Saat aku menulis tulisan ini, hari mingguku sudah berakhir. Saat ini masuk hari senin pukul 00:12. Aku terlambat menulis jurnal harian karena baru saja pulang sehabis bertemu mas panji di sebuah kafe. Kami berbincang cukup lama dan membicarakan banyak hal. Usaha kami yang belum menghasilkan. Pergolakan batinku. Hingga masalah Republik. Aku sampai menghabiskan satu bungkus marlboro kretek merah yang kubeli beberapa menit sebelum perbincangan kami.

Selain bertemu mas panji, tidak ada hal yang cukup menarik dalam hari mingguku kali ini. Hari puasa kedua, tubuhku masih dalam proses adaptasi. Aku bangun sahur dengan setengah sadar seperti hari pertama. Efek obat-obatan ini memang luar biasa. Aku bisa tidur namun susah sekali bangun. Setelah subuh aku tidur lagi dan bangun pukul 11 siang. Karena tidak ada hal yang ingin kukerjakan, setelah bangun dan mandi aku pergi ke taman pancasila.

Di taman pancasila, seperti kemarin, aku hanya diam dan berbaring di rerumputan. Aku mulai menyukai hal ini. Sepoi angin, daun jatuh, semut yang menggerayangi tubuh. Semuanya terasa menyenangkan dan menenangkan. Suara bising samar kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya depan taman juga mulai terdengar merdu. Waktu serasa berhenti. Aku terpisah dari sekitar dan menjadi seorang spectator. Cukup lama aku menghabiskan waktu di taman pancasila. Sekitar pukul 14:00 aku pulang ke rumah dan mengerjakan revisian skripsiku. Aku telah bertekad, bagaimanapun aku harus menyelesaikan studi S1 ku.

Setelah mengerjakan revisian skripsi. Aku hanya berbaring dan mendengarkan rekaman ceramah filsafat Pak Fahruddin Faiz di Youtube. Kali ini tentang cinta menurut sartre.

Cinta adalah konflik, paradoks, dan pengobjekan.

Aku masih belum paham benar perihal cinta. Beberapa tulisanku tentang cinta bisa dibaca di Cinta[1]. Apa aku pernah jatuh cinta? Ya, aku merasa pernah jatuh cinta pada beberapa orang. Namun aku ragu apakah aku memang jatuh cinta pada orang tersebut atau hanya pada pikiranku tentang orang tersebut. Satu hal yang kuingat perihal cinta adalah

mendebarkan sejak dari semula

menghidupkan sejak dari adanya

Aku mencintaimu malam ini, namun entah esok hari, atau lusa nanti.