Hai,
Sudah lama aku tidak mengunjungimu. Sejujurnya, selama ini aku mencoba betul menjauh darimu. Menahan diri untuk tidak menumpahkan semuanya, meski lewat kata.
Aku mencoba mencukupkan diri dengan antidepresan, kerja, dan mengerjakan apapun yang ada. Aku mencoba menikmati hidup repetitif. Berulang-berulang-berulang. Lagipula, katanya beginilah mayoritas manusia hidup.
Ah, ternyata tidak mudah. Aku tetap mencorat-coret dinding. Sebuah pelarian yang (kupikir) lebih baik daripada mencorat-coret pergelangan tangan. Bising dan Riuh pikiran ternyata memang harus dikeluarkan. Layaknya Albus Dumbledore dengan pensieve-nya;
Hari-hari lalu aku mencoba pelarian lain. Berkumpul bersama teman, mencoba bercetita. Tapi tidak bisa. Sistem komunikasiku mendadak gagu. Aku hanya bisa mengeluarkan lelucon untuk memancing tawa. Seolah setiap perkumpulan adalah ajang penghiburan.
Pada akhirnya aku kembali lagi di sini. Menyerah pada pikiran sendiri, dan menggoreskannya pada apapun. Membiarkan tulisan-tulisan menangkap semua yang berloncatan di kepala. Membiarkan sendiri pikiran bercerita.
Jadi
Berapa lama aku sanggup tidak menulis? Berapa lama aku sanggup
Berapa lama aku