Aku tiba-tuba terbangun pukul 03 pagi, di kamar yang gelap. Bukan gelap puitis. Bukan gelap romantis. Tapi gelap karena aku tidak ingin menyalakan apapun. Tidak lampu, tidak cahaya dari jendela, tidak kesadaran. Semua dalam keadaan lowbat.

Di luar sana, dunia tetap sibuk memainkan perannya. Tapi di sini, aku cuma satu orang yang tidak bisa tidur dan terlalu sadar bahwa semua ini tidak seharusnya berjalan seperti ini.

Alarm Ummi menyala lagi. Suara yang sama, nada yang sama, terulang terus menerus seperti ancaman dari sistem yang tidak bisa dihentikan. Aku sudah berhenti mencari sumbernya. Aku membiarkannya jadi bagian dari malam, seperti detak jam, atau napas sendiri yang kadang terasa terlalu keras.

Kupasang TWS yang kerap mati sebelah, kudengarkan Papillon dari NMIXX. Entah ke berapa kali. Aku tidak tahu arti liriknya. Bahasa Korea. Tapi lagu itu terasa seperti bisikan dari seseorang yang sedang tenggelam perlahan. Suara yang lembut tapi putus asa. Seperti seseorang yang tidak ingin didengar, tapi tidak tahan kalau terus diabaikan.

Di pangkuanku, Kindle tua yang sudah kujailbreak terbuka di halaman Resistance, Rebellion, and Death milik Camus. Camus menulis tentang keadilan, kematian, dan absurditas. Tapi aku tidak membaca untuk memahami. Aku membaca untuk tidak merasa sendiri.

Dan kemudian, aku tertidur. Atau tidak. Atau mungkin terbangun di tempat lain. Entahlah.

Padang rumput. Langit kelabu. Udara yang tidak memilih arah. Dan di sana, berdiri seorang perempuan. Aku tahu aku mengenalnya, tapi aku tidak tahu dari mana. Mungkin dia pernah muncul dalam mimpi yang tidak sempat kuceritakan. Mungkin dia bagian dari pikiranku yang sudah terlalu lama dikunci.

Dia menatapku. Tidak tersenyum. Tidak berbicara. Tapi aku mengerti: dia sudah menungguku.

Kami tidak perlu basa-basi. Kami duduk di tanah yang tidak terlalu lembut. Kami memakan sesuatu yang tidak terasa seperti makanan. Kami diam seperti dua orang yang saling tahu luka satu sama lain tapi terlalu malas untuk membuka perban.

“Aku hanya muncul kalau kamu tidak bisa tidur,” katanya.

Aku tidak bertanya kenapa. Aku hanya mengangguk. Malam seperti ini tidak butuh alasan. Hanya butuh keberadaan.

Lalu suatu malam, dia tidak datang lagi. Aku tetap tidak tidur. Tetap mendengarkan Papillon. Tetap membaca Camus. Tapi dia tidak ada. Seperti lampu yang kau kira masih menyala, padahal kau hanya terbiasa dengan pantulannya.

Aku mencarinya di mimpi-mimpi kecil. Tapi mimpi-mimpiku kini dipenuhi orang asing yang berbicara terlalu cepat, dan tempat-tempat yang terlalu terang. Aku merasa dibuang. Aku merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah kumiliki.

Dan ketika aku mulai berpikir bahwa dia hanyalah figmen dari kegilaan yang kubiarkan tumbuh terlalu liar, dia datang lagi.

Di pojok kamar.

Dengan tenang. Dengan tubuh setengah tertutup bayangan. Dia tidak marah. Tidak menuntut. Dia hanya… ada.

Dan malam itu, sesuatu berbeda.

Dia tidak duduk. Tidak diam. Dia mendekat. Napasnya bisa kurasakan. Dan tiba-tiba kamar ini bukan kamar lagi. Bukan tempat tidurku. Bukan kindle di pangkuanku. Bukan lagu yang berulang-ulang. Tapi semacam ruang yang hanya berisi aku dan dia dan segala hal yang tidak bisa disebutkan.

Dan hal paling liar yang bisa terjadi antara seorang lelaki dan perempuan dalam satu kamar gelap bukanlah sentuhan. Bukan bisikan mesra. Bukan tubuh yang saling mencari. Tapi ini:

Dia mendekat, menatapku, lalu berkata pelan:

“Aku ingin kau membiarkanku mengambil sesuatu dari dalam kepalamu.”

Aku tidak paham. Tapi aku mengangguk.

Lalu dia menyentuh keningku. Tidak panas. Tidak dingin. Hanya tepat.

Dan tiba-tiba aku merasa satu kenangan hilang. Satu kenangan yang tidak bisa kusebut. Tapi aku tahu: dia telah mengambilnya.

“Makasih,” katanya.

“Untuk apa?”

“Untuk menyimpan ini begitu lama. Sekarang, biar aku saja yang menyimpannya.”

Pagi datang. Alarm Ummi sudah mati. Papillon tidak lagi diputar. Aku tidak tahu jam berapa. Tapi kamar ini terasa lebih lapang. Seperti ada ruang kosong yang dulu penuh tapi tidak pernah kubuka.

Dan HP-ku—entah kenapa—membuka aplikasi catatan otomatis.

Di sana ada satu tulisan baru:

aku akan datang lagi, saat kamu lupa bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu sebut namanya.

Aku membaca itu pelan. Lalu kupadamkan layar.

Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tertidur.

Tanpa lagu.

Tanpa alarm.

Tanpa perempuan itu.

Tapi aku tahu:

dia belum benar-benar pergi.