20260215 | Everybody is a Total Mess (And That’s Okay)

03.24. Angka itu lagi. Entah sudah malam keberapa aku dan sepi beradu pandang dalam seminggu ini. Aku masih terjaga, membiarkan asap rokok menari pelan di udara kamar yang dingin, sementara jempolku setia menggulir layar tanpa tujuan. Doomscrolling.

Algoritma YouTube (entah karena memang jenius atau aku yang terlalu murah hati membagikan data privasi) tiba-tiba menyodorkan satu judul yang agak lebay tapi magnetis: “Everybody is a total mess (and you should be one too)”.

Klik.

Niat hati hanya ingin mencari kantuk, tapi otakku yang sialan ini malah menarik benang merah. Video itu seolah menjadi soundtrack visual bagi buku yang baru saja kubaca akhir-akhir ini : Lost Connections-nya Johann Hari.

Di sana, di halaman-halaman yang penuh gugatan itu, Hari bilang kita selama ini dibohongi. Dokter, iklan obat, bahkan negara, mereka kompak menyuapi kita narasi tunggal: bahwa depresi dan kecemasan adalah sirkuit yang konslet di otak. Chemical imbalance. Serotonin rendah. Solusinya? Fluoxetine, Sertraline, dan banyak lagi.

Tapi buktinya? Nihil. Profesor Irving Kirsch dari Harvard sudah menelanjangi fakta itu. Efek antidepresan itu 80 persen hanyalah plasebo. Sisanya adalah oleh-oleh bernama efek sampin: berat badan naik, libido yang mati suri, dan keringat yang mengucur deras (sebuah fenomena memalukan yang kualami sendiri). Sementara efeknya ke depresi itu sendiri? Almost nothing.

Bahkan penelitian Star-D Trial menampar kita dengan realitas yang lebih pahit: dua pertiga orang yang menelan antidepresan akan kembali jatuh ke lubang hitam yang sama dalam setahun. Aku mengangguk pelan. Aku bagian dari statistik itu.

Lalu suara dari video YouTube itu masuk ke telinga. Katanya, di balik kartu ucapan ulang tahun yang manis dan senyum sopan “kind regards” di email, sejatinya everybody is a total mess. Kita tak lebih dari sekumpulan parasit yang hidupnya berantakan. Rata-rata umur kita cuma 26.000 hari, dan hari ini, mungkin ada 300.000 orang yang sedang mengalami hari terburuk dalam hidup mereka.

Anehnya, statistik menyedihkan itu justru terasa menenangkan. I’m not the only one who failed.

Johann Hari memberiku kacamata baru. Katanya, angka-angka itu bukan sekadar data, tapi bukti bahwa depresi adalah respons yang masuk akal terhadap kehidupan yang memang tidak masuk akal. Sebuah reaksi wajar tubuh dan jiwa terhadap dunia yang memberi terlalu banyak tekanan, serta omong kosong.

Video itu bercerita tentang Tchaikovsky yang merasa hidupnya sampah, Kafka yang ingin karyanya dibakar karena merasa dirinya bodoh, sampai Abraham Lincoln yang bilang jika penderitaannya dibagi rata, tak akan ada satu pun wajah ceria di muka bumi. Bayangkan. Bahkan orang-orang hebat pun punya lubang hitam emosional yang rasanya seperti ditembak tepat di dada.

Jadi, kalau malam ini aku merasa I feel like I’m coming apart, mungkin aku berada di kehidupan yang tepat.

Ingatanku melayang ke bagian buku tentang George Brown dan Tirril Harris di London tahun 70-an. Mereka menemukan pola pada ratusan perempuan depresi: hampir 70 persen dari mereka mengalami hantaman hidup yang berat setahun sebelumnya. Masalahnya bukan di kepala mereka. Masalahnya ada di hidup mereka. Kehilangan. Penolakan. Penghinaan. Perangkap.

Sejarah manusia itu isinya cuma “A mysterious zoo of bullshit”. Roma terbakar, wabah hitam, perang dunia. Dan setiap kali dunia rasanya mau kiamat, kita malah melahirkan Stoisisme, Humanisme, atau aspirin. Kita babak belur, tapi kita tetap berjalan.

Kita dirancang untuk bertahan, tapi kita lupa satu hal krusial: manusia dirancang untuk terhubung. Kita butuh suku. Kita butuh rasa aman. Kita butuh kerjaan yang punya makna. Dan semua itu sekarang hilang, diganti hiruk-pikuk konsumerisme dan tuntutan sukses instan.

Bagian yang paling menohok dari semua ini adalah analogi tentang Gua.

Kita semua pernah, atau sedang, terjebak di gua keputusasaan itu. Berputar-putar mencari jalan keluar, tangan berdarah-darah mencoba menggali, sementara orang-orang di luar sana terdengar sedang bersenang-senang di pantai. Sendirian. Kesepian.

Peneliti John Cacioppo bilang kesepian itu men-trigger respons stres yang sama seperti dipukul orang. Tubuh bereaksi, kortisol melonjak, kita jadi was-was curiga. Lingkaran setan yang sempurna.

Tapi, coba bayangkan kita kembali ke gua itu dengan membawa senter. Sorotkan ke dindingnya. Kita akan sadar satu hal: Dinding gua itu penuh dengan ukiran nama.

Jutaan tanda tangan dari orang-orang yang pernah hancur di sana sebelum kita. Kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam penderitaan ini. Justru It would be weird not to be a mess.

Mungkin benar kata narator di video itu. Kita butuh istilah baru: Anumo. Perasaan aneh saat kita tiba di masa depan (hari ini), dan berharap bisa memberi tahu diri kita di masa lalu bahwa “hei, semuanya akan baik-baik saja”.

Meskipun, ya, orang yang depresi berat biasanya kehilangan kemampuan membayangkan masa depan, seperti kata Michael Chandler. Masa depan itu gelap, mati suri. Tapi setiap ukiran nama di dinding gua itu adalah bukti: orang lain berhasil keluar. Mereka hidup. Mereka punya masa depan.

Artinya, kita juga bisa.

Nggak apa-apa.

Nggak apa-apa jika sekarang merasa hancur. The world belongs to those who let go. Besok (atau nanti pagi?), kita akan keluar dari gua ini lagi. Babak belur, mungkin. Tapi hidup.