Aku membaca argumenmu tentang agama sebagai sistem pengganti yang sempurna, tentang sedekah sebagai senjata melawan rezim. Kamu bicara seperti seseorang yang baru saja menemukan kitab suci di tengah reruntuhan pasar saham—suara penuh keyakinan, tapi matamu (aku bisa melihatnya lewat kata-katamu) masih berkedip-kedip menatap bayangan 1998 yang terus bergema di dinding-dinding kosong.
Kita memang hidup di zaman di mana dinding-dinding itu retak. Dwifungsi sudah lapuk seperti plakat reformasi, debunya beterbangan ke rapat tertutup pejabat. IHSG jatuh? Bukan kejutan. Di negeri di mana harga cabai lebih fluktuatif daripada prinsip, anjloknya angka hanyalah puisi lusuh yang terus diresitasi tanpa makna.
Tapi ketika kamu bilang “rely on religion”, aku teringat malam di warung sate dekat SMA. Seorang bapak tua membagi separuh porsinya pada pengemis buta. Mereka tak bicara pahala. Hanya senyum tipis, tangan yang menyentuh punggung sebentar, lalu masing-masing kembali ke piringnya. Di situ aku melihat agama yang kamu maksud: bukan sistem, tapi getaran kulit yang tak tercatat di BPS atau laporan tahunan bank. Ironisnya, justru ketika agama dijadikan sistem, ia lebih sering menjadi alat kontrol daripada cahaya.
Kamu usulkan sedekah sebagai kontra-kapitalisme. Tapi di jalanan, aku melihat anak-anak pengamen mengumpulkan receh untuk disetor pada preman yang lebih besar. Di sini, sedekah bukan revolusi—ia cuma lingkaran setan yang dipermanis ayat. Kamu bilang “jangan libatkan pemerintah”. Tapi di kampung nelayan, ketika warga saling bantu menarik perahu yang tenggelam, aparat datang seminggu kemudian membawa spanduk “program bantuan” untuk difoto. Agama jadi alat, bukan jawaban.
Kita memang perlu reset. Tapi reset macam apa? Tahun ’98 sudah membuktikan: sistem baru hanya jadi bajak laut lama dengan bendera baru. 26 tahun tak di-reboot? Tidak. Kita cuma mengganti screensaver dari Orde Baru ke demokrasi digital, sementara algoritmanya tetap dikendalikan oligarki dan konglomerat.
Aku setuju kita harus saling bantu. Tapi sedekahmu, temanku, tak akan mengguncang rezim selama ia masih dianggap sebagai aksi karitatif—bukan pemberontakan. Ketika kamu memberi beras pada orang yang kelaparan, tapi tak menuntut gudang beras koruptor dibongkar, itu bukan revolusi. Itu sekadar menjadi balsem di tengah luka yang sengaja dibiarkan bernanah.
Kamu kutip Dali dengan kumisnya yang melawan gravitasi. Tapi absurditas sebenarnya adalah ini: kita sibuk berdebat tentang agama sebagai solusi, sementara di kampus-kampus, anak muda dijual mimpi start-up yang pada akhirnya hanya jadi budak baru di kuadran Excel para pemodal. Agama? Di sini, ia sudah jadi komoditas—dijual dalam bentuk seminar motivasi, dipaketkan dengan gelang tasbih digital.
Kamu benar tentang satu hal: kita perlu posisikan diri untuk survive. Tapi jangan salah—di rimba ini, yang bertahan bukan yang paling religius, tapi yang paling lihai berpura-pura tuli saat jeritan sesamanya bergema di retakan zaman.
Akhir kata, izinkan aku mengutip puisiku yang gagal:
Kita ini dua musafir yang menulis peta di atas pasir
Sambil tahu ombak akan datang
Tapi tetap menulis
Bukan karena naif
Tapi karena
Menjadi debu yang berani membentuk bayangan
Adalah satu-satunya cara
Untuk tak dikalahkan angin.