Aku menulis ini setelah sahur tanggal 4. Lagi-lagi terlambat. Semalam aku tanpa sadar tertidur saat sedang menyimak kuliah Dr. Michael Sugrue tentang Existensialismenya Kierkegaard. Satu hal yang kuingat tentang Kierkegaard adalah pandangannya tentang anxiety. Beliau memandang anxiety sebagai sebuah momentum manusia menyadari hasrat dasarnya tentang kebebasan. Sebuah possibilitas di atas possibilitas. Sebagaimana Adam dan Eve(atau Hawa) yang dilarang memakan Buah Khuldi, namun larangan tersebut juga membuka possibilitas bagi Adam dan Eve untuk memilih. They shouldn’t but they could.
Kuliah tentang kierkegaard itu membuatku teringat perbincangan antara aku, wisnu dan Deri di Gacoan. Kalau tidak salah ketika itu adalah hari di mana Bagas sidang skripsi. Kami berkumpul dan setelahnya memutuskan makan bersama di Gacoan. Setelah makan bersama, kami terlibat dalam sebuah perbincangan. Entah apa topik awalnya, namun, tiba-tiba terjadi perdebatan antara Wisnu dan Deri perihal “Iso dan Ora Iso”. Konteks perdebatan mereka ketika itu adalah tentang perjuangan dan perlawanan. Deri berpandangan bahwa untuk mengubah keadaan bangsa ini, sudah terlalu sulit dan tidak bisa(atau tidak mungkin). Wisnu bersilang pendapat dan mengatakan bahwa itu bisa(atau mungkin).
Aku lupa-lupa ingat detailnya, namun Deri memberi contoh Ia sebagai seorang pegawai pemerintah yang terikat peraturan. Ia tidak bisa melawan(atau melanggar) peraturan tersebut sebab akan dihukum. Wisnu, mengatakan bisa, hanya saja dengan konsekuensi(dalam hal ini hukuman). Aku yang awalnya hanya menyimak mereka, menjadi tertarik untuk bergabung. Aku sedikit setuju dengan pandangan Wisnu. Aku juga coba menyadarkan Deri tentang ilusi kekuasaan dan kebebasan. Namun kurasa apa yang aku sampaikan kurang dipahami olehnya.
Seperti kierkegaard, aku selalu berpandangan bahwa sebuah larangan(yang terlihat sebagai batasan) sebenarnya membuka peluang bagi kita untuk memilih(dengan konsekuensi tentunya). Meskipun aku sependapat dengan Dr. Sapolsky bahwa sejatinya manusia tidak memiliki free will, aku juga sependapat dengan Kierkegaard bahwa dalam keterbatasan itu, manusia memiliki peluang untuk memilih.
Semenjak mengalami anxiety dissorder, sejujurnya aku mulai memilih diantara setiap kemungkinan. Bersama dengan kecemasanku, aku memilih dan menerobos berbagai macam hal yang tadinya aku menganggap sebagai sebuah batas. Semacam treespassing a boundaries not to cross. Aku cemas, namun sekaligus merasa bebas. Entahlah. Sulit mengungkapkan rasanya dengan kata-kata.
Terlepas dari itu, tiba-tiba saja aku membayangkan kita berciuman. Tentu tidak boleh. Namun bukankah itu juga tidak berarti bahwa kita tidak bisa mencobanya, iya kan? Lovyu.