Aku menulis ini dengan pipi yang basah oleh rasa bersalah. Maafkan aku, Ummi, karena hanya berani menyampaikan lewat tulisan. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk mengatakannya langsung, tenggorokan ini seperti dihimpit batu. Air mata mengalir lebih cepat daripada kata-kata. Ummi mungkin tak pernah melihatnya, tapi percayalah—di balik diamku, ada badai yang merobek-robek diri.
Pesan ummi, “Maaf jika Ummi tak bisa membuat kalian bahagia,” adalah pisau yang mengiris tanpa suara. Bagaimana mungkin ummi yang meminta maaf, sementara aku, anakmu, masih menjadi bayangan yang gagap? Aku ingin berlari, memelukmu, dan berteriak, “Tidak, Ummi, justru akulah yang harus bersujud!” Tapi yang terjadi? Aku membeku. Kata-kata menguap, digantikan oleh isak yang membanjiri pipi.
“The deepest things in life are always said in silence,” tulis Tagore. Tapi diamku bukanlah kedalaman—ia adalah kubangan aib. Aku takut, Ummi. Takut jika suaraku pecah saat mengaku bahwa aku masih terjebak di semester 12, sementara guratan umur di wajah ummi semakin dalam. Takut jika tangisku membuat ummi sadar betapa rapuhnya anak lelakimu ini. Jadi, tulisan ini adalah pengakuan terakhir yang tersisa: maafkan aku yang hanya mampu bicara lewat huruf-huruf, bukan pelukan.
Seseorang pernah berkata, “Air mata itu doa yang tak terucap.” Tapi air mataku hanyalah genangan kegagalan. Kegagalan menjadi anak yang bisa membuat ummi tenang, kegagalan menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengatakan, “Ummi, aku di sini. Tak perlu khawatir lagi.” Bahkan sekarang, saat menulis ini, tanganku gemetar. Aku ingin ummi tahu: setiap kalimat di sini adalah jeritan yang tak bisa kuungkapkan saat menatap wajah ummi.
Aku teringat potongan puisi Rumi, “Words are a pretext. It is the inner bond that draws one person to another, not words.” Tapi Ummi, bagaimana caraku menunjukkan “inner bond” itu jika lidah ini dikalahkan oleh malu? Aku menulis karena tulisan takkan menampakkan air mataku. Tulisan takkan memperdengarkan suaraku yang tercekat. Tulisan adalah selimut untuk menyembunyikan kegagapanku.
Maafkan aku, Ummi. Maafkan anakmu yang hanya berani jujur di balik layar ponsel, bukan di hadapanmu. Maafkan aku yang memilih tulisan sebagai perisai untuk menutupi wajah yang memerah oleh rasa bersalah. Ummi pantas menerima lebih dari sekadar pesan singkat—ummi pantas mendengar janji langsung dari mulut anakmu. Tapi hari ini, izinkan aku mulai dari sini: dengan kata-kata yang bercampur air mata, aku berjanji akan menjadi lebih baik.
Aku akan lulus. Aku akan bekerja. Dan kelak, ketika malu ini sudah kukubur, aku akan berdiri di hadapan ummi, memegang tangan ummi, dan mengucapkan semua ini langsung—tanpa gemetar, tanpa kabur oleh isak.
Dari anakmu yang masih belajar bicara,
Yang suaranya tersembunyi di balik huruf-huruf ini