Hai. Sudah satu bulan lebih aku tidak menulis jurnal (yang seharusnya) harian ini. Jika diminta mencari alasan, aku bisa menemukan banyak hal yang menjadi alasan mengapa beberapa waktu ini tidak menulis. Alasan-alasan yang sebenarnya hanya perpanjangan dari rasa malas. Barangkali mungkin juga karena aku sedang tidak resah. Seperti sebuah tulisan(yang aku lupa karya siapa), manusia cenderung menulis ketika ia resah dan sedang tidak baik-baik saja.

Tulisan ini pun lahir dari ke-tidak-baik-baik-saja-an-ku. Aku menulis ini karena aku sedang terkena serangan panik. Aku merasa nafasku berat. Tubuhku dingin. Jantungku bedebar. Tanganku gemetar. Aku merasa akan pingsan.

Aku tahu semua itu “hanya” sensasi. Sensasi yang sudah lama tidak muncul dan sialnya saat ini muncul kembali tanpa aba-aba. Aku sudah mencoba teknik “grounding” dan mengatur pernapasan. Aku juga telah meminum clobazam, sertraline, juga diazepam. Namun rasa “panik” ini tetap muncul berulang.

Aku sudah beberapa kali melewati serangan panik. Aku sadar betul bahwa aku akan baik-baik saja, tetapi kesadaran itu kalah oleh sensasi-sensasi sialan yang aku rasakan. Aku coba memikirkan penyebab serangan panik kali ini, tetapi terus berpikir tidak membantu kepanikanku berkurang. Yang tetap ada hanyalah sensasi-sensasi yang terasa sangat nyata dan menyiksa.

Aku menulis tulisan ini agar aku memperoleh kembali kendali atas pikiranku. Bahwa setelah ini aku akan baik-baik saja. Bahwa sensasi ini hanya sementara.