Sudah lama sekali aku tidak menulis jurnal harian. Aku jadi bingung ingin menuliskan apa. Tetapi aku ingin menulis. Apapun.

Coretan Dinding

Existensial Krisis

Aku sudah mendekati 25 tahun hidup di bumi. Pada masa ini, umum sekali manusia mengalami krisis eksistensi. Hasrat untuk menemukan jawaban tentang alasan mengapa kita hidup? Aku lupa siapa, tetapi aku pernah membaca sebuah kalimat

Man is the only creature who refuses to be what he is

Sudah merupakan sebuah naluri setiap manusia untuk mempertanyakan dan mencari alasan atau tujuan, a purpose, untuk apa dan mengapa kita hidup. Ironinya, setiap jawaban yang kita temukan(atau ciptakan) akan selalu dibersamai keraguan dan penyangkalan.

Suicidal Trap

Dalam proses pencarian alasan hidup/exist(yang dibersamai penyangkalan) itu, seringkali bermuara pada 2 hal, penerimaan dan rasa penasaran atau keraguan berkepanjangan. Rasa penasaran atau keraguan berkepanjangan itu terkadang menjelma sebuah siksa batin yang kita kenal sebagai depresi. Fase inilah yang banyak disebut sebagai Existensial Crisis. Sebuah krisis pencarian makna

Albert Camus(jika tidak salah), dalam novel dan karya-karya tulisnya menyatakan bahwa manusia pada dasarnya akan selalu mencari makna keberadaannya. Namun, semesta yang dingin tidak akan pernah memberikan jawaban(setidaknya dalam bahasa yang bisa manusia pahami). Hidup ini(menurut camus) pada dasarnya absurd. Menghadapi absurditas kehidupan, manusia dihadapkan pada dua pilihan, pilihan pertama escapism(kabur), atau menghadapi absurditas tersebut dengan gagah berani.

Escapism

Salah satu bentuk eskapisme dalam menghadapi “dingin”nya semesta menurut camus, adalah Suicide atau Bunuh Diri. Suicide tidak hanya bunuh diri secara literal, namun juga bunuh diri filosofis. Salah satu bentuk bunuh diri filosofis adalah dengan menerima faith atau jalan kepercayaan -misalnya agama. Dengan menerima suatu kepercayaan(yang tentu saja berdasar pada rasa “percaya” akan suatu hal) akan membantu manusia “kabur” dari derita akibat “dingin” dan “bisu”nya semesta.

Bagi sebagian orang, philosopical suicide tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjawab hasrat pemaknaan hidup. Sialnya, bagi sebagian lainnya tidak.

Acceptance

Alternatif lain untuk menghadapi dunia yang absurd, menurut camus, adalah dengan menerimanya. Berbeda dengan nietzsche yang penerimaan terhadap ketidakadanya makna hidup berarti nihilisme dan manusia harus berusaha sekuat mungkin untuk memperoleh kekuatan agar mencapai ubersmench. Camus beranggapan bahwa kita bisa saja menerima absurditas hidup dengan sekedar menghidupi hidup itu sendiri sambil secara sadar memberontak perasaan untuk mencari makna hidup.

Dalam mythe de sisyphus, sisifus yang dihukum oleh zeus untuk mengangkat(atau mendorong) batu besar ke puncak gunung hanya untuk kemudian jatuh ke bawah lagi. Berulang selamanya. Namun, dalam perulangan itu, seperti kata Camus

One must imagine sisyphus happy

Dalam perulangan itu, sisifus bahagia. Menghadapi hasrat akan pencarian makna keberadaan atau makna hidup, kita bisa terus menolak hasrat tersebut dan alih-alih terus mencari, kita menciptakan makna hidup kita sendiri. Apapun itu. Sebebasnya. Meski sesederhana menyeduh segelas kopi. Lalu menghidupi apapun makna hidup yang kita ciptakan dengan sepenuhnya. Dengan begitulah(menurut camus) kita bisa hidup seutuhnya.


Tulisan ini mungkin tidak jelas dan berputar-putar. Tapi, persetan. Aku hanya menuliskan apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Saatnya meminum clozapin, diazepam, clobazam, thrihexypenidyl, dan sertraline lalu tidur.

Kepada kalian yang membaca tulisan ini. Aku sayang kamu.