Indomaret dekat Kampus, 19.30
Aku berdiri di depan kasir, tanganku sibuk merogoh-rogoh waist bag lusuhku. Marlboro Kretek 11.500. Uang recehan sisa print skripsi cukup untuk satu bungkus. Aku menyulutnya sembari duduk di bangku legend depan Indomaret. Bau parfum samar tiba-tiba menyelinap di antara aroma tembakau.
“Skip tarawih?”
Suara itu datang dari belakangku. Aku menoleh, dan di sana kamu berdiri: rambut cokelat keemasan terurai di atas jaket denim, kalung pita hitam pendek melingkar ketat di leher . Mata tajammu menatapku, tapi yang lebih menusuk adalah senyum tipis setengah tertawamu.
“Aku… cuma nyari udara segar,” jawabku.
Kamu melangkah mendekat, tanganmu mengambil Marlboro Kretek-ku dari meja. “Udara di sini berbau rokok murah dan bohong,” bisikmu. “Aku mengenali baumu. Siang tadi di perpustakaan, kamu duduk di seberangku membaca Myth of Sisyphus-nya Camus ketika orang lain sholat jum’at. Aku melihat sekilas nama di naskah proposal skripsimu yang kau letakkan di meja, jelas ada M di sana, namamu Muhammad”
Tadi Siang, di Perpustakaan Kampus
Aku berdiam di sudut perpustakaan setelah kabur dari sholat jum’at. Buku The Myth of Sisyphus terbuka di halaman 42. Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Seorang perempuan—dengan kalung pita dan rambut cokelat yang berkilau—berhenti di seberangku.
“Kursi ini kosong?” tanyanya setengah berbisik. Aku hanya mengangguk. Tercium bau parfum yang khas, seperti bunga yang terbakar—manis tapi menusuk. Selanjutnya aku tidak memedulikannya lagi, terjebak pada dunia yang ditulis Camus. Hingga tanpa sadar, perempuan di seberangku sudah pergi, meninggalkan jejak wewangian dan kenangan singkat yang aneh.
Kembali di Depan Indomaret
“Jadi kamu mengawasiku?” tanyaku, mencoba tak terdengar defensif.
“Tidak perlu mengawasi. Orang yang kabur dari tarawih dan sholat jum’at punya aura yang sama: gelisah; juga bau rokok murahmu sangat menyengat,” jawabmu sambil menyerahkan sebungkus Marlboro kembali padaku. “Mari ke tempatku. Aku punya kopi hitam dan pertanyaan yang tidak bisa kau hindari.”
Kosanmu, 20.15
Ruangan sempit itu dipenuhi oleh tumpukan buku yang amburadul: Thus Spoke Zarathustra bersandar di atas komik Naruto, poster Hybrid Theory terkelupas di dinding retak, dan laptop tua yang memutar lagu Numb dari akun Spotify bajakan. Kamu menuangkan kopi hitam ke dalam gelas bonus kopi sambil melempar pertanyaan tanpa aba-aba. “Kamu membaca Camus, tapi apakah kamu pernah benar-benar memahami pemberontakannya?”
Aku menyalakan rokok, asapnya berputar menari dengan alunan musik. “Aku hanya mahasiswa yang terjebak antara skripsi dan kepura-puraan.”
“Kepura-puraan adalah penjara,” katamu, sambil menyalakan rokok diplomat dengan gerakan lihai. “Sisyphus bukanlah korban. Dia memilih untuk tertawa di tengah kekacauan. Sedangkan dirimu?” Matamu menyipit. “Kamu hanya mendorong batu bernama ‘kewajiban’ tanpa pernah bertanya: untuk siapa?”
Hujan mulai mengetuk atap seng. “Aku cuma tidak mau menyakiti perasaan Ibuku.”
“Tapi kamu menyakiti dirimu sendiri,” potongmu. Aku menatap bekas luka di pergelangan tanganku—garis-garis yang lebih jujur daripada ribuan kata. “Aku lelah menjadi Sisyphus versi orang tua. Tapi aku tidak tahu cara berhenti.”
