Is Sisyphus happy?

Ketika itu dini hari. Aku sedang khusyuk menikmati insomniaku yang tak pernah pergi. Tiba-tiba muncul notifikasi whatsapp dari seorang kawan lama yang dulu kerap menemaniku berpetualang di dunia malam jogja. Sebut saja ia Azkas. 

“Kiro-kiro Sisyphus bahagia tenan ra yo karo urip e?” Chat singkat dari Azkas. Ketika itu aku hanya menjawab singkat pula “Bolo, seperti kata Camus, we must imagine sisyphus happy. Thats it. Thats all.” Tapi malam(atau pagi) ini, pertanyaan singkat Azkas itu kembali menghantam pikiranku. “Is Sisyphus happy?”

Jawaban singkatku dulu “we must imagine Sisyphus happy” terdengar begitu manis, begitu final. Seolah menyelesaikan segalanya. Tapi kini aku sadar, itu hanya seperti obat tidur: menenangkan, bukan menyembuhkan. Dan malam ini, aku tidak ingin ditenangkan. Aku ingin menggali.

Apakah benar kebahagiaan bisa hadir di tengah ketakbermaknaan yang mutlak? Atau kita cuma menyisipkan kata “bahagia” di situ, supaya absurditas itu tak terlalu menyakitkan untuk ditatap?

Camus bilang, dengan menyadari absurditas dan tetap memilih untuk hidup, di situlah letak pemberontakan. Dan pemberontakan itu, katanya, cukup untuk memenuhi hati manusia. Tapi cukup bukan berarti bahagia, kan?

Barangkali Sisyphus tidak bahagia. Tapi ia tidak juga menderita.

Ia hanya… ada. Mendorong. Turun. Mengulang.

Di sela-sela itu, mungkin ia berpikir tentang hari-hari ketika ia masih fana, ketika para dewa belum menjadikannya mitos. Ia mengingat senyum kekasih yang samar, bau tanah yang belum dikutuk abadi. Tapi semua itu hanya kenangan yang menguap di tengah lereng berbatu.

Sisyphus bukan alegori kemenangan manusia atas absurditas. Ia adalah potret paling jujur dari kita semua. Orang-orang yang tahu hidup ini tak mengarah ke mana-mana, tapi tetap bangun pagi, tetap menyeduh kopi, tetap bekerja, tetap mencintai orang-orang yang akan pergi juga pada akhirnya.

Dan jika benar kita harus membayangkan Sisyphus bahagia, maka mungkin kita harus mengakui juga: kebahagiaan semacam itu bukan tawa, bukan euforia, bukan pelangi yang muncul setelah badai.

Kebahagiaannya mungkin cuma ini: kesadaran bahwa ia tidak perlu mencari makna lagi.

Bahwa batu itu, bagaimanapun berat dan tak masuk akal, adalah satu-satunya hal yang nyata.

Kita membayangkan Sisyphus bahagia karena kita butuh ia bahagia.

Sebab jika tidak, lalu untuk apa semua ini?

Tapi jika kau tanya aku—bukan Camus, bukan filsuf mana pun—aku akan bilang:

Sisyphus tidak bahagia. Tapi ia bebas.

Dan kadang, itu cukup.

…atau tidak?

Sebab apa gunanya kebebasan kalau ia dilahirkan dari sesuatu yang tak bisa kau tolak?

Jika batu itu bukan pilihanmu?

Apakah menerima takdir adalah bentuk kebebasan, atau hanya cara paling rapi untuk menyerah?

Kita—termasuk aku yang sedang mengetik ini sambil mengulang-ulang “we must imagine sisyphus happy” di kepala—begitu cepat menyebut penerimaan sebagai kebebasan.

Padahal jika kita jujur, Sisyphus tidak bebas. Ia tidak bisa berhenti. Tidak bisa memilih untuk mati. Tidak bisa duduk di bawah pohon dan tidak melakukan apa-apa. Kebebasan, setidaknya dalam bentuk paling dasar, adalah kemampuan untuk memilih. Dan semua itu telah direnggut darinya.

Tapi, di sinilah letak yang menarik:

Jika Camus menempatkan pemberontakan sebagai bentuk tertinggi dari keberadaan dalam absurditas, maka Viktor Frankl—seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi—menawarkan versi lain dari kebebasan:

“Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms — to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.”

— Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning

Bahkan dalam kondisi di mana manusia menjadi angka, tubuh menjadi beban, dan hidup kehilangan harga, Frankl berkata bahwa satu hal tetap milik kita: sikap kita terhadap penderitaan itu sendiri.

Tapi apakah Sisyphus punya kebebasan untuk memilih sikap?

Atau ia hanya diam karena sudah kehilangan daya untuk melawan?

Camus mencoba menyelamatkan Sisyphus dari penderitaan absolut dengan menyelipkan satu kalimat yang melegenda. Tapi kalimat itu bukan kesimpulan logis, melainkan semacam doa. Doa yang diucapkan oleh manusia yang tahu hidup ini tidak masuk akal, tapi masih ingin tetap hidup.

Maka, kalaupun Sisyphus tampak bebas, itu bukan karena ia benar-benar bebas, melainkan karena kita memproyeksikan harapan kita sendiri ke dalam penderitaannya. Kita butuh ia bahagia, kita butuh ia bebas, agar hidup kita sendiri yang berputar-putar ini tidak terasa sia-sia.

Dan jika kita mengakuinya—bahwa Sisyphus tidak bahagia dan tidak bebas—lalu apa yang tersisa?

Kesadaran.

Kesadaran bahwa tidak semua yang terus berjalan adalah bentuk kebebasan. Tidak semua yang menerima nasib adalah tanda kedewasaan. Kadang itu hanya bentuk lain dari kelelahan. Bentuk lain dari diam karena tak tahu harus berontak ke mana.

Tapi barangkali di situlah letak kekuatan sebenarnya:

bukan pada kebebasan yang dirayakan, tapi pada kesunyian yang ditanggung tanpa penghiburan.

Pada ketabahan yang tidak memerlukan sorak-sorai.

Pada seorang manusia—atau dewa yang dilupakan—yang terus mendorong batu, karena ia tahu:

kalau bukan aku, lalu siapa?

Malam ini aku akhirnya bermuara pada pertanyaan lain.

“Apakah batu yang didorong Sisyphus itu berat karena ukurannya, atau karena tak pernah ada yang peduli?”