Dua temanmu bertengkar di layar kaca
siapa yang lebih berat, siapa yang lebih benar.
Si lelaki mengeluh tentang tuntutan uang,
si wanita membalas dengan tuntutan yang sama.
Mereka beradu derita,
Lucu.
Mereka tidak bertengkar tentang kebebasan.
Mereka bertengkar tentang siapa yang lebih pantas menjadi budak.
—
Lalu kau bertanya:
“Siapa yang menuntut?”
Tidak ada.
Tidak ada yang menuntutmu menghasilkan uang.
Tidak ada yang menuntutmu menjadi suami yang baik,
atau istri yang mandiri,
atau anak yang berbakti,
atau manusia yang berguna.
—
Tapi lalu kau bertanya lagi, dengan gemetar:
“Lalu apa yang kita cari? Apa yang ingin kita capai?”
Aku tertawa.
Kau bertanya “apa yang kita cari”
seolah-olah ada sesuatu di luar sana
yang layak dicari.
Tidak ada.
Kau mencari sesuatu yang tidak pernah hilang,
karena kau tidak pernah memilikinya.
Kau mengejar tujuan yang ditulis oleh hantu-hantu,
lalu kau heran mengapa kakimu lelah.
—
Apa yang kita lakukan?
Kita sedang bermain peran.
Mengenakan topeng yang diwariskan:
“Pria pencari nafkah,”
“Wanita pengurus rumah,”
“Anak yang sukses,”
“Manusia yang produktif.”
Lalu kita mati.
Dan topeng-topeng itu tetap ada
dipakai oleh orang lain
yang juga tidak tahu mengapa mereka memakainya.
—
Lalu apa yang ingin kita capai?
Tidak ada.
Kau tidak perlu mencapai apa-apa.
Kau sudah ada.
Keberadaanmu tidak butuh pembenaran.
Kau tidak perlu berguna, kau tidak perlu berarti,
kau tidak perlu meninggalkan jejak.
Kau hanya perlu tahu bahwa kau tidak berutang apa pun
kepada masa depan,
kepada keluarga,
kepada negara,
kepada Tuhan,
bahkan kepada dirimu sendiri yang “masa depan”.
—
Maka inilah jawaban yang tak akan kau temukan di buku motivasi:
Berhentilah mencari.
Berhentilah mencapai.
Berhentilah menjadi “lebih baik”.
Kau lelah karena kau berlari
di atas roda hamster
yang kau pasang sendiri
Kau bingung karena kau bertanya “apa”
padahal pertanyaan yang benar adalah “siapa”.
Siapa yang menuntut?
Siapa yang berlari?
Siapa yang lelah?
Siapa yang mati?
Kau.
Dan kau bebas untuk berhenti.
Bebas untuk duduk di pinggir jalan
dan melihat kerumunan lewat
tanpa ikut-ikutan.
Bebas untuk hidup tanpa alasan.
Bebas untuk mati tanpa penyesalan.