Aku terbangun sebelum alarm, seperti dipanggil oleh sesuatu yang tidak punya suara. Bukan mimpi buruk yang membangunkan, tapi justru ketiadaan mimpi. Kekosongan yang menarikku dari tidur seperti lubang hitam. Kamar terasa seperti kotak sepatu yang ditutup rapat, udaranya pengap oleh napas semalam yang tak menemukan jalan keluar.
Di luar jendela, langit menggantung seperti layar yang lupa menyala. Aku menunggu notifikasi, padahal ponselku sudah lama tidak terhubung ke mana-mana. Sebuah pemutusan hubungan yang sengaja, namun kini terasa seperti amputasi. Aku merindukan dengung artifisial itu, ilusi bahwa aku adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Kopi menetes pelan. Kelebihan pahitnya mengingatkanku pada malam yang tidak selesai. Aku minum juga, karena itulah yang dilakukan orang hidup. Ritual pagi. Rangkaian gerak otomatis yang dirancang untuk meyakinkan diri bahwa hari ini nyata dan aku adalah partisipan yang sah di dalamnya.
Di jalan, aku melihat seekor kucing menatapku seolah aku hutang jawaban. Matanya kuning, tenang, purba. Ia tahu sesuatu tentangku yang tidak semestinya kuketahui. Ia melihat retakan-retakan kecil di topeng yang kupakai, topeng yang bahkan aku sendiri lupa sedang kupakai.
Aku mencoba menyapa, tapi suaraku tersangkut di tenggorokan. Kucing itu beranjak, anggun, meninggalkan bau hujan yang tidak turun.
Di halte, bus datang tanpa rute. Supirnya berkata, “Ke mana pun, asal naik.” Sebuah tawaran kebebasan yang paling mengerikan. Aku berdiri di tangga dan memutuskan tidak jadi. Tidak semua perjalanan perlu dilakukan. Aku memilih diam di halte, sebuah keputusan yang terasa lebih jujur. Kadang, tidak bergerak adalah satu-satunya gerakan yang punya arti.
Kantor seperti labirin yang menyamar jadi gedung biasa. Lift memintaku memilih lantai, tapi opsi yang muncul hanya “Atas” dan “Bawah”. Aku menolak dikotomi sederhana itu. Aku pilih “Tengah”, tombol yang tidak ada.
Pintunya menutup, dan aku bergerak ke tempat yang tidak ada pada denah. Bel notifikasi lift terdengar seperti detak jantung yang pura-pura.
Saat pintu terbuka, lorongnya sunyi. Tak ada papan nama, hanya jam dinding yang menunjuk angka tiga belas. Aku duduk di lantai, menghitung napas, mencoba mengingat kapan terakhir kali aku merasa berada di tempat yang tepat.
Di tengah lorong ada meja resepsionis tanpa resepsionis. Di atasnya ada sebuah map bertuliskan namaku. Aku membukanya, menemukan surat keputusan dari lembaga yang belum pernah kudengar.
Keputusannya sederhana: “Anda telah gagal menjadi Anda.” Ditandatangani, “Majelis Hantu-Hantu Berguna”. Capnya rapi, resmi, membuatku hampir percaya. Aku membalik map itu, mencari lampiran, prosedur banding, atau setidaknya definisi operasional dari ‘Anda’. Tak ada. Kegagalan ini, rupanya, bersifat final dan tidak memerlukan penjelasan.
Aku ingin protes, tapi kepada siapa? Aku menulis: “Keputusan diterima sementara.” Karena hidup sering berlangsung seperti itu, ditunda dan dijalankan bersamaan.
Dalam perjalanan kembali, lift mogok. Lampu meredup. Aku mendengar langkah di atasku, padahal tidak ada lantai di atas. Mungkin hanya ingatan yang turun.
Di dalam gelap, aku bertemu aku yang lain. Ia berdiri menyandar pada dinding yang bukan dinding, menatapku seperti cermin yang tidak sopan.
“Kau masih percaya pada alasan?” tanyanya. Aku menjawab, “Aku percaya pada kebiasaan.” Kami tertawa pendek. Kebiasaan adalah alasan yang sudah lelah menjelaskan dirinya sendiri.
Lift bergerak lagi, membawaku ke lobi. Keluar, kota terasa seperti novel yang ditinggalkan pembacanya di halaman lima puluh lalu dilupakan. Bangunan-bangunan berdiri seperti kalimat yang tak selesai.
Aku menyusuri trotoar. Lampu-lampu toko berkedip seperti kode yang tidak kumengerti. Di sebuah gang, ada poster konser untuk band yang sudah bubar bertahun-tahun. Waktu di kota ini berjalan melingkar.
