20251110 |Hujan dan Hidup

Hai, apa kabar?

Aku menulis ini sepulang dari kantor. Setelah membersihkan diri dan meminum obat-obat penenang. Tidak, aku tidak panik ataupun cemas. Aku hanya perlu obat-obatan itu untuk memicu rasa kantuk.

Sembari menunggu kantuk datang, aku duduk di ruang tengah rumahku sambil mendengarkan suara hujan. Atap rumahku memang terbuat dari seng. Hujan yang tidak terlalu lebat sudah cukup untuk menghasilkan suara yang lebih lantang dan crisp daripada white noise bawaan huawei health atau anker soundcore.

Aku tidak tahu mana yang lebih romantis, Hujan bulan Juni atau November Rain. Setiap hujan terasa sama bagiku. Dingin, Basah, Bau Tanah. Aku penasaran, seperti apa Hujan bersamamu? Apakah sama dinginnya dengan hujan malam ini? Sejujurnya Aku iri dengan dia yang pernah berbagi hujan denganmu.

Ah. Entahlah. Barangkali rasa iri dan penasaranku ini terlalu berlebihan. Sudah seharusnya aku tidak lagi mengingatmu. Kita sudah bersepakat(meski kurasa ini kesepakatan yang diambil sepihak) untuk tidak lagi bersinggungan. Maafkan aku.

Sebenarnya, aku sudah mulai terbiasa hidup tanpa mengganggumu. Aku menjalani hidup seperti robot; Bangun, Makan, Bekerja, Tidur. Begitu terus. Berulang. Tanpa memikirkan hal lain. Tapi, rasa-rasanya itu bukan gayaku. Aku tidak suka hidup yang flat. Monoton. Aku butuh hiasan kecil, seperti senyumanmu.

Aku juga sempat mencoba menabung, berinvestasi, mengumpulkan kapital sedikit demi sedikit. “Untuk esok hari”, kata orang-orang. Namun, kenangan pahit akanmu membuat “esok hari” bukan lagi suatu hal yang menarik untukku. Aku lebih cocok dengan gaya hidup nenek moyang; Bekerja hari ini, hidup hari ini. Dengan begitu, aku merasa menikmati hidupku dengan sepenuhnya. Hari demi hari.

Yaah, meski sampai detik ini pun hidupku bukan suatu hidup yang menarik. Tak ada petualangan. Apalagi kejutan-kejutan yang mendebarkan. Flat. Begini-begini saja. Tapi aku menikmati setiap detiknya.

Mungkin, ini yang dimaksud orang-orang dengan sadar posisi. Posisiku dalam hidup ya memang begini-begini saja. Aku bukan suatu entitas yang cukup berarti dalam kehidupan di dunia ini. Aku bukan kim jong un yang pernyataannya bisa membuat ketar-ketir amerika dan mengguncang semenanjung korea. Aku cuma satu momentum kecil dalam titik temu ruang dan waktu. Karenanya, untuk apa terlalu pusing. Hidupku tidak sepenting itu, cukup jalani dan menikmati setiap detiknya.