Untuk kesekian kali aku tidak bisa tidur, jadi aku menulis tulisan ini

Aku tidak bisa tidur—entah ke berapa kali, aku sudah terlalu lelah mengingatnya. Karena memejam mata tak menghasilkam apa-apa, aku memutuskan membuka youtube. Algoritma membawaku pada sebuah video. Video sebuah jerapah. Jerapah di layar itu menunduk, lehernya yang panjang terpelintir jadi teleskop yang mengarah ke lubang hitam di rongga dadanya. “Aku sudah menelepon badak, zebra, bahkan kumbang kotoran,” kata narator video, “tapi tak ada yang mengangkat.” Suaranya parau seperti pita kaset yang direkam ulang terlalu sering. Kita semua, pikirku, adalah jerapah di sabana bernama Bumi—berseru pada langit kosong dengan ponsel yang kehabisan pulsa.

Dunia ini semacam keyboard rusak yang huruf ‘E’-nya macet: terus mengetik “kegagalan” tanpa jeda. Di suatu sudut, Tchaikovsky menggubah Swan Lake sambil menangisi kekasih yang jadi mitos; Kafka menulis surat pada ayahnya yang takkan dibaca, lalu mati sebagai kecoa raksasa dalam cerita yang dianggap fiksi.

8 miliar jiwa. 26.000 hari. Aku menghitung ulang di punggung struk belanja: jika hidupku sepanjang gulungan tisu, hari ini mungkin lembar ke-9.432. Di luar, 300.000 manusia sedang mengalami worst day of their life—ada yang menangis di toilet bandara, ada yang menggigit bantal di kamar kos, ada yang tersenyum palsu di pelaminan. Kita semua adalah angka-angka yang berdarah.

Otak kita—organ seberat 1,4 kg ini—menyimpan pabrik penyiksaan. Rasa hancur karena dikhianati, pedih karena kehilangan, sesak karena terasing: semuanya bermuara di anterior cingulate cortex yang sama. “Sakit jiwa itu nyata,” bisikku pada cicak di langit-langit yang sedang menelan ngengat. Cicak itu mengangguk, lalu memuntahkan serpihan sayap yang berbentuk not balok Symphony No. 6 Tchaikovsky.

Bahasa Inggris punya “sad”, tapi Portugis punya “saudade”—rindu yang menggerogoti tulang. Jepang punya “tsundoku”—seni menumpuk buku yang takkan dibaca. Aku menciptakan kata baru: “hanifosis”—keadaan ketika kau merindukan seseorang yang belum pernah kau temui, sambil memutar lagu The Smiths di kamar 3×3 meter.

Taoisme berbisik tentang wu wei: “mengalir seperti sungai yang tak memaksa tepian.” Tapi bagaimana menjelaskan ini pada tetangga sebelah yang istrinya mati kemarin, tapi pagi ini masih menyapu halaman sambil bersiul “Que Sera, Sera”? Aku menatap genangan air hujan di kaleng bekas—di dalamnya, Perang Peloponnesia masih berkecamuk, wabah Hitam masih merayap, Nero masih bermain biola di atas puing Roma yang terbakar.

Malam ini, di antara debu buku dan notifikasi aplikasi pinjol, aku menulis puisi di kertas struk belanja:
“8 miliar jantung berdetak dalam sinkop
26.000 fajar yang dijanjikan
Kita adalah mosaik dari retakan yang sama
—Jerapah yang belajar menari di kawah bulan.”

Dari sela jendela, lampu bohlam 5 watt rumah tetangga kedap-kedip. Aku membayangkan Lincoln muda sedang menulis pidato di balik gerobak sapi, atau Frida Kahlo melukis bunga di gips tubuhnya yang reyot. Langit Magelang berbisik: “Yang patah akan mekar lagi, walau jadi kaktus di gurun data.”