Aku mengetik tulisan ini pukul 00:30 WIB. Aku mengetik ini dengan jari-jari yang lebih fasih berbicara tentang kecemasan daripada teori Foucault. Semester 12, dan skripsiku masih berupa kumpulan draf yang lebih absurd dari senyum Monalisa. Suara jam dinding berdetak seperti mengejek: “Masih hidup? Masih mencoba?” Hari ini hari ke-14 Ramadhan(seingatku), tapi jari-jari ini lebih setia pada rokok ketimbang tadarus. Marlboro Kretek biru seharga 11ribu limaratus sudah habis separo, dibakar diam-diam di balik tirai jendela dan kantin kampus, asapnya menyelinap keluar seperti dosa-dosa kecil yang kubisikkan pada malam. Orang tua di kamar sebelah sudah tidur. Aku bisa mendengar dengkur ayahku—ritme yang lebih konsisten daripada tracking pixel di dashboard meta ads-ku.
Isi dompetku masih 2 ribu. Tadi malam, sisa uang beli obat maagh untuk adikku dari ibu kusimpan untuk beli rokok. Harga yang mahal untuk penebus rasa bersalah, pikirku. Tapi di kamar 3×3 ini, rasa bersalah adalah tembok yang sudah lapuk—dipenuhi coretan-coretan bait puisi dan keluh kesah tak jelas. Obat-obatan di meja berjejal dengan sampah rokok. Aku tidak tahu mana yang lebih membunuh: dosis harian SSRI atau keputusasaan yang mengkristal di langit-langit kamar. Tadi malam, aku mencoba menggugat Tuhan lagi—sekadar iseng—dengan argumen Robert Sapolsky:
Jika semua perilaku manusia hanya hasil dari biologi dan lingkungan, lalu di mana ruang untuk dosa?
Tidak ada jawaban.
Skripsiku—tentang metafora dalam lirik “.feast”—terbuka di layar. Kursor berkedip di paragraf yang terpotong: “Metafora ‘lara’ di sini bukan sekadar…”. Bukan sekadar apa? Aku tak tahu. Otak ini terlalu lelah berpikir, terkoyak antara analisis semiotik dan brief klien yang meminta “konten viral buat promo Ramadhan, tapi relatable“. Aku menatapnya sambil bergumam: “Relatable seperti apa? Seperti dompet 2 ribu dan rokok 11 ribu? Seperti skripsi yang jadi running joke di keluarga?”
Sentraline dan Diazepam di meja tak lagi mempan. Aku sudah minum sesuai resep, tapi mata ini terjaga, menatap langit-langit yang retak seperti pola funnel marketing yang gagal total. Klien mengirim email: “Revisi terakhir, ya. Kita mau lebih fresh dan Ramadan vibe.” Aku ingin menjawab: “Fresh seperti udara kamarku yang lembap? Ramadan vibe seperti merokok diam-diam di siang hari bolong?” Tapi ku-balas: “Oke, Mas. Nanti saya adjust.”
Di luar, suara angin malam berdesir lewat jendela. Tak ada bulan. Tak ada bintang. Hanya lampu samar rumah tetangga yang berkedip-kedip, seakan menertawakan CTR iklanku yang 0,3%. Aku ingat kata-kata Camus:
Absurd adalah ketegangan antara pencarian makna dan kosongnya semesta.
Skripsiku adalah absurditas itu sendiri—usaha nekat memberi makna pada metafora, sementara hidupku sendiri jadi metafora yang tak terpecahkan.
Robert Sapolsky bilang
otak manusia hanyalah mesin yang bereaksi pada kimia.
Mungkin itu sebabnya Diazepam dan rokok kretek adalah ritual wajibku saat puasa—dua bentuk “ibadah” untuk menenangkan neuron-neuron yang memberontak. Kadang aku bertanya pada diri: Apa bedanya puasa dengan procrastinasi? Sama-sama menahan diri, tapi satu dianggap suci, satu dianggap gagal.
Pukul 00:45 WIB. Aku menutup laptop. Skripsi dan dashboard Meta Ads menghilang, digantikan bayanganku di layar hitam. Kubaringkan badan di kasur yang lembap, membuka hp, mengecek notifikasi whatsapp yang kosong. Fokusku berubah pada foto Ryujin yang kupasang jadi wallpaper whatsapp. Aku jatuh cinta pada ilusi, pikirku. Tapi bukankah semua cinta begitu?
Sebelum tidur, kubuka lagi MV Wannabe-nya ITZY. Kupandangi Ryujin menari, aku menatap layar sambil berpikir lagi: “Inikah cinta? Mengidolakan sesuatu yang tak akan pernah tahu kita ada?” Tapi bukankah Tuhan juga begitu? Diam, tak menjawab, sementara kita terus berdoa lewat ritual-ritual absurd serupa pengidap OCD. Camus pasti tertawa. Aku tak bergerak. Puasa besok? Mungkin. Tapi malam ini, aku sudah puasa dari harapan.
Untuk kalian yang senggang dan tersesat membaca tulisan ini: maaf, tak ada hikmah ramadhan atau ilmu di sini. Hanya seorang mahasiswa tua setengah pengangguran setengah buruh digital partikelir berdompet isi 2 ribu rupiah, terjebak di antara bising pikiran tak jelas, marlboro kretek, dan kamar sempit yang menyimpan semua pertanyaan yang tak layak dijawab.