Aku duduk di bangku paling pojok Taman Pancasila. Langit Magelang malam ini terlalu jujur—tidak ada awan yang mau menutupi rembulan. Tangan kananku memegang Marlboro Kretek 11.500, tangan kiri mengusap leher yang masih terasa panas bekas cekikan rutinitas. Puasa? Ya, aku berpuasa. Tapi bukan pada rokok. Bukan pada pertanyaan-pertanyaan yang menggerogoti tulang rusuk. Aku hanya puasa dari kewarasan.
Bulan itu menggantung. Hanya terlihat setengah-waning gibbous, sisanya tertelan gelap, seolah melambangkan kepengecutanku. Aku ingin mendekapnya, pikirku. Menyentuh permukaannya yang dingin, memastikan apakah kawah-kawah di sana lebih dalam daripada luka di pergelangan tanganku. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tak sanggup mendekap bayangan sendiri di pantulan air.
Di kejauhan, suara tadarus bersahutan dari masjid dekat taman. Mereka melantunkan ayat-ayat tentang surga, sementara aku sibuk menghitung berapa banyak pejabat kota yang parkir mobil mewah di depan rumah dinas tanpa malu. Inikah puasa? Menahan lapar sambil menelan kegetiran yang rasanya lebih asam daripada belimbing wuluh.
Aku ingat sore tadi, seorang bapak-bapak lewat, mata melotot melihat rokok di tanganku. “Ngerokok pas Ramadhan? Dosa itu!” Aku menghela asap. Dosa? Aku sudah lama berhenti percaya dosa. Yang ada hanyalah orang-orang seperti Jenderal Itu yang menyembah uang di siang hari, lalu sujud syafaat di malam hari. Aku lebih jujur: menyembah kegelapan yang tak pernah menjawab.
Rembulan bergerak pelan. Aku membayangkan jika suatu hari nanti dia jatuh—mungkin seperti meteor yang membakar langit, atau seperti koin recehan yang diinjak-injak pedagang kaki lima. Akan kukejar dia, gumamku. Tapi kakiku terasa berat. Masih terikat janji pada psikiater untuk tidak lari dari sertraline, pada Ibu di rumah untuk tidak bolos tarawih lagi, dan pada diri sendiri untuk menyelesaikan skripsi yang bab empat-nya entah sampai mana.
Anak-anak berlarian di halaman taman depan kolam. Mereka bermain petak umpet. Aku iri. Hidupku juga permainan petak umpet: bersembunyi dari pertanyaan “kapan lulus?”, dari ajakan “tarawih yuk!”, dan dari bayanganmu dulu yang selalu bilang, “Kamu terlalu banyak berpikir, nanti cepat tua.”
Rokok kedua. Asapnya kubentuk seperti lingkaran—mirip cincin Saturnus yang rapuh. Kuingat kata Camus: “Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia.” Tapi bagaimana membayangkan kebahagiaan saat batu yang kudorong adalah mayat-mayat kepercayaan yang sudah kukubur di taman ini?
Tiba-tiba, rembulan tertutup awan. Aku tersenyum getir. Dia pun menjauh. Mungkin takut pada manusia sepertiku yang ingin mendekapnya hanya untuk bertanya: “Apakah kau juga kesepian di sana? Apakah kau pernah melihat Tuhan saat mengelilingi bumi yang kami penuhi dengan sampah dan pekik revolusi?” Aku membuka notes HP, di sana kutuliskan puisi:
Aku ingin mendekap rembulan, sekali saja
sebelum dunia ini pura-pura sembahyang
dan menyuruhku menunduk
pada ilusi yang mereka sebut iman
Besok, mungkin aku akan kembali ke sini.
Atau mungkin tidak.
Tapi malam ini—
dengan rokok, rembulan, dan segala yang tak terjawab—
biarkan aku menjadi Sisyphus yang memilih
untuk tidak bahagia.