Malam ini, seperti malam-malam lain yang terlalu sunyi untuk dijelaskan, aku kembali terdiam pada layar kosong. Tak ada rencana, tak ada premis, hanya hasrat samar untuk menulis. Entah tentang apa. Mungkin tentang waktu yang terus berjalan tanpa kompromi. Atau tentang rasa yang diam-diam membatu di sudut hati. Atau mungkin hanya sekadar membuktikan bahwa aku masih bisa menciptakan kalimat, meski dengan napas yang nyaris habis.
Kadang aku berpikir, mungkin aku tidak pernah berhenti menulis, hanya saja, bentuknya berubah. Menjadi diam, menjadi tatapan kosong, menjadi malam yang panjang dan tidak bisa dijelaskan. Tapi malam tetap menunggu. Dan aku tetap duduk di sini, berusaha mengungkapkan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum tahu namanya.
Lalu aku bertanya (kepada siapa pun yang sudi diam dalam pikiranku) apa artinya terus bangun setiap hari, menyikat gigi, menyantap pagi yang hambar, lalu berdamai dengan kebisingan yang ditata oleh sistem? Hidup tidak menawarkan penjelasan. Ia hanya menunjuk jam dinding dan menagih partisipasi.
Mungkin absurditas tidak pernah butuh penyelesaian. Sama seperti kursi plastik biru yang menatap mie ayam dalam mangkuk retak. Sama seperti potongan telur rebus yang sunyi, dikelilingi kuah santan yang tak pernah bertanya kenapa harus asin. Aku adalah suapan terakhir yang ditinggalkan karena kenyang, atau karena benci akan kenangan yang pernah terselip di situ.
Manusia dibentuk dari atom-atom yang gagal menjadi bintang. Kita tak lebih dari debu yang terlalu ambisius ingin menjelaskan makna. Tapi makna, seperti karet gelang, lentur dan bisa putus sewaktu-waktu. Camus pernah bilang, satu-satunya keputusan serius dalam hidup adalah apakah kita memilih untuk terus hidup atau tidak. Tapi bahkan bunuh diri pun terasa terlalu teatrikal. Jadi aku menulis. Menyusun kata seperti mengisi jurang dengan tumpukan batu.
Saat menulis tulisan ini, hari telah berganti. Dan aku belum tidur. Bukan karena tak bisa. Tapi karena tubuhku sudah terlalu sering dikandangi oleh obat yang bekerja lebih cepat dari kesadaran.
Aku masih terjaga, bukan sebagai manusia, tapi sebagai gema. Sebagai hasil dari sesuatu yang terus dipertanyakan tapi tak pernah dijawab. Barangkali ini bukan insomnia. Ini cuma aku yang masih ingin bertahan di ambang kesadaran, supaya bisa terus membersamai kekosongan itu sendiri. menatapnya, mencintainya.
Lagipula, apa bedanya malam dengan aku? Kami sama-sama sunyi, sama-sama memelihara lampu-lampu kecil harapan yang berkedip-kedip seperti pendar bintang yang dihantam atmosfir.
Malam kadang terasa seperti kekasih yang terlalu lembut menyiksa. Ia tidak menamparmu, tapi membuatmu percaya bahwa kekosongan adalah rumah. Dan antidepresan adalah do’a yang ditulis apotek, dibungkus plastik transparan, lalu ditebus dengan harapan agar kau tak patah total.
Jadi aku biarkan tubuhku tergeletak di antara lembar-lembar yang sudah lupa makna tidur. Membelai malam dengan diam dan debar teratur.