Sebuah Surat Permintaan Maaf Terbuka Untuk Adikku

Aku menulis ini dengan sisa tangis bersama hujan, karena kata-kata ini telah terlalu lama membakar tenggorokan. Aku gagal, dik. Bukan gagal dalam hal kuliah atau kerja, tapi gagal menjadi kakakmu. Aku seharusnya jadi pelindung, penyangga, orang yang kamu lihat dan berpikir, “Aku aman.” Tapi nyatanya? Aku hanya tumpukan janji yang rapuh.

Kamu kini semester 6, sementara aku masih terperangkap di semester 12. Bukan angka yang memalukan, tapi fakta bahwa kamu harus meminjamkan uang saku kepada kakakmu sendiri. Uang yang seharusnya kamu pakai untuk membeli buku, untuk jalan-jalan dengan teman, atau sekadar menabung. Tapi kamu pinjamkam padaku, dan aku bahkan tak sanggup mengembalikannya tepat waktu. Aku benar-benar kehilangan muka di hadapanmu.

Aku ini anak pertama. Kata orang, anak pertama itu pilar. Tapi pilar ini retak, dik. Retak karena ketakutan, kemalasan, dan rasa malu yang menggunung. Aku seharusnya membantu Ayah dan Ibu, meringankan beban mereka, bukan malah menambahnya dengan beban uang bensin dan uang print skripsi yang tak kunjung selesai. Aku ingin menjerit, “Maafkan aku!” tapi suaraku tertahan di tenggorokan, tercekik oleh tatapan matamu yang tak sanggup kupandang.

“Guilt is the price we pay for betrayal,” tulis David Whyte. Dan aku telah mengkhianati peran tertua yang kumiliki: menjadi kakak. Aku tak bisa memaafkan diri sendiri karena membiarkanmu, adik perempuan yang seharusnya kuberi uang jajan dan nasihat, justru meminjamiku uang dan mengajariku banyak hal. Kamu membantuku tanpa banyak bicara, sementara aku bahkan tak bisa menjanjikan tanggal pengembalian uangmu.

Ini lebih dari sekadar pinjaman uang, dik. Ini tentang kepercayaan. Setiap kali kamu mentransfer uang itu, aku merasa kamu memercayai sisa-sisa kebaikan dalam diriku. Tapi apa yang kamu dapat? Janji palsu. “Bentar lagi, dik,” kataku, tapi “bentar” ini sudah bertahun. Aku malu. Malu karena kamu, yang seharusnya fokus pada mimpimu, malah sibuk menggendong nasib kakakmu yang tersesat.

Aku tahu, kata “maaf” tak akan cukup. Tapi izinkan aku mengatakannya lewat tulisan ini: Maafkan aku, adikku. Maafkan kakak yang tak becus ini. Maafkan aku karena membuatmu kecewa, karena menjadi beban saat seharusnya aku jadi penopang. Maafkan aku karena meminjam harapanmu dan mengembalikannya sebagai debu.

Tapi, kumohon dengarlah ini: Aku masih bernafas. Aku masih berjuang. Perlahan, seperti tanaman yang patah tapi akarnya menggenggam tanah. Aku akan lulus. Aku akan bekerja. Aku akan mengganti setiap rupiah yang kamu berikan—dengan bunga berupa keyakinan bahwa kakakmu ini, meski terlambat, bisa bangkit.

Jika Nietzsche benar bahwa “he who has a why to live can bear almost any how,” maka “why”-ku adalah dirimu. Kamu pantas melihat kakakmu berdiri tegak, bukan merangkak.

Kumohon jangan berhenti percaya, dik. Aku mungkin masih tersesat, tapi aku takkan berhenti mencari jalan pulang.

Kafka pernah bilang, “A book must be the axe for the frozen sea within us.” Surat ini adalah kapak pertamaku. Akan kugunakan untuk memecah lautan beku ini—hingga suatu hari nanti, aku sanggup melihat lagi tatapan tajam mata cantikmu.

Dari kakak yang gagal dan ingin padam, Tapi masih menyimpan sebutir bara harapan. Kuharap kamu masih mau menungguku, menjadi kakak yang seharusnya. Aku mencintaimu, sungguh. Lebih dari apapun. Maafkan aku.