Rabu Kamis Perjuangan

Pamflet Aksi Demonstrasi

Rabu

Rabu kemarin aku luput menulis jurnal harian karena mengakhiri hari terlalu malam. Aku memulai hari rabu-ku dengan berangkat ke kampus seperti biasa. Selepas dua batang rokok dan segelas es teh tawar, aku berencana berpindah dari kantin ke perpustakaan kampus dan bergumul dengan skripshit.

Belum habis rokok kedua, aku mendapat pesan dari Mas Panji(Senior SMA sekaligus partner diskusi dan bisnisku-meski tidak jelas). Dia mengundangku ke rumahnya. Sebagai mahasiswa tua yang siap melakukan apapun asal bukan skripsi, aku mengiyakan undangannya tanpa berpikir dua kali. Lima belas menit kemudian, aku telah berada di beranda rumah Mas Panji.

Kami berbincang tentang banyak hal. Mulai dari kondisi republik saat ini, hingga prospek bisnis yang akan kami coba jajaki. Ada satu hal yang menarik setiap berbincang dengan Mas Panji, dia selalu berbicara dengan kerangka berpikir(yang menurutku) terlalu biologis(atau darwinis lebih tepatnya) dengan tambahan sifat psikologi dasar manusia. Hal itu mengingatkanku pada kelas-kelas Human Behavioral Biology-nya Robert Sapolsky. Hal itu juga yang membuatku betah berbincang hingga menjelang maghrib.

Pulang dari beranda rumah Mas Panji, aku mendapat undangan dari Mas Ridwan(kali ini seniorku di sebuah organisasi ekstra kampus) untuk merapat ke Taman Pancasila. Kami (aku dan Mas Ridwan) menjadi bagian dari aliansi beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus di magelang. Aliansi ini berencana mengadakan aksi demonstrasi menanggapi ketidakbecusan pengurus republik dalam mengurusi rakyatnya. Dengan sisa semangat hasil berbincang dengan Mas Panji soal kondisi republik saat ini, aku mengiyakan undangan Mas Ridwan.

Malam itu sedikit gerimis. Di remang-remang depan patung mendiang jenderal Ahmad Yani, aku, Mas Ridwan, dan kawan-kawan aliansi organisasi mahasiswa berkumpul dan berdiskusi perihal aksi demonstrasi yang akan dilakukan esok hari. Dengan banyaknya kepala yang saling bertukar pikir, diskusi ini baru selesai jam 1 pagi hari kamis. Beberapa jam sebelum kami memulai aksi.

Kamis

Dengan kesadaran yang belum penuh, aku memaksakan diriku untuk bangun dan mandi lebih pagi. Aku meminta Bagas(teman sekelasku) untuk menemaniku di aksi kamis ini. Sekitar pukul 11 kami sudah berkumpul bersama beberapa kawan dari organisasi lain di depan gedung DPRD. Setelah masa semakin banyak, kami melangsungkan aksi dengan bergantian menyampaikan orasi.

Aku rasa tidak perlu menceritakan perihal poin-poin tuntutan aksi yang hari ini kami lakukan. Aku juga merasa semua orasi yang kami lakukan tak akan memberikan dampak apapun. Tapi, setidaknya kami bersuara dan menunjukkan sikap. Sebenarnya aku sudah bosan dan jenuh dengan segala bentuk aktivisme seperti ini, namun dalam aksi hari ini aku seperti menemukan sedikit nostalgia tentang semangatku di era mahasiswa baru.

Nostalgia itu menguat setelah aku bertemu Bang Ncis(Sosok legenda aktivis kampusku). Aku yang rutin membaca tulisan-tulisannya(sebab dia sudah lulus lama dari kampus sedang aku masih terjebak di kampus), kini berkesempatan langsung untuk mengenang masa-masa lalu bersama. Masa ketika bara hidupku masih membara dan siap menghadapi apa saja dengan ceria. Meski sesaat, kenangan itu seperti memunculkan nyala baru dalam tubuhku.

Kami melakukan aksi hingga pukul 15:30. Tuntutan kami diterima oleh perwakilan dewan dan diteruskan langsung ke DPR RI pusat saat itu juga. Sejujurnya aku tidak peduli. Sebab pada akhirnya para anggota dewan tak lebih dari sekedar perpanjangan partai(yang kini tak ada bedanya dari kartel dan mafia).

Selesai aksi aku pergi ke kampus untuk menyantap nasi goreng dan dua gelas es teh tawar. Rasanya nikmat sekali. Saatnya menutup dengan sebatang marlboro kretek. Belum habis sebatang, aku mendapat pesan masuk. Salah satu website yang aku bangun dan kelola terkena hack. Ah, sialan. Hidup memang tak pernah berhenti memberi kejutan. Rokok marlboro kumatikan. Aku memutuskan pulang.

Aku berakhir menatap layar monitor dari maghrib hingga pukul 23:00. Mataku terasa pedas meneliti tiap file dan tiap baris kode. Selesai dengan urusan website. Aku merokok sebatang, meminum obat, lalu menulis tulisan ini. Aaargh, seluruh tubuhku rasanya lelah sekali. Tapi aku menikmati hari ini. Semoga kamu juga menikmati harimu.

Akan selalu ada mendung bergelayut
Kala dibantai tanpa ujung
Kala mengalah
Kala hidup tak berarti apapun
Dan kala kematian datang

Tapi tidak hari ini
Niscaya terbungkam,
Tidak hari ini
Langit pasti menutup,
Tapi tidak hari ini

~ Morgue Vanguard – Kontra Muerta