Hal-hal yang ingin aku sampaikan kepadamu

Apa kabarmu hari ini?
Semoga langit di atasmu tidak terlalu kelam.

Aku di sini, duduk di sudut kamar yang sama.
Baru saja menonton Before Sunrise untuk kesekian kali.
Aku membayangkan kita berjalan di tepi rel kereta Wina,
berbicara tentang segala yang remeh, lalu tertawa.
Tapi mungkin itu terlalu indah untuk nyata.

Kamu sedang apa hari ini?
Apakah kamu masih suka menatap hujan sambil mendengar lagu-lagu nadin amizah?
Atau mungkin kamu sudah menemukan ritual baru bersamanya?

Aku ingin menanyakan hal-hal kecil.
Apakah kamu masih mudah menangis seperti dulu?
Apakah kamu masih suka meminum obat demam saat susah tidur?
Tapi lidahku kelu. Aku hanya bisa menulis di sini,
seperti pengembara yang mengguratkan puisi di gua,
berharap suatu hari ada yang membaca,
tanpa tahu siapa.

Aku adalah Orpheus yang tak berani menengok ke belakang.
Aku adalah Atlas yang mengangkat langit sendirian.
Aku adalah halaman buku yang kamu lewati,
tergesa-gesa, tanpa sempat kamu tandai.

Tahukah kamu?
Aku pernah menulis namamu di pasir pantai,
lalu menunggu ombak menghapusnya.
Seperti ini mungkin nasibku:
mencintai sesuatu yang tak bisa kau pegang,
merindukan sesuatu yang hanya ada dalam bayang.

Aku ingin marah pada takdir.
Tapi bagaimana mungkin?
Dia memberiku cerita tentangmu,
meski hanya selembar bab yang terpotong.

Aku iri pada bintang-bintang.
Mereka bisa memandumu tiap malam tanpa harus memilikimu.
Sedang aku? Aku hanya bisa menulis surat yang tak pernah sampai,
dalam bahasa yang bahkan tak kau pahami.

Kadang aku bertanya:
apakah kamu pernah membaca semua kata-kataku yang tersembunyi?
Ataukah kamu sengaja berpura-pura buta,
agar kita tetap bisa bersahabat?

Tidak apa.
Aku sudah belajar mencintai diam-diam.
Seperti laut mencintai bulan:
tanpa pernah menyentuh,
tanpa pernah meminta.

Aku lelah, tapi aku takkan berhenti.
Aku akan tetap menulis,
seperti burung tetap bernyanyi meski musim berganti.
Akan kukirimkan padamu bunga-bunga kata,
meski kau anggap hanya ilalang.

Karena di suatu tempat,
di antara semua huruf yang kususun acak,
ada satu kalimat jujur yang tak pernah kuberanikan:
“Aku mencintaimu, bahkan jika akhirnya bukan aku yang kau cintai.”

Terima kasih,
karena kau tetap menjadi matahari yang tak pernah kusentuh.
Kau mengajari aku arti merindu tanpa batas,
seperti angin yang setia mengelilingi bumi,
meski tak pernah ditunggu.

Suatu hari nanti,
jika kamu tiba-tiba ingat padaku,
bacalah langit malam.
Di sana, ada semua cerita yang tak sempat kuucapkan.

Salam dari jauh,
— seseorang yang masih belajar melepas.