Hai,
Hari ini hari senin. Hari senin pertama di tahun 2026. Lama tidak menulis membuatku canggung dan bingung ingin menulis apa. Aneh sekali rasanya. Sudah habis 1 playlist new jeans dan tulisan yang ada tak lebih dari 1 paragraf.
Aku akan mulai seperti awal lagi. Di hari senin ini aku bangun siang hari. Ya, aku masih minum obat. Clozapine dan Sertraline membuatku susah untuk bangun pagi. Meski aku curiga faktor kebiasaan lah yang lebih berpengaruh. Aku hanya merasa “lebih baik” menunjuk obat sebagai kambing hitam daripada kebiasaan. Aku bangun pukul setengah dua belas siang (atau setengah satu-aku lupa), lalu mandi dan sarapan (lebih tepatnya makan siang-lol). Setelah makan siang, aku bersiap berangkat ke kantor. Persiapan yang hanya berisi kegiatan memasukkan laptop ke tas dan memakai kacamata.
Sebelum mengeluarkan motor dan benar-benar berangkat, aku memutuskan untuk menghisap sebatang Marlboro kretek sambil mengecek WhatsApp. Ada beberapa pesan masuk, kebanyakan tentang pekerjaan. Aku menjawabnya berurutan sesuai antrean. First Come-First Served. Kira-kira seperti itulah.
Aku baru ingat hari ini adikku sedang KKN setelah melihatnya mengirim pesan di Grup WhatsApp keluarga. “Adik sudah sampai posko” katanya. Wow. Aku ingat awal-awal aku rutin menulis Hanif-log ini ketika dulu KKN di Pakis. Kalian bisa membaca tulisan-tulisanku waktu itu di Hanif-log v1. Saat menulis di situ, adikku masih mahasiswa baru. Saat ini berganti adikku yang KKN. Waktu memang berjalan begitu cepat dan tidak terasa. Ah, sialan. Aku harap ucapan sapardi benar. “yang fana itu waktu. Kita abadi”.
Sebab, jujur aku sudah kalah dikoyak-koyak waktu. Lulus terlambat. Belum mempunyai tabungan. Belum mencapai apapun yang orang-orang sebut sukses. Jika ukuran waktu bagi manusia adalah usia. Aku sudah habis terjeratnya. Orang seusiaku sudah menikah, punya rumah, dan meraih mimpinya satu persatu. Aku? aku baru saja mulai bermimpi. Itupun samar-samar.
Huft.. Aku paham betul hidup bukan soal menang atau kalah. Lagipula hidup bukan persaingan satu sama lain. Tapi aku juga yakin bahwa semua manusia hidup pasti merasakan persaingan ini. Sebab kita hidup bersinggungan satu-sama lain. Saling melihat satu-sama lain. Sebuah keniscayaan jika kita membandingkan satu sama lain.
Jika pada suatu waktu Wisnu pernah merasa gagal. Di momen-momen seperti ini aku selalu merasa akulah sebenar kegagalan itu. Sialan.
Menulis tentang kegagalan membuatku bersedih. Aku ingin menangis diam-diam. Bye.