Aku tertidur habis isya’ tadi dan terbangun dini hari. Masih hidup. Masih di sini. Kadang bangun dari tidur seperti ini membuatku merasa seolah-olah kembali dari sesuatu.
Entah dari mana, entah menuju apa.
Dan seperti biasa, malam punya cara sendiri untuk membangkitkan pikiran yang tidak ingin kupikirkan.
Aku teringat kutipan Soe Hok Gie di buku hariannya:
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”
Ada hari-hari di mana aku merasa bisa menerima hidup apa adanya. Tapi ada juga hari-hari seperti malam ini, di mana kutipan itu terdengar terlalu akrab.
Aku merasa masih cukup muda untuk mati. Tapi juga merasa terlalu tua untuk menjadikan kematianku sebagai “nasib baik”.
Sialnya, aku masih ada di tengah-tengah.
Tidak muda, tidak tua. Tidak semangat, tidak putus asa. Tidak ingin mati, tapi juga tidak terlalu ingin hidup.
Aku tahu aku akan mati, tentu saja. Semua orang akan.
Tapi yang membuatku gelisah bukan matinya, melainkan sesudahnya.
Berapa banyak yang akan menangisi kematianku?
Berapa lama mereka akan berkabung sebelum akhirnya lupa?
Aku tidak ingin jadi cerita yang terlalu lama dikenang.
Karena aku tahu, kenangan itu berat. Bukan untuk yang mati, tapi untuk yang masih hidup.
Dan aku tidak ingin jadi beban dalam bentuk apa pun—bahkan dalam bentuk rindu.
Mati tanpa tangis mungkin terdengar menyedihkan.
Tapi bagiku, justru itu bentuk keikhlasan paling murni.
Tak ada yang memaksa diri untuk mengingat. Tak ada air mata yang jatuh karena keberadaanku.
Sunyi. Selesai. Tenang.
Orang bilang ingin dikenang sebagai seseorang yang baik, yang bermakna, yang tak terlupakan.
Tapi aku? Aku ingin pergi seperti hujan kecil yang jatuh diam-diam di tengah malam, dan saat pagi datang, tak ada yang benar-benar ingat kapan persisnya ia berhenti.
Bukan karena aku tak peduli.
Tapi karena aku tahu hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan luka yang ditinggalkan oleh kepergian.
Dan kalau aku bisa memilih cara untuk mati, maka biarlah aku pergi tanpa membuat siapa pun patah.
Tak perlu tugu. Tak perlu puisi. Tak perlu apa-apa.
Cukup bisik pelan di dalam hati:
“Dia pernah ada.”
Lalu lanjutkan hidup seperti biasa.