Ketika aku membuka kembali draft tulisan ini, sudah lewat berminggu-minggu semenjak aku (akhirnya) wisuda. Karena momentumnya sudah terlewat sangat jauh, aku memutuskan untuk menulis ulang saja. Mari kita mulai kembali.
Singkatnya, setelah belasan semester, pada akhirnya aku resmi meraih gelar sarjana pendidikan. .S.Pd. Sebuah gelar yang setelah resmi kudapatkan, aku pun bingung akan diapakan(?). Perjalanan karir paling ideal tentu penjadi pendidik. Sayangnya, menjadi pendidik di republik ini adalah salah satu jalan karir yang hanya cocok ditempuh oleh seorang “pewaris”, bukan “perintis”. Aku tak akan mampu mendidik dengan sepenuh hati dan pikiran jika kebutuhan dasar hidupku dan keluargaku tidak ada jaminan terpenuhi.
Aku masih yakin betul bahwa menjadi pendidik adalah sebuah jalan mulia. Setidaknya lebih mulia dari pejabat yang tidak peduli keadaan rakyatnya. Aargh. Sudahlah, kemarahan kepada pejabat di republik ini tak akan pernah berarti. Semua akal sehat dan nurani sudah lama mati. Semenjak soe hok gie pergi. Widji pergi. Munir pergi. Sondang pergi. Dan kawan-kawan lain yang bahkan tak tertuliskan dalam catatan-catatan sejarah racikan fadli zon.
Pada akhirnya. Wis(udah)ku hanya menjadi semacam bookmark setelah beberapa bab kehidupan gilaku di kampus kecil. Kini aku melanjutkan bab-bab berikutnya, yang bagiku tak ada bedanya. Tetap gila. Dan hidup sepenuhnya. Lagipula, kita tak pernah tahu kapan dunia akan berakhir kan? Persetan segalanya dan mari mencoba apapun yang bisa dicoba. Enjoyyy