Hai, sudah lama sekali aku tidak menulis jurnal harian di sini. Salah satu kekuranganku memang tidak disiplin dan konsisten. Aku tidak akan membela diri untuk itu.
Aku menulis tulisan ini di pagi hari, setelah berusaha untuk tidur namun sia-sia. Rasa kantuk tak mampu membuat kesadaranku pergi. Memejam mata dan berdiam diri hanya membuat pikiranku semakin riuh. Entahlah. Aku memang sudah lama lupa cara mengendalikan pikiranku sendiri. Biasanya aku mengandalkan 5mg diazepam, 10mg clobazam, dan 25mg clozapine. Racikan bahan-bahan kimia itu secara ajaib membantu pikiranku diam dan kesadaranku pergi perlahan. Sialnya, sekarang aku kehabisan stok itu semua.
Selain masalah tidur, sebenarnya aku baik-baik saja. Aku sudah tidak mudah cemas. Bahkan sudah beberapa bulan ini bebas dari serangan panik. Sepertinya, wisuda memang membuat kondisi mentalku lebih baik(meski masih sulit tidur wkwkwk).
Aku cukup beruntung tidak mengalami stress pasca wisuda. Sejujurnya, aku cukup percaya diri untuk merasa yakin akan mendapat pekerjaan segera setelah wisuda. Bukan karena hebat, tapi lebih karena aku tidak menentukan standar tertentu untuk pekerjaan apa yang akan aku lakukan. Masalahnya, ternyata tidak semua pekerjaan cocok untuk pola hidupku(yang masih kacau) dan menjadi pekerja lepas tidak akan membuatku dianggap sebagai “pekerja” oleh orangtuaku.
Pada momen ini, aku sangat bersyukur mengenal Mas ZZZ. Meski sudah aku tinggal “kabur” beberapa waktu, mereka masih bersedia menerimaku kembali. Dengan ini, setidaknya aku punya tempat yang bisa kusebut “kantor”. Ohiya, di periode menjelang wisuda, Aku juga merasa harus berterima kasih pada Mas Panji dan Mas Iqbal. Tanpa mereka, aku tidak akan punya “medium” untuk memenuhi rasa penasaranku.
Ahh… menulis jurnal memang membuatku merefleksikan banyak hal. Hidup ternyata tidak se-kacau itu.
Beberapa jam lalu, grup whatsapp lingkaran pertemanan kuliah ramai lagi. Sepertinya, kami sama-sama sedang saling rindu untuk berkumpul kembali. Proses hidup yang berbeda-beda membuat kami tidak bisa nongkrong bersama semudah masa kuliah dulu.
Salah satu hal yang tidak berbeda diantara kami adalah perasaan gagal: Karir yang begini-begini saja, Gaji yang tidak seberapa, Juga kenyataan bahwa menentukan “apa selanjutnya” ternyata tidak semudah memilih pilihan jawaban soal-soal UAS mata kuliah sastra Pak Imam.
Semuanya terasa gelap.
Bahkan Wisnu merasa dirinya sudah tidak ada harapan. Hidupnya hampa.
Melihat chatnya itu aku berniat mendebatnya, tapi kemudian aku mengurungkan niatku. Hidup memang “sawang-sinawang”. Aku hanya melihat hidup wisnu, bukan menjadi dirinya. Apa yang ia rasakan tentu valid.
Namun, di tulisan ini aku ingin menuliskan bagaimana hidup wisnu dari sudut pandangku. Menurutku, wisnu jauh dari kata gagal. Aku bahkan merasa dia sangat sukses dibandingkan diriku. Bagaimana tidak, dia berhasil menggerakkan teman-teman di lingkungannya untuk membangun sebuah komunitas sosial yang rutin berdiskusi dan belajar bersama satu bulan sekali. Mengajar TPA. Bahkan membangun bisnis kopi yang memanfaatkan potensi lingkungan sekelilingnya.
Dari kacamataku, wisnu terlihat sangat keren. Aku sangat tidak setuju jika ia merasa dirinya gagal. Aku bahkan tidak keberatan jika ia menyombongkan dirinya. Menurutku itu pantas untuknya. Semoga wisnu membaca tulisan ini dan menyadari “kehebatan” dirinya sendiri.
Atau barangkali wisnu merasa gagal karena masalah keuangan. Jika itu penyebabnya, aku berharap wisnu sadar bahwa di kalangan kita yang bukan “pewaris”, menjadi kaya memang bukan suatu hal bisa dicapai dalam satu generasi. Mari kita nikmati kegagalan ini bersama-sama dengan bahagia. Cheers.