Catatan untuk Revolusi yang Tertidur di Bawah Selimut Asap Rokok

UU TNI disahkan kemarin—seperti pisau bedah yang menusuk jantung demokrasi yang sudah sekarat. Aku duduk di lantai kamar, dikelilingi oleh buku-buku yang berserakan bagai sisa-sisa pertempuran dalam medan perang yang lengang. Di salah satu sudut, 1984 karya Orwell terbuka di halaman 143, di mana Winston menoreh diari tentang kebenaran yang sudah hancur, seakan-akan kata-kata itu adalah serpihan mimpi yang terbuang. Di sisi lain ruangan, spanduk yang belum sempat kugantung tersandar, kain bekas seprai tergeletak seperti bendera yang kalah dalam keheningan.

Bapak menemukanku tadi pagi sepulang konsolidasi aksi dengan kawan-kawan di kampus sidotopo, saat aku sedang mengikat tali sepatu dan menyiapkan atribut serba hitam untuk aksi yang entah akan mengubah apa. “Kau pikir ini akan mengubah apa?” hardiknya, suaranya menggema seperti derap sepatu Lars yang meruntuhkan aspal. Aku hanya diam. “Jangan ikut aksi UU TNI, kota ini dikuasai tentara! Kau mau mati sebelum jadi sarjana!” Jari-jariku gemetar membentuk kepalan yang tak tahu ingin menghantam apa.

Magelang malam tadi menyajikan aroma terpentin dan keringat dingin. Di taman pancasila, patung Jenderal Ahmad Yani mendekap tangannya ke belakang, seakan takut akan zaman yang serakah menuntut simbol-simbolnya. Aku membayangkan para wakil rakyat di gedung DPRD tertidur pulas di kursi kulit, sementara di layar laptop mereka, rakyat berteriak dalam angka-angka Excel yang rapi—suara digital yang menggantikan teriakan riuh di lapangan.

Dwifungsi ABRI muncul bagai hantu yang bangkit dari kubur tembok Berlin. Aku membaca berita di HP sambil membolak-balik The Plague karya Camus, di mana tokoh-tokoh yang dulu mengabdi pada narasi kini duduk di kursi menteri dan stafsus, menyebarkan wabah lewat maklumat dan stempel. Tertawa kecil pecah dari dalam, hingga tenggorokanku terasa teriris oleh tawa itu, seperti kaca yang pecah perlahan.

Bapak memarahiku habis-habisan dengan tangan besi yang mencengkeram bahuku, layaknya rantai pada tahanan politik. “Kau pikir aksimu akan mengubah apa?” ucapnya lagi, seolah-olah setiap kata adalah peringatan dari masa lalu. Aku terpaku pada foto kakek di dinding; senyum tipisnya memegang bendera merah putih tahun ’66, tanpa tahu bahwa suatu hari bendera itu akan menjadi selimut bagi tidur panjang demokrasi.

Malam ini, kamarku berubah menjadi medan perang mini. Buku-buku berjatuhan bagai mayat yang tergeletak di rak, 1984 bersanding dengan Negeri Para Bedebah, keduanya berbisik tentang pengkhianatan yang menggerogoti jiwa. Aku menyalakan Marlboro Kretek yang tadinya tak ingin kusentuh lagi untuk selamanya; bara apinya menyala seperti lampu darurat di kapal tenggelam, menerangi sekilas ruang yang remuk.

Di luar, hujan gerimis mulai menampar atap seng. Aku membayangkan Sondang di Jakarta, tubuhnya tergantung di langit bagai puisi yang dipenggal tanda bacanya. “Kau tak sendiri,” bisikku kepada dinding yang lembap, namun yang menjawab hanyalah detak jam dinding tua, langkahnya seirama derap sepatu Lars di aspal basah.

Aku muak dengan aksi damai, yang bagai puisi usang untuk telinga tuli. Aku muak dengan spanduk yang tergantung lalu terkulai, dengan orasi yang hanyut di timeline Twitter, dengan doa-doa yang menguap sebelum sempat menyentuh langit. “Tidak ada pagi untuk revolusi,” ucapku, meniru ungkapan Bang Ncis, “sementara ada pagi untuk jatuh cinta.”

Bapak meninggalkan pisau dapur di meja—entah karena lupa atau sengaja. Aku menatapnya dalam keheningan, lalu menggunakannya untuk menggeprek biji pala—ramuan agar tubuhku lemas dan tertidur. “Pemberontakan paling radikal,” bisikku meniru seorang filsuf yang aku lupa siapa namanya “adalah tetap hidup di tengah mesin yang ingin menjadikanmu minyak pelumas.”

Di tembok kamar yang penuh coretan, aku menoreh puisi pendek:

UU TNI adalah batu nisan bagi kupu-kupu,
Para wakil rakyat menggali kubur dengan sendok teh,
Aku—dengan kamar 3×3 dan rokok yang telah habis—
menyusun barikade dari debu buku dan janji yang menguap.

Selepas subuh, bersama sayup-sayup suara kajian subuh dari masjid dekat rumah, hujan reda. Aku membuka jendela dan bau tanah basah menyelinap masuk seperti kabar dari masa lalu. Di jalan, coretan cat semprot di tembok berbunyi: “Mereka yang diam adalah sekutu kejahatan.” Aku tersenyum, membiarkan esok entah akan kuhapus atau kubiarkan menjadi monumen bagi jerapah-jerapah yang kehilangan lehernya. Aku gagal menjadi api, hari ini aku memilih tidur daripada mati.