Aku duduk di beranda kantor lamaku, di tepi jalan magelang-purworejo. Angin dari kendaraan lalu lalang menampar wajah. Putih, lagu itu berputar lagi di telingaku. Liriknya menggali kubur-kubur kecil di kepala. “Saat kematian datang, aku berbaring dalam mobil ambulans…” Suara khas Cholil mengiris sunyi pikiranku. Aku membayangkan diri sendiri terbujur di dalam logam dingin itu, mendengar bisik-bisik biaya pemakaman, sirene yang berlarian seperti roh gentayangan. Membuka jalan menuju Tuhan. Tapi, Tuhan mana? Tuhan yang mana?
Hidup ini selalu seperti labirin yang dindingnya terbuat dari pertanyaan. Kafka mungkin akan tertawa melihatku terjebak di sini, mencoba merangkai makna dari debu-debu kehampaan. Aku selalu ingat tulisan Camus: “Absurditas lahir dari konfrontasi antara panggilan manusia dan kesunyian dunia yang tak masuk akal.” Tapi hari ini, absurditas itu terasa lebih berat. Seperti batu yang dijinjing Sisyphus, tapi batu ini adalah tubuhku sendiri.
Lagu itu terus mengalir. “Akhirnya aku usai juga.” Kata-kata itu menusuk. “Usai”. Apakah kematian adalah akhir, atau justru awal dari sesuatu yang lebih panjang? Chairil Anwar pernah menulis: “Nasib adalah kesunyian masing-masing.” Mungkin benar. Kita semua akhirnya akan sendiri, terbaring di keranda, dikelilingi doa-doa yang bertaburan seperti daun kering. Tapi di tepi jalan ini, riuh suara anak-anak kantor masih terdengar. Kehangatan yang palsu, atau justru bukti bahwa kita pernah ada?
Aku menutup mata. Bayangan kamar kosong, tahlilan, tangis yang tersedu-sedu. Dalam lagu itu, kematian adalah “kesempurnaan“. Tapi aku ragu. Kematian mungkin hanya pintu lain menuju labirin baru. Atau barangkali, seperti kata Wiji Thukul: “Disebar biji-biji, disemai menjadi api.” Kita mati, lalu hidup kembali dalam ingatan, dalam debu yang tertiup angin, dalam air mata bayi yang baru lahir.
Tapi saat ini, aku masih di sini. Menatap kendaraan-kendaraan yang lewat tanpa permisi, merasakan asap marlboro kretek menggerogoti paru-paruku. Aku ingin kembali menulis puisi, tapi kata-kata kelu. Apakah ini efek dari lagu itu? Atau justru ketakutan akan “keterusterangan“? Aku takut jujur pada diri sendiri. Takut mengakui bahwa mungkin aku sudah setengah mati, terjebak di persimpangan antara nalar dan iman, antara gelap dan benderang.
Yang pasti kematian, awal kekekalan.
"Karena kematian untuk kehidupan. Tanpa kematian, lalu pecah tangis bayi."
~ Efek Rumah Kaca, "Putih"