Kamu mengangkat lengan bajumu, menunjukkan jejak luka halus yang berbaris rapi. “Aku pernah mencoba bunuh diri,” bisikmu tiba-tiba, suaramu datar seperti membaca puisi. “Tapi gagal. Sekarang, luka-luka ini lebih jujur daripada doa-doa yang kupaksakan di musholla.” Kamu menghembuskan asap rokokmu “Aku pernah menjadi Sisyphus yang patuh: berjilbab, puasa, dan tersenyum saat hati menjerit. Sekarang, aku memilih mendorong batu itu ke jurang sambil tertawa. Paling tidak, itu jujur.”
Aku menatap lagi bekas luka di tanganku—mirip milikmu, tapi lebih samar. “Aku tidak seberani dirimu.”
“Bukan soal keberanian,” katamu, sambil meniup asap rokok ke arah jendela yang retak. “Soal memilih: terus mendorong batu seperti Sisyphus, atau menendangnya ke jurang dan menertawakan langit yang marah.”
Pukul 01.00
Hujan mulai reda. Kamu memainkan playlist berisi lagu-lagu Linkin Park era Chester Bennington yang di-selingi dengan lagu-lagu syifasativa dan FSTVLST. “Sharing Playlist Spotify yuk. Biar algoritma tahu kita bukan hanya broken heart, tapi juga broken faith,” candamu, tapi matamu serius.
Playlist berganti ke “Rumah aman bagi kita”—Syifasativa berbisik tentang pelarian, sementara hujan di atap seng mulai menyusut jadi rintik-rintik yang malas. Kamu memiringkan kepala, rambutmu menyapu bahuku seperti kuas yang melukis kata-kata di udara. “Algoritma kita sudah berteman,” katamu, menunjuk layar Spotify yang menampilkan “Recommended For You: Existential Crisis & Angry Prayers”.
Aku memejamkan mata. Lagu-lagu itu merangkak di bawah kulit—Numb menyentuh bekas luka di pergelangan tangan. “Aku sering berpikir,” suaramu tiba-tiba lembut, “apakah Tuhan sengaja menciptakan algoritma agar kita tak merasa sendirian dalam kemunafikan?”
Di luar, motor ngebut melintas—suaranya seperti jeritan yang dipotong semburan knalpot. Matamu menatapku, dua sumur gelap yang memantulkan bayangan diriku yang terbelah: satu memegang Myth of Sisyphus, satu lagi memegang sajadah lusuh pemberian Ibu. “Kamu bisa memilih,” bisikmu, “tapi ketahuilah: diam itu juga pilihan. Dan itu yang paling busuk.”
Laptopmu memunculkan peringatan “low battery”. Layarnya redup, menerangi poster Hybrid Theory yang Chester-nya kini terlihat seperti sedang menangis. “Aku pernah menulis puisi di tubuhku,” katamu, menarik tangan ku ke pinggangmu. Di bawah kaos, kulitmu halus tapi berbekas—garis-garis luka seperti puisi yang ditulis dengan pisau. “Baca. Dengan ujung jarimu.” Aku menyentuhnya, kasar. “Kami bukan pemberontak, hanya mayat yang menolak dikubur oleh tangan mereka sendiri.” Katamu pelan, hampir seperti desahan.
Aku menyalakan rokok terakhir. Api korek bergetar—angin dari jendela yang retak berusaha mematikannya, tapi kau menutupi api itu dengan tanganmu, menyelamatkan nyala kecil itu. “Lihat,” bisikmu, “kita bahkan bisa memberontak pada angin.”
Pukul 01.45
Hujan benar-benar reda. Spotify memutar “One More Light”— Suara parau Chester berbisik tentang nyala yang padam. Kamu berdiri, membuka laci meja yang penuh pil dan buku harian. “Ini,” sambil melemparku kunci kamar berbandul tengkorak kecil. “Simpan. Untuk saat dirimu lelah jadi Sisyphus, dan ingin jadi