Membaca tulisan-tulisan Matt Haig tidak pernah terasa seperti membaca sebuah buku. Lebih mirip seperti membuka dosgrip yang lupa disimpan di laci, lalu menemukan selembar kertas kecil dengan tulisan tangan yang entah milik siapa: “Jangan lupa, kamu masih di sini.”
Buku-bukunya sering kali seperti memoar orang yang duduk sendirian di kamar dengan lampu kuning pucat. Ia menulis tentang depresi, tentang keinginan untuk menghilang, tentang hari-hari yang terasa tidak bergerak. Dan anehnya, ia tidak pernah terdengar ingin menggurui. Ia hanya menulis seolah-olah sedang mengirimkan pesan whatsapp ke nomornya sendiri, lalu kita kebetulan ikut membacanya.
Ada yang rapuh dalam kalimat-kalimatnya, seperti kaca yang nyaris pecah tapi masih bertahan. Kadang terlalu terang, kadang terlalu lembut. Ada saat ketika optimismenya terasa seperti hansaplast yang ditempelkan di luka. Tidak menyembuhkan, tapi cukup menutup supaya kita bisa berjalan sedikit lebih jauh.
Yang membuatnya sulit dijelaskan adalah cara ia memelihara kontradiksi. Ia berbicara tentang sakit, tapi juga tentang sembuh. Tentang kematian, tapi juga tentang betapa anehnya kita masih bangun tiap pagi dan memutuskan untuk menyeduh kopi. Membaca Matt Haig adalah menyadari bahwa rasa sakit bisa berdampingan dengan kemungkinan kecil bernama harapan.
Aku tidak membacanya untuk menemukan solusi. Toh, Tidak ada yang benar-benar selesai setelah membaca. Tapi ada semacam bisikan: bahwa kesepianku bukan satu-satunya. Bahwa di luar sana ada seseorang yang pernah berada di jurang yang sama, dan menuliskannya agar tahu bahwa jurang itu bukan hanya milikkku.
Mungkin itu gunanya Matt Haig. Bukan untuk menjawab, tapi untuk menemani. Bukan untuk menunjukkan jalan keluar, tapi untuk menyalakan lampu kecil di lorong gelap. Bagaimanapun, aku tidak pernah benar-benar sendiri.