Rabu : Sebuah Persembahan untuk Teman-Teman

Aku seharusnya menulis jurnal ini kemarin malam, tetapi aku tertidur lebih awal tanpa sempat menulis apapun. Aku mengawali hari rabu dengan penuh semangat. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dijadwalkannya seminar proposal skripsiku. Aku menyiapkan segalanya sejak pagi hari.

Aku berencana menjalani seminar proposal skripsi(yang dilakukan secara online) di kedai klasik. Sebuah kedai dekat kampus. Aku memilih kedai klasik karena menurutku tempat itu nyaman dan mempunyai jaringan internet yang memadai. Sekitar pukul 10 aku sudah sampai di kedai klasik. Aku memesan segelas jahe lemon dan sepiring kentang goreng. Setelah meminta rol kabel dan asbak, aku menyalakan laptopku dan menghubungkannya dengan charger serta jaringan wifi. Tak lupa, kunyalakan sebatang marlboro kretek merah untuk menetralisir sisa kantuk akibat obat-obatan yang aku minum semalam.

Aku berencana untuk mempelajari kembali draft proposal skripsiku barang sejenak, namun baru membaca halaman pertama perutku sudah terasa mual. Akhirnya kuputuskan untuk membuka youtube dan memutar lagu-lagu Dream Theater, Nirvana, Greenday, Guns N Roses, hingga David Bowie. Sembari mendengarkan lagu-lagu tersebut dengan khusyuk, tanpa sadar aku membakar kembali beberapa batang marlboro kretek. Keringat mulai muncul di tubuhku, entah karena aku gugup atau memang cuaca yang panas, lagipula kedai klasik memang tak memiliki pendingin udara.

Aku putuskan mengganti tayangan di youtube dengan vidio-vidio k-pop. Aku bukan penggemar K-Pop, namun tak bisa kusangkal bahwa visual idol K-pop memang hal yang menyenangkan dan menggembirakan untuk ditonton. Terkadang aku ragu, apakah ini bentuk objektifikasi perempuan(atau juga laki-laki)? Tapi persetan, aku sedang dalam keperluan untuk menghilangkan rasa gugupku. Tak ada waktu untuk berpikir filosofis. Aku memutar beberapa fancam sullyoon Nmixx. Entah mengapa, hanya melihatnya tersenyum saja membuatku sedikit lebih tenang.

Tak terasa, waktu menuju pukul 13. Tepat pelaksanaan seminar proposalku. Aku sempat panik karena belum mendapat moderator. Untungnya wisnu bersedia. Aku membuka kembali draft proposalku, ah sialan, mual itu muncul lagi. Aku memutuskan untuk melakukan presentasi tanpa membaca draft proposal terkutuk itu. Whatever happens, let it be pikirku. Singkat cerita, seminar proposalku pun berlangsung. Aku mempresentasikannya dengan setengah sadar(sumpah, gangguan kecemasan ini mengacaukan segalanya). Yang kuingat, tiba-tiba sudah sampai sesi tanya jawab. Aku hanya mengangguk dan menanggapi semua saran maupun kritik dengan seadanya. Pada akhirnya, proposalku dinyatakan lulus oleh dewan penguji(suatu hal yang sudah kuduga sejak awal).

Hal yang menarik dalam seminar proposalku hari ini adalah banyaknya audiens yang menghadiri ruang google meet. Aku sempat berpikir bahwa tak akan ada teman yang “segabut” itu untuk menyimak seminarku. Ternyata pikiranku salah. Beberapa teman bahkan bergabung sebelum seminar dimulai(Mbak Upik & Mbak Iin, kalian memang luar biasa). Adikku dan teman-temannya juga ikut menyimak. Sungguh, aku merasa senang dan bahagia.

Aku ingat betul ungkapan seorang tokoh(yang entah siapa)

A friend of all is a friend of none

Kali ini, aku tak sepakat dengan ungkapan itu. Aku merasa setiap pertemanan adalah hal yang berharga. Sekali berkawan maka selamanya adalah kawan. Pun ketika pada akhirnya kita berada pada sisi yang berlawanan, kita tetap bisa berteman. Semacam agree to disagree.

Di jurnal hari ini aku hanya ingin berterima kasih kepada teman-temanku: Bagas yang selalu menemaniku. Kikik yang mengenalkanku pada teman-teman lain di kampus. Deri yang meminjamiku kemeja putih. Wisnu yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi moderator. Rahma yang merapikan draft proposal, membuatkan halaman, serta daftar isinya. Ajeng yang tak bisa bergabung namun berkat dorongannya aku masih bertahan dan memutuskan mulai kembali mengerjakan skripsiku. Linggar yang setiap libur kerjanya bersedia menemaniku berbincang banyak hal tak jelas. Wulan yang tak jengah kutanyai banyak hal perihal skripsi dan tetek-bengek administrasi kampus(sumpah wul, entah apa jadinya aku tanpa bantuanmu). Mbak Upik dan Mbak Iin yang bergabung di google meet bahkan sebelum dimulai. Mas Farhan dan Mbak Nandhifa yang memberi ucapan selamat. Windi, Affan, Rizqi, dan banyak teman lain yang tak sanggup kuingat(sungguh, aku memang pelupa. Bahkan nama 25 nabi dan rasulpun tak kuingat). Terima Kasih sudah menyimak seminar tak jelasku. Kehadiran kalian sangat berarti. Aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan kata-kata. Terima Kasih.

Nietzsche berpendapat bahwa untuk melampaui “mentalitas budak”, kita harus menempuh dan bertahan dalam jalan kesunyian. Aku tak pernah keberatan dengan kesendirian dan kesunyian, namun memiliki banyak kawan adalah hal yang menyenangkan. Kepada semua kawanku: aku mencintai kalian. Sungguh.