Aku duduk di bangku taman. Seorang lelaki tua memberi makan burung-burung imajiner. “Mereka datang kalau kau percaya,” katanya sambil menabur remah yang tak terlihat. Aku mencoba percaya, memicingkan mata, berharap melihat kepak sayap transparan di udara. Tapi yang kulihat hanya kekosongan yang sama, kekosongan yang ditaburi remah-remah ketiadaan oleh seorang nabi kecil yang kesepian.
Aku menatap tanganku. Ada garis yang selalu kuabaikan, seperti jalan pintas menuju sesuatu yang merusak. Kutarik napas, tidak ada perubahan. Oksigen terasa seperti pinjaman.
Kepalaku penuh rencana yang tak jadi. Kertas-kertas to-do list menempel di dinding kamar, berdebu. Aku membayangkan kebun yang tumbuh dari janji yang tak ditepati.
Telepon berdering di kepalaku. Nomor tak dikenal. Aku angkat tanpa bicara. Di seberang, sunyi yang berniat menjawab. Kami saling mendengarkan sampai terputus.
Malam turun seperti tirai yang terlalu berat. Aku berjalan pulang melewati deret jendela yang menyala samar. Di satu jendela, seseorang sedang berdansa sendirian. Ia tidak butuh penonton, tidak butuh panggung. Ruang tamunya adalah semesta. Aku? Aku bahkan butuh izin untuk bernapas di trotoar milik kota. Aku iri pada kebebasannya, atau mungkin hanya pada gerakannya yang tanpa beban. Aku berjalan lebih cepat, seperti ingin mengejar musik yang tidak kudengar.
Di depan pintu rumah, aku ragu mengetuk. Padahal kuncinya ada padaku. Keraguan adalah kebiasaan lain yang menolak pensiun.
Kamar menyambutku dengan udara yang tidak berubah. Aku menyalakan lampu, menyalakan ponsel, menyalakan harapan, lalu mematikan semuanya satu-satu.
Kukeluarkan buku dari tas, bukan yang ingin kumengerti, tapi yang mau menanggung bebanku. Kubuka acak, kalimat pertama bicara tentang orang yang tidak lagi menunggu alasan untuk merasa bersalah.
Aku tertawa pelan. Rasa bersalah kadang datang seperti kurir yang tahu alamat lengkapmu, termasuk catatan pagar dan warna pot bunga di teras.
Di dapur, kulihat bayanganku di jendela. Ia terlihat lebih lelah dariku. Aku mengangkat gelas untuk bersulang. “Untuk hari yang tidak paham tujuan.”
Air mengalir dari keran, suaranya seperti radio yang mencari frekuensi. Aku berharap ada siaran yang mengaku mengenalku.
Aku kembali ke meja, menulis satu kalimat: “Besok aku akan mencari matahari.” Lalu kuhapus. Kalimat itu terdengar sombong. Matahari tidak perlu dicari, ia datang juga, entah kau siap atau tidak.
Kucing yang tadi di jalan kini muncul di ambang jendela. Entah bagaimana caranya. Ia melompat masuk, duduk di ujung meja, dan menutup matanya seakan ingin mencontohkan cara beristirahat yang benar.
Aku bertanya, “Apakah aku harus bertahan?” Kucing itu membuka mata sejenak, menatapku tanpa penghakiman, lalu kembali memejam. Jawaban paling jujur hari ini. Ia tidak menawarkan solusi, ia hanya meminjamkan kehadirannya. Dalam diamnya, ada penerimaan yang lebih utuh dari semua kata-kata penyemangat yang kutemukan di buku-buku pengembangan diri.
Di bawah lampu, telapak tanganku berdebar seperti kota kecil. Aku merasa muak dan rindu pada hal yang sama: kemungkinan.
Kuketik kata-kata di ponsel yang tidak terkoneksi. Draft yang tidak akan terkirim ke mana-mana. Rasanya menenangkan. Seperti berdoa pada dinding, tanpa menunggu gema.
Aku mematikan lampu. Kegelapan tidak ramah, tapi juga tidak jahat. Ia hanya ada. Aku berbaring, menatap langit-langit, menunggu sesuatu yang tidak punya niat.
Sebelum terlelap, aku membayangkan ada pintu di dalam kepalaku. Di baliknya, bukan kebebasan atau penjara, hanya ruangan kosong yang bersih.
Di ruangan itu, aku duduk di kursi kayu. Tidak ada cermin, tidak ada jam. Hanya aku yang tidak perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun.
Dan ketika aku bangun (kalau aku bangun) aku ingin mengingat satu hal: kegelisahan bukan musuh, ia sekadar bukti bahwa aku masih mencoba berdamai dengan hari-hari yang belum mengenalku.