aku mulai berprogress.
Akhirnya setelah sekian purnama, beberapa hari yang lalu aku sidang skripsi (yay!) Meski tanpa persiapan dan cuma yapping non sense di hadapan dewan penguji, beliau-beliau berkeputusan meluluskanku walau dengan catatan. Sepertinya para dosen juga sudah bosan dan lelah dengaku (Maaf bapak-bapak, mahasiswamu ini memang sejujurnya sudah kehilangan passion di jurusan pendidikan).
Anyway, barusan aku nonton video youtube yang ngebahas tentang atom—tentang asal mula segalanya. Dimulai dari hipotesis sederhana: everything is made of atoms. Tapi dari situ, pikiranku langsung melompat jauh. Ada rasa kecil, sekaligus besar, dalam satu tarikan napas.
Katanya, dulu sekali, di era ketika waktu belum jadi konsep yang kita pahami sekarang, semesta masih berupa pesta partikel liar. Cahaya bergerak sebagai materi, quark-quark berkeliaran seperti anak TK yang hiperaktif. Lalu, strong nuclear force—semacam lem kosmik—membuat proton dan neutron saling berpelukan erat. Bayangkan: 20 menit setelah Big Bang, mereka sudah sibuk merajut inti hidrogen dan helium. But not for elektron, Mereka harus menunggu 380.000 tahun lagi baru mau settle down dan membentuk atom utuh.
Lucu, ya? Dunia hanya butuh ratusan atau ribuan tahun untuk manusia menciptakan filosofi, sementara alam semesta menghabiskan ratusan ribu tahun hanya untuk menyusun satu partikel dasar. Sabar banget, ya? Dari kesabaran itulah lahir samudra, pepohonan, aku dan kamu.
Yang bikin existential crisis: video itu menyebut bahwa Big Bang mungkin bukan satu-satunya. Bisa jadi ada banyak “dentuman” lain—bang, bang, bang!—tapi hanya satu yang parameternya “pas”: suhunya nggak gosongin atom, gravitasinya nggak remukin semesta. Dan di semesta yang “pas” itulah atom-atom ribet tadi akhirnya menyusun diri menjadi mata yang bisa melihat bintang, otak yang bisa merasa bingung, mulut (atau jari jemari) yang bisa misuh, aku yang selalu terbayang senyum kecilmu, dan kamu yang entah di mana serta bagaimana kabarnya…
Kalau semesta ini puisi raksasa, mungkin aku cuma koma kecil di antara miliaran titik dan huruf. Tapi koma ini sedang duduk di kamar, menatap langit-langit, dan bertanya-tanya. Kadang aku berpikir: “Apa kita cuma debu yang kebetulan bisa merasa?” kayak pertanyaan Nietzsche. Tapi malam ini, debu-debu itu lagi duduk manis di kamar, mengetik jurnal harian, sambil ingat kata-kata Carl Sagan “We are a way for the cosmos to know itself.”