Hai,
Hari ini tidak banyak yang kulakukan. Semalam aku tidak bisa tidur lagi untuk ke sekian kalinya. Aku baru bisa tidur sekitar jam 08:00 dan bangun menjelang dzuhur. Setelahnya sejujurnya aku bingung ingin melakukan apa. Pikiranku sudah terlalu lelah akibat memikirkan hal-hal yang tidak bisa aku kontrol semalam. Sampai akhirnya linggar mengirimkan pesan whatsapp.

Ia mengajakku bertemu di kampus. Aku mengiyakan ajakannya, meski tahu kampus pasti sepi karena sudah masuk waktu libur lebaran. Benar saja, di kampus tidak ada orang selain satpam dan staff-staff yang sedang mengurusi urusan kampus menjelang lebaran–barangkali pembagian THR. Akhirnya aku dan linggar memutuskan mengobrol di sepodo (sebuah toko tembakau, tempat linggar bekerja dulu). Di sana aku dan linggar mengobrol hingga pukul 16.

Kami berbicara banyak hal, meski lagi-lagi seperti perjumpaan kami sebelumnya, kebanyakan hal-hal yang kami bicarakan adalah hal kosong. Salah satu yang kami diskusikan adalah bagaimana saranku kepada linggar untuk membangun portofolio desainnya. Linggar juga memberi masukan kepadaku untuk mulai mengurasi tulisan-tulisanku dan mengembangkannya dalam media lain. Aku mempertimbangkan masukannya, meski aku juga memberitahu linggar bahwa intensiku menulis adalah untuk mengeluarkan apapun yang ada di pikiranku yang bising setiap malam. Hanya itu.

Linggar tidak mendebatku soal itu, ia hanya memberi contoh bagaimana para penulis-penulis lain juga berangkat dari intensi yang sama namun pada akhirnya berhasil mengembangkan tulisannya ke media lain. Aku hanya menertawakan contoh dari linggar. Aku mengatakan kepadanya bahwa harapan tertinggi terkait tulisanku adalah ada yang membacanya ketika aku sudah mati. Seperti catatan seorang demonstran-nya Gie, atau surat-surat Kafka kepada teman-teman dan editornya.

Aku tahu tak ada yang menginspirasi dari tulisan-tulisanku. Hanya saja, pembaca tulisanku setidaknya akan sedikit tahu apa yang aku pikirkan dan rasakan. Sebab, memang untuk itulah aku menulis. Banyak hal yang tak bisa kuungkapkan, namun memendamnya hanya membuatku menambah goresan-goresan darah di tangan. Sehingga kuputuskan mengungkapkan semuanya di jurnal ini. Dengan mentah, apa adanya.

Aku juga menulis coretan-coretan di dinding kamarku, namun tembok kamarku tentu tak akan sanggup memuat tulisan sepanjang ini. Aku harap jika kalian membaca tulisanku ini, kenang aku dalam ingatan kalian. Camus pernah berkata “there is no such thing as great suffering, great regret, great memory….everything is forgotten, even a great love.” Aku tidak menyangkalnya, namun, setidaknya ingat aku meski sementara. Meski sependek senja.

Aku mencintai kalian. Kuharap kalian juga mencintaiku. Aku menganggap siapapun yang membaca tulisan ini adalah kawan. Ada pepatah mengatakan “friend of all is friend of none.” Aku tidak keberatan dengan itu. Toh pada akhirnya kita akan sendiri lagi. Menghidupi kesunyian masing-masing. Tetapi, sementara kita masih saling bersama, bukankah menyenangkan jika kita saling bertukar duka atau tawa. Berbagi cerita. Berbagi pelukan hangat. Sebagai sesama manusia. Sebagai sesama peniti asa.