20250828 | Di(e)sconnected

Hari ini Wifi(tembakan) rumahku tidak berfungsi. Aku lupa menyalakan data seluler ketika membuka smartphone. Dalam momen itu, entah mengapa aku merasa ada yang “aneh”. Aku bingung. Smartphone di tanganku mendadak terasa sangat biasa. Aku juga baru sadar, dari seratusan aplikasi yang terpasang, hanya kamera dan catatan yang bisa dipakai dengan normal. Sisanya tidak berguna, hanya logo-logo tanpa fungsi.

Lucu ya, betapa cepat benda yang katanya “serba bisa” kehilangan maknanya. Tanpa koneksi, ia hanya kamera dan notes. Itu saja. Bahkan tidak lebih fungsional dari Sony Ericsson keluaran lima belas tahun lalu. Setidaknya, dulu aku bisa memutar musik tanpa khawatir soal kuota. Sekarang, tanpa internet, smartphone ini bahkan tidak bisa memutar musik.

Sore tadi Irfan(temanku) sempat bertanya perihal buku Max Stirner terjemahan Indonesia. Pertanyaan yang akhirnya membuatku membuka lagi The Ego and Its Own-nya Max Stirner menggantikan rutinitas menonton video asmr di YouTube malam ini. Membaca ulang Stirner disaat tidak terkoneksi dengan internet ternyata memberi pengalaman yang berbeda.

Stirner bicara tentang ego, tentang “Aku” yang nyata. Segala hal lain, katanya, hanyalah “hantu” yang kita beri kuasa: negara, agama, moral, masyarakat. Kalau dipikir-pikir, barangkali internet juga bisa masuk ke daftar itu. Sesuatu yang seolah absolut, tapi sebenarnya rapuh.

Malam ini, Tanpa internet, aku dipaksa berhadapan dengan diriku sendiri. Bukan aku yang sibuk mengecek pesan, bukan aku yang tenggelam dalam scroll tanpa henti, tapi aku yang duduk diam, membaca, menulis.

Ah, Mungkin benar, internet hanyalah hantu yang aku biarkan terlalu berkuasa. Ketika pada akhirnya kekuasaan itu kembali, “Aku” yang nyata telah kehilangan ke-Aku-anku.