Aku sempat libur menulis jurnal harianku di Jum’at hingga senin(hari aku menulis tulisan ini). Aku lupa alasan persis mengapa aku tidak menulis dan mengunggah jurnal harian pada hari-hari itu, namun satu hal yang pasti adalah ketidakdisiplinanku. Sembari mengingat kembali apa yang aku lakukan di hari-hari itu, aku akan menulis tulisan ini.
Jum’at
Seingatku, di hari jum’at aku bangun cukup pagi. Seluruh tubuhku terasa pegal sisa aksi hari kamis kemarin. Namun di luar hal itu, aku sehat dan baik-baik saja. Aku berangkat ke kampus dan menuju kantin seperti biasa. Sambil memesan segelas es teh tawar, aku menyalakan sebatang rokok marlboro kretek. Entah mengapa aku mulai menikmati rokok merk ini. Sebelumnya aku sangat membenci rokok marlboro karena merk ini milik asing(nasionalisme bung!), tapi persetan, saat ini, dengan 11 ribu rupiah saja aku bisa mendapat sebungkus marlboro kretek. Sangat worth it dan cocok di budget harianku yang saat ini tak lebih dari seorang pengangguran.
Sembari menikmati segelas es teh tawar dan sebatang marlboro kretek, aku menghubungi bagas dan kikik. Aku bertanya apakah mereka akan ke kampus? Ternyata keduanya hari jum’at ini tidak berangkat ke kampus. Aku lupa apa alasan kikik, tapi bagas tidak ke kampus karena ia tidak bisa tidur sehabis kalah judi. Aku bisa memaklumi hal itu karena akupun pernah menjadi seorang pejudi. Satu hal yang aku tahu perihal judi adalah itu hal bodoh.
Gambling is a most foolish and imprudent pursuit.
~ Fyodor Dostoevsky
Terlepas dari itu, hal yang menarik bagiku soal judi adalah sensasi menegangkan ketika kita bertaruh. Peluang adalah serupa kucing schrodinger. Hal yang paling menarik adalah menebak dan mengetahui apa yang terjadi ketika kotak dibuka. Pada intinya, dorongan untukku berjudi adalah sensasi penasaran dengan mempertaruhkan resiko. Ketika fase depresi, aku selalu membayangkan bermain Russian Roulette. Satu banding lima. Suara putaran silinder. Sensasi menarik pelatuk. Moncong revolver di mulut. Lalu satu tarikan pada trigger dan boom. Hidup atau mati. Semua tergantung pada keberuntungan. Sensai menegangkan yang menyenangkan. Aku bersyukur tidak memiliki akses untuk memegang senjata api. Sebab barangkali aku telah mati jauh hari.
Di hari jum’at itu aku juga ingat bahwa aku mengantar adikku ke kampus. Dia ada acara di Semarang. Ini kali pertama adikku pergi ke luar kota sendirian(tanpa dampingan keluarga). Rencananya ia dan dua orang temannya akan naik bus. Meski aku tahu adikku telah dewasa(21 tahun), entah mengapa aku khawatir. Dalam pikiranku, adikku masih seorang bocah kecil. Namun aku memendam kekhawatiran itu. Aku sadar bahkan di usia yang sama dengan adikku, beberapa orang korea telah bekerja sebagai idol. Adikku telah tumbuh dan berkembang. Ia bukan lagi adik kecil yang mudah menangis. Ia telah menjelma wanita kuat yang sanggup menghadapi kejamnya dunia(meski jujur aku tetap khawatir).
Ohiya, di hari jum’at ini aku kembali sholat jum’at. Beberapa jum’at yang lalu aku sempat tidak sholat jum’at. Kondisi keimananku memang sedang dalam tahap mengkhawatirkan. Aku yakin beberapa dari kalian pasti pernah merasakan hal yang sama. Tapi urusan iman memang urusan hati. Saat aku menulis tulisan ini, aku bersaksi aku masih bertuhan. Semoga Tuhan mengembalikan hatiku padanya. Aaammin.
Aku menghabiskan jum’atku di kampus. Aku pulang ke rumah menjelang maghrib dan aku lupa apa yang aku lakukan hingga malam harinya. Sepertinya aku meminum obat dan tidur lebih awal.
Sabtu
Aku bangun terlalu siang di hari sabtu. Kalau tidak salah, aku bangun sekitar jam 13. Setelah bangun, mandi dan sarapan(atau makan siang). Aku pergi ke rumah mendiang kakekku(yang kini ditempati keluarga paklik/paman). Aku diminta bantuan oleh bulik(istri paklik) untuk mendaftarkan anaknya(keponakanku) ke antrian online rumah sakit dr.Sardjito. Sistem online seperti ini memang seyogianya memudahkan, namun bagi sebagian orang(termasuk bulik&paklikku) sistem seperti ini terlalu ribet dan menyusahkan. Ah, kita memang tidak bisa memuaskan semua orang.
Keponakanku(adik sepupu) didiagnosa sementara mengalami restless leg syndrom. Salah satu bentuk gangguan kecemasan. Hal itu membuat asumsiku bahwa aku mengalami gangguan kecemasan salah satunya karena faktor genetik menjadi lebih kuat. Barangkali memang jalur genetik keluargaku mengandung gen dominan cemas berlebih. Aku tidak menyalahkan hal tersebut. Toh bagiku gangguan kecemasan ini bukan sebuah hal yang buruk. Hanya saja kadang memang terasa mengganggu. Untungnya beberapa butir benzodiazepine masih cukup ampuh untuk mengatasinya ketika kambuh.
Aku berada di rumah mendiang kakekku hingga maghrib. Keluarga pakdheku kebetulan juga baru sampai di rumah ini dari kediamannya di semarang. Keluarga kami memang sering berkumpul di rumah kakek. Saat ini mereka ke mari untuk nyadran di hari minggu esok. Nyadran atau Ruwahan adalah momentum bagi masyarakat di jawa(atau setidaknya di kampungku) untuk berkumpul dan bersama mendoakan sanak famili yang telah lebih dahulu meninggal.
Sepulang dari rumah mendiang kakek, aku hanya menghabiskan waktu dengan merokok dan menonton drama korea. Aku berencana untuk membuat beberapa website portofolio namun entah mengapa koneksi internet di rumahku sangat buruk. Akhirnya aku meminum obat dan membaca buku hingga tanpa sadar aku tertidur.
Minggu
Di hari minggu lagi-lagi aku bangun kesiangan. Ayah dan Ibuku telah pergi ke masjid kampung untuk nyadran/ruwahan. Adikku sendiri telah pulang dari semarang dan tidur(barangkali karena kelelahan). Aku senang dan tenang adikku telah pulang. Setelah mandi dan sarapan, aku pergi ke kos Bagas. Aku sengaja pergi karena malas mengikuti nyadran/ruwahan. Bukan karena aku tidak menghargai tradisi, tetapi aku sangat benci keramaian, dan nyadran/ruwahan adalah salah satu perayaan atau kegiatan terramai di kampungku.
Di kos bagas, aku mengerjakan skripsi dan mengobrol beberapa hal dengannya. Aku sudah lupa apa yang kami obrolkan. Barangkali hanya hal-hal kosong yang tidak penting. Selebihnya aku dan Bagas saling fokus di hadapan laptop masing-masing sambil mendengarkan New Jeans(atau Jeanzforfree). Melihat langit yang mulai mendung, sekitar jam 15 aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku hanya makan dan pergi lagi. Kali ini aku pergi ke rumah kakak sepupuku. Ia memiliki bisnis jasa servis hp di rumahnya. Aku pergi ke tempat kakak sepupuku untuk menanyakan hp bagas yang rusak dan ingin dia jual. Sesampainya di sana aku malah diminta membantu memperbaiki beberapa hp. Sepertinya kakak sepupuku sedang beruntung, di hari itu ia mendapat 25 hp untuk diperbaiki. Setelah membantu memperbaiki beberapa hp. Aku dan kakakku berbincang mengenai hp Bagas. Setelah ia cek, ternyata hp bagas memang sudah tak tertolong. CPU/Emmcnya yang rusak. Ibarat manusia, otaknya sudah mati. Hp Bagas gagal terjual. Aku menghabiskan waktu di tempat kakak sepupuku hingga pukul 23. Sepulang dari sana aku langsung minum obat dan tidur.
Senin
Entah mengapa lagi-lagi aku bangun terlalu siang. Kali ini aku terbangun pukul 12:30. Setelah mandi dan sarapan, aku berangkat ke kampus. Sesampainya di Kampus, seperti biasa aku mengawalinya dengan pergi ke kantin dan memesan segelas es teh tawar dan menyulut sebatang rokok marlboro kretek. Saat menikmati es teh tawar dan rokok kretek, Aku mendapat kabar jadwal seminar proposal skripsiku. Akhirnya ada progress yang jelas perihal skripsi.
Selesai di kantin, kami (aku, Bagas, Kikik dan Ahmad) masuk ke perpustakaan kampus. Di perpus, tak banyak yang aku lakukan selain mengerjakan skripsi, mengunduh drama korea, dan menonton vidio di youtube. Aku menonton rekaman konser The End nya Black Sabbath. Luar biasa memang aura(dan suara) Ozzy Osbourne, desing gitar Tony Iommi, dan petikan bass Geezer Butler.
Menjelang jam tutup perpustakaan kampus, Kami keluar dan kembali menuju kantin. Saat itu hujan deras. Kikik dan Ahmad memilih menerobos hujan dan pulang. Aku dan Bagas memilih menunggu hujan reda. Aku merasa lapar dan memesan nasi goreng. Nasi Goreng kantin untidar memang luar biasa. Rasanya pas dan mantap. Setelah makan tentu tak lupa kuhisap lagi beberapa batang marlboro kretek. Ah, self-harm dengan rokok memang nikmat.
Sekitar jam 19, hujan mulai reda. Aku dan Bagas memutuskan untuk pulang. Sialnya motor Bagas mogok tidak mau menyala. Barangkali karena kehujanan. Aku dan Bagas yang sama-sama awam perihal motor tentu hanya bisa berusaha bergantian mengengkol motor tersebur sambil berharap agar mau menyala. Harapan kami pupus karena setelah puluhan kali mencoba, motor sialan ini tetap tidak mau menyala. Pada akhirnya kami(atau lebih tepatnya bagas) memutuskan mendorong motor tersebut dan menitipkannya di parkiran kos dekat kampus. Aku lalu mengantar Bagas pulang ke kos-nya.
Setelah mengantar Bagas, aku mendapat pesan whatsapp dari ibuku. Beliau memberi tahu bahwa adikku sedang ada kegiatan di dekat kampus dan aku diminta pulang bersama dengan adikku. Akhirnya aku menunggu adikku selesai kegiatan dan kami pulang bersama ke rumah. Sesampainya di rumah, aku makan snack yang entah darimana dan berbincang dengan adikku. Tanpa sadar perbincanganku dengan adik termasuk membahas kondisi republik yang dikelola dengan ugal-ugalan oleh pejabat sialan. Ah, sial betul kami lahir di negeri yang indah namun dikuasai orang-orang bangsat. Setelah berbincang, aku memutuskan masuk kamar dan meminum obat lalu menulis jurnal harian ini sembari mendengarkan American Idiotnya Green Day.
Welcome to a new kind of tension
All across the alien nation
Where everything isn’t meant to be okay
In television dreams of tomorrow
We’re not the ones who’re meant to follow
For that’s enough to argue