Hai,
Malam ini, aku menelan kegelapan—
butir-butir sertraline, diazepam, dan clobazam hancur di kerongkongan, berubah menjadi debu penanggal waktu menuju kehancuran.
Insomnia menyayat setiap detik,
membawa aku ke ambang kekosongan yang mencekam,
sebuah kehampaan yang meremukkan segala keyakinan,
hingga setiap dogma luluh dalam keraguan dan pengap keputusasaan.
Di tengah kegelapan,
bayangmu muncul seperti bara kecil menjelang padam,
membawakan kehangatan yang fana serupa serpihan neraka,
sebuah pertemuan tanpa kata—
di mana tatapan dan sentuhan berbicara dalam diam,
mengusik setiap bagian tubuh dengan bisikan intim yang sedikit demi sedikit menggelora—perlahan meniti dosa.
Sentuhan-sentuhan itu, serupa sayatan yang mengoyak keheningan.
mengiringi tubuh kita menari dalam ironi—pergulatan hasrat yang menggeliat dan keinginan untuk hilang.
Kita menjadi bahasa tanpa kosa kata,
sebuah prosa keabadian sementara.
mengubah garis-garis derita di tangan menjadi desah-desah perlawanan.
Aku teringat pada kata-kata Chairil:
Bukan maksudku berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, namun sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Pernah aku ingin benar padamu,
Di malam raya, jadi kanak lagi
Ku peluk cium kau tak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu denganku
Aku memang tak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!
Kita,
dua tubuh telanjang yang menjelma satu jiwa telentang di ranjang kehampaan,
mengutuk satu sama lain sebagai pelarian.
Tak ada janji akan masa depan—
hanya naluri dasar yang membara,
mencipta kehangatan sejenak di antara dingin dan diam semesta.
Setelahnya kita terkapar melampaui batas-batas moral,
di mana cinta, meski fana,
menjelma satu-satunya kebenaran yang tersisa berwujud butir-butir keringat dan napas-napas berat.
Sebelum akhirnya larut dalam sunyi,
tenggelam dalam kekosongan tak bertepi.