Hari ini hari ke 15(atau 16 ya?) Ramadhan. Aku menulis ini di kamar yang masih berantakan, di meja berserak tumpukan buku Tafsir Al-Jalalayn dan The Gene: An Intimate History, sementara lagu Dream Theater “The Ministry of Lost Souls” mengalun pelan dari TWS SoundCore yang lagi-lagi mati sebelah. Aku menulis ini setelah perbincangan panjang dengan seorang teman. Sebelumnya, aku ingat pendapat seorang neurosaintis: “Kita hanya mesin biologis yang pura-pura punya free will.” Tapi hari-hari belakangan ini yang kurasakan bukan determinisme, melainkan kegamangan—seperti partikel yang terperangkap dalam kotak Schrödinger, superposisi antara Iman dan Keraguan.
Nisrina(seorang teman yang kuajak berbincang dan pada akhirnya membuatku menulis tulisan ini) bilang, “Allah melihat usaha hambanya.” Tapi apa usaha ini cukup? Aku sudah menelusuri labirin pemikiran Avicenna yang menyembuhkan depresi dengan puisi dan doa, lalu terdampar di teorema Gödel: “Setiap sistem logis punya kebenaran yang tak terbukti di dalamnya.” Mungkin iman seperti itu—sebuah aksioma yang harus diterima tanpa bukti, tapi menjadi fondasi segala persamaan.
Aku yakin ada “The Maker” Sang Pembuat. Sapolsky boleh berkata kita sekadar “biological machine“, tapi mesin pun punya perancang. Fisikawan berdebat tentang “First Cause”, dan di situlah kuyakin Allah bersemayam—sebagai “Prime Mover” yang tak perlu penyebab. Tapi pertanyaanku bukan lagi “Apakah Tuhan ada?”, melainkan “Bagaimana aku sampai pada-Nya?”.
Nisrina mengutip dalil aqli dan naqli, tapi otakku seperti algoritma rusak yang terus memproses: “Jika Rasulullah SAW(dan kemungkinan tokoh-tokoh/agamawan lain) berpotensi sebagai penderita skizotipal, apakah wahyu hanya halusinasi yang terstruktur? Aku membuka riset Yale tentang genetic link between religiousity and mental disorders. Angka-angka itu menari-nari: 78% penderita skizotipal mengalami pengalaman religius intens. Tapi di sudut lain, ada Piagam Madinah—dokumen politik brilian yang mustahil lahir dari pikiran tak stabil.
Nisrina memberikan Keindahan Al-Qur’an yang tak bisa ditiru hingga sekarang sebagai argumen, namun aku ingat seorang Dosen linguistik pernah menertawakan keindahan Al-Qur’an: “Ini cuma hasil budaya retorika Arab abad ke-7!” Tapi Gödel berbisik: “Ada kebenaran di luar sistem.” Mungkin bahasa Al-Qur’an adalah sistem itu sendiri—tak terbantahkan karena melampaui batas manusia, seperti teorema yang tak bisa dibuktikan tapi menyangga matematika.
Aku terjebak dalam paradoks: Akal adalah kunci, tapi juga penjara. Seperti Avicenna yang memakai logika untuk membuktikan Tuhan, tapi akhirnya berkata, “Yang Mutlak tak terjangkau analogi.” Atau Sapolsky yang menjelaskan semua sebagai reaksi kimia, tapi tak sanggup menjawab “Mengapa kita merasa sunyi?”
Malam ini, kubaca ulang surat Al-‘Alaq. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Tapi yang kubaca justru ayat-ayat kauniyah: DNA yang berpilin rapi, hukum termodinamika yang menjaga keseimbangan kosmos, bahkan anxiety-ku sendiri—sinyal bahwa mesin biologis ini rindu pada Sang Perancang.
Pada akhirnya, menurutku Nisrina mungkin benar. Usaha inilah yang penting. Aku tak perlu menjawab semua pertanyaan, hanya perlu terus berjalan—seperti Sisifus-nya Camus yang menemukan makna dalam mendorong batu. Atau seperti Gödel yang menerima ketidaklengkapan sebagai bagian dari kebenaran.
Besok, aku(Insyaallah) akan sholat Subuh. Bukan karena takut neraka atau rindu surga, tapi karena ini satu-satunya cara berdialog dengan Sang Aksioma yang tak terbukti.