20260414 | Left-Out

Hai,
Akhir-akhir ini aku kacau. Aku merasa bayanganku sendiri enggan menatapku. Aku merasa, ada sesuatu yang merayap di bawah kulitku. Crawling in my skin. Lagu itu tidak pernah berhenti berdengung di kepalaku. Teriakan Chester Bennington yang perih terasa nyata di benakku.

These wounds, they will not heal.

Dostoevsky pernah bilang (atau mungkin aku yang bilang?) Entahlah, Aku lupa. “Kesadaran berlebih adalah sebuah penyakit, penyakit yang sangat parah.” Dan kini, kurasa aku menderita kutukan itu. Aku terkenan kutukan untuk terlalu sadar bahwa aku terkucilkan? tersingkirkan? teralienasi?

Left out.

Kurasa bukan karena (di)benci. Sebab aku sendiri tak pernah yakin apakah aku (dianggap) ada? Tidak mungkin membenci sesuatu yang tidak ada kan? Sartre pernah bilang jika neraka adalah orang lain. Tapi Sartre mungkin tidak pernah merasakan neraka ketika orang lain bahkan tidak peduli kamu ada atau tidak. Sebuah neraka yang sunyi. Neraka tanpa suara. Neraka di mana aku berteriak dan yang terdengar hanya dengung pelan seperti nyamuk di telinga orang yang sedang tidur.

Rilke pernah menulis sesuatu tentang kesepian. “Bertahanlah pada kesepianmu.” Kuingin protes pada Rilke. Tahu apa ia tentang kesepian? Kesepian itu tidak perlu dipertahankan. Kesepian itu datang sendiri. Seperti kucing liar. Seperti jamur di dinding kamar yang lembab. Kesepian itu tumbuh di dadaku. Sekarang sudah sebesar kepalan tangan. Mungkin lebih. Mungkin sudah memakan paru-paruku.

Crawling in my skin.

Aku ingin berteriak. Tapi untuk apa? Tidak ada yang mendengar. Aku ingin menangis. Tapi air mataku sudah habis sejak lama. Sekarang yang keluar hanya kosong. Kosong yang berat. Kosong yang gelap.

“Kita adalah pilihan kita,” kata Sartre lagi. Tapi apakah aku memilih ini? Apakah aku memilih untuk menjadi ditinggalkan? Apakah aku memilih untuk tidak pernah cukup dekat dengan siapa pun? Atau ini hanya sesuatu yang terjadi. Seperti hujan. Seperti kanker. Seperti malam yang datang tanpa diundang.

“Makhluk kecil kembalilah, dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya. Tapi, Gie lupa menuliskan bagaimana caranya berbahagia dalam ketiadaan.

“One must imagine Sisyphus happy.”

Tapi aku bukan Sisyphus.

Aku hanya sebatang lilin dengan api kecil

Menjelang padam