Selasa : Rahma sang juru selamat, Bagas yang malang, dan Linggar kawan semua orang

Aku mengawali hari selasa dengan bangun pagi hari(setidaknya lebih pagi dari hari-hari sebelumnya).  Setelah sarapan, aku menuju ke kampus seperti biasa. Sesampainya di kampus, aku menaruh tasku di loker perpustakaan lalu keluar dan pergi menuju kantin. Seperti hari-hari sebelumnya, aku memesan es teh tawar dan menikmatinya bersama rokok marlboro kretek.

Sembari mengamati mahasiswa yang lalu lalang di jalan depan kantin, aku mengirim chat whatsapp kepada Bagas untuk mengabarinya bahwa aku berangkat ke kampus. Bagas menjawab juga akan ke kampus namun butuh tumpanganku(seperti yang kuceritakan di hari sebelumnya, motor bagas mogok tak mau jalan). Aku mengiyakan permintaannya dan memintanya untuk menunggu sejenak aku menghabiskan es teh tawar. Sedang asyik menghisap asap tembakau, aku menerima sebuah pesan suara. Ternyata dari Mas Zakiy(mantan bosku di kantor lama), beliau meminta bantuanku(atau memberi pekerjaan) untuk menginstall sistem operasi fydaOS di perangkat komputer kasir sebuah minimarket.

Aku menimbang sejenak dan bersama hembusan asap dari mulutku, aku memutuskan untuk menerima pekerjaan tersebut. Pikirku, menginstall sebuah sistem operasi bukanlah hal yang rumit. Lagipula lokasi minimarket tidak terlalu jauh dari Kos Bagas. Aku mengabari Mas Zakiy bahwa pekerjaan akan aku lakukan setelah menghabiskan sebatang rokok dan segelas es teh tawar. Kira-kira pukul 10 aku menuju kosan Bagas. Sesampainya di sana, kulihat ia sedang bersiap memakai sepatu. Setelah Bagas naik ke jok belakang sepeda motorku, aku bilang padanya bahwa kita akan mampir sebentar ke sebuah minimarket karena aku ada pekerjaan di sana. Bagas tak keberatan. Tanpa berlama-lama akupun memacu sepeda motorku ke minimarket tempat Mas Zakiy memberiku pekerjaan.

Sesampainya di minimarket, aku berbincang sejenak dengan pramuniaga di sana. Sekedar perkenalan dan basa-basi. Salah satu yang kuingat bernama Sherly. Dipandu mbak Sherly, aku beranjak ke komputer kasir yang akan diinstall fydaOs. Aku bilang kepada beliau bahwa proses instalasi akan memakan waktu kurang lebih sekitar 30 menit, dan selama itu untuk sementara komputer kasir tidak bisa digunakan. Beliau tidak keberatan dan melanjutkan pekerjaannya. Begitupun denganku, aku mulai fokus mengerjakan pekerjaanku. Sedang asyik berkutat dengan komputer, tiba-tiba masuk sebuah chat whatsapp. Ternyata dari Bagas, dia bilang ada urusan dengan temannya dan izin meninggalkanku sejenak. Aku tak keberatan. Tak sempat melihat Bagas pergi, aku kembali fokus pada pekerjaanku.

Sekitar jam 11, pekerjaanku tuntas. Aku mendokumentasikannya lalu mengirim laporan kepada Mas Zakiy. Tak lupa, aku juga mengajarkan cara booting fydaOs kepada Mbak Sherly dan pramuniaga lainnya. Setelah bertukar kontak dan berpamitan, akupun pergi dari minimarket tersebut menuju kantin kampus kembali. Sesampainya di kantin, aku kembali memesan segelas es teh tawar dan duduk di meja pojok. Sesaat menyedot kesegaran es teh tawar, aku mendapat chat whatsapp lagi. Kali ini dari Linggar. Dia bertanya di mana posisiku saat ini. Aku memberitahunya bahwa aku sedang ada di kantin kampus. Ia lalu membalas dengan mengatakan akan menuju ke kantin kampus juga. Aku hanya membaca sejenak chat linggar tersebut dan kembali larut dalam kesegaran es teh tawar juga aroma tembakau racikan marlboro.

Tak lama kemudian, Linggar sampai di kantin. Kami berbincang banyak hal, dan banyak dari yang kami bincangkan adalah hal-hal tak penting namun menyenangkan. Begitulah, terkadang tak perlu topik penting untuk sebuah perbincangan. Apapun asalkan menyenangkan. Tak lama kemudian, Bagas datang menyusulku ke kantin. Ia membawa helm namun tanpa mengendarai motor. Ternyata ia berjalan kaki dari kos temannya. Terkadang aku tidak memahami jalan pikiran Bagas, namun begitulah dia.

Perbincangan kosong berlanjut dengan asyik. Beberapa mahasiswa se-meja kami(yang aku yakin adalah mahasiswa semester awal) bahkan ikut bergabung dalam perbincangan kosong ini. Ditengah asyiknya perbincangan, datang seorang kawan, namanya Mas Kalam. Sebenarnya aku tidak terlalu kenal dengan Mas Kalam, yang jelas adalah Mas Kalam kawan linggar dan Aku juga kawan linggar, dengan begitu kami secara otomatis adalah juga saling berkawan. Tidak lama berselang, datang lagi seorang kawan yang lain. Kali ini Mas Gilang. Sama seperti Mas Kalam, akupun mengenalnya karena kami(aku dan Mas Gilang) sama-sama kawan Linggar.

Sekitar pukul 14, aku dan Bagas memutuskan untuk masuk ke perpustakaan kampus. Sebelum masuk ke perpustakaan, Bagas pergi sejenak menuju sepeda motorku untuk menaruh helmnya. Perpustakaan cukup penuh kali ini. Untungnya ada 2 kursi kosong di sudut. Aku dan Bagaspun segera menduduki kursi tersebut. Aku meminta tolong pada Bagas untuk membuatkanku nomor halaman dan daftar isi pada draft proposal skripsiku. Ia tak keberatan.

Cukup lama Bagas berkutat dengan laptop dan draft proposal skripsiku, namun Ia masih kesulitan untuk membuat nomor halaman. Di tengah keputusasaan kami berdua, aku teringat Rahma. Aku meminta bantuan Rahma via chat. Seperti dugaanku, Rahma tak keberatan membantu. Selang beberapa menit, nomor halaman dan daftar isi dalam draft proposal skripsiku telah jadi dengan sempurna. Rahma memang hebat. Aku tak berlebihan jika menyebutnya sebagai juru selamat.

Fokus di depan laptop mengutak-atik draft proposal skripsi membuat aku dan Bagas tak sadar bahwa ternyata di luar hujan deras. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan sembari menunggu reda. Menjelang jam tutup perpustakaan, ternyata hujan masih deras. Kami lalu memutuskan berpindah ke kantin.

Di kantin, lagi-lagi aku memesan segelas es teh dan menyulut rokok marlboro kretek. Ah, nikmat betul. Tak terasa rokokku tinggal sebatang. Kulihat sekeliling, sepertinya hujan masih lama untuk reda. Aku lalu mengais-ngais recehan di tas selempangku. Terkumpul 2500 rupiah. Cukup untuk sebatang rokok surya. Aku pun bergegas menukarkan recehan tersebut dengan sebatang surya. Belum sempat aku sulut, sebatang rokok surya itu jatuh di atas meja yang basah. “Sialan”, batinku. Aku mencoba mengambilnya, namun terlambat, rokok sudah terlalu basah dan pada akhirnya patah. Ah, sudahlah. Aku pun hanya pasrah sambil menghela nafas panjang.

Surya yang patah

Selepas maghrib hujan mulai reda. Aku dan Bagas bersepakat untuk meninggalkan kampus. Di parkiran, ternyata helm milik Bagas basah kuyup terkena limpahan air hujan dari atap. Ia hanya tertawa pasrah dan sedikit mengumpat. Aku dan Bagas lalu berboncengan menuju kos tempat Bagas menaruh motornya(yang sejak kemarin mogok tidak bisa menyala).  Setelah mencoba menghidupkan beberapa kali, ternyata motor Bagas masih belum mau menyala. Kemalangan sepertinya berkawan baik dengan Bagas minggu-minggu ini.

Sadar diri bahwa aku dan Bagas sama-sama awam perihal motor, aku menghubungi Linggar untuk meminta bantuan. Tak lama ia datang. Motor Bagas dibawanya ke depan kosan(yang juga kios-kios). Beberapa orang terlihat sedang nongkrong di depan kios tembakau. Melihat Linggar, mereka mendekat dan menyapa. Pada titik ini, kurasa Linggar adalah kawan semua orang di Magelang(atau bahkan luar Magelang). Seorang kawan Linggar(yang sampai saat ini belum kuketahui namanya) bahkan ikut membantu memperbaiki motor Bagas. Setelah bersusah payah(Linggar dan kawannya), motor Bagas akhirnya berhasil menyala kembali. Saat itu waktu sudah menjelang pukul 20. Aku memutuskan untuk berpamitan lebih dulu karena masih harus ke tempat Deri untuk meminjam kemeja putihnya.

Sekitar pukul 20:15 aku sampai di kediaman Deri. Ia langsung memberikanku kemejanya. Aku duduk sejenak di rumahnya sambil bermain dengan kucing Deri yang dahulu diadopsinya dariku. Si Kucing tampak sehat dan hidup layak. Aku bersyukur Deri merawatnya dengan baik. Setelah mencoba kemeja Deri dan ternyata pas di tubuhku, aku memasukkannya ke dalam tas dan berpamitan untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku berganti pakaian, minum obat, dan menulis tulisan ini sembari mendengarkan album terbaru G-Dragon yang rilis hari ini. Ah, selasa yang cukup panjang. Bagaimana dengan selasa-mu? Aku sungguh ingin mendengar kisahmu. Apakah sama panjangnya dengan selasa-ku? Aku berharap mendengar cerita tentang selasa-mu dari bibir mungilmu. Lovyu.