(sebuah catatan setelah membaca Viktor Frankl dan mengobrol dengan kekosongan)
Beberapa buku tidak menawarkan jawaban. Mereka hanya duduk diam di samping kita, mengangguk pelan saat kita mulai bicara tentang luka. Man’s Search for Meaning adalah salah satu dari sedikit yang begitu.
Viktor Frankl tidak menulis untuk membuat hidup terasa lebih ringan. Ia hanya menunjukkan bahwa sekalipun kita tidak bisa memilih nasib, kita masih bisa memilih bagaimana bersikap terhadapnya. Di tengah kamp konsentrasi, di mana kematian berdiri lebih dekat daripada pintu keluar, ia menuliskan satu hal yang tak bisa direnggut: kebebasan batin.
Bukan kebebasan dalam arti besar, filosofis, atau revolusioner. Tapi kebebasan kecil yang pelan-pelan menyelamatkan:
Kebebasan untuk bangun dari lantai dingin dan tetap berjalan.
Kebebasan untuk tidak membenci.
Kebebasan untuk tidak mencuri roti orang lain, meski kau sendiri hampir mati kelaparan.
Sunyi bukan sekadar ketiadaan suara. Kadang justru di situlah semua pertanyaan berkumpul. Dan tidak semua pertanyaan ingin dijawab. Beberapa hanya ingin didengarkan.
“Mengapa aku masih di sini?”
“Untuk siapa aku bertahan?”
“Adakah sesuatu yang benar-benar penting?”
Frankl tidak menawarkan solusi. Ia hanya menyarankan satu hal: jika hidup bertanya padamu, jangan balas dengan kemarahan, tapi dengan hidup itu sendiri. Meskipun hidup itu retak, timpang, atau absurd. Meskipun kamu tidak tahu kenapa.
Aku tidak sedang di Auschwitz. Aku tidak lapar, tidak disiksa, tidak kehilangan seluruh keluargaku. Tapi di malam-malam tertentu, saat sunyi datang seperti pintu yang lupa dikunci, aku tahu rasanya duduk sendirian dengan kekosongan. Dan pada saat-saat itulah kata-kata Frankl seperti lilin kecil di pojok ruangan:
“Hidup itu seperti pertanyaan. Dan kita harus menjawabnya dengan kehidupan kita sendiri.”
Mungkin aku belum menemukan jawabannya. Tapi aku sedang mencoba menjawab—dengan cara hidup yang jujur, dengan ketidaksempurnaan yang tidak kututupi, dengan luka yang tidak selalu ingin kuobati.
Aku belajar bahwa makna bukan sesuatu yang bisa dicari seperti kita mencari kunci yang hilang. Ia bukan benda. Ia lebih seperti keheningan yang kita peluk ketika tidak ada yang lain yang tersisa. Seperti tatapan orang yang mencintaimu diam-diam, tanpa pernah mengaku. Seperti cara tubuhmu tetap bernapas, bahkan saat kamu tidak lagi ingin hidup.
Sebagian dari kita akan menghabiskan hidup mencoba memahami hal-hal yang tidak bisa dipahami. Dan itu tidak apa-apa. Sebab mungkin yang paling manusiawi bukanlah tahu, tapi bertanya. Dan terus bertanya, meskipun tak pernah ada jawaban.
Jika sunyi adalah rumah, maka mungkin makna adalah jendela yang kadang terbuka.
Jika hidup adalah teka-teki, maka mungkin yang penting bukan menyusunnya, tapi tetap duduk di lantai, mencocokkan potongan yang bahkan tidak pasti ada.
Aku tidak tahu apakah semuanya akan baik-baik saja. Tapi hari ini, aku masih di sini.
Dan mungkin, itu pun bisa disebut makna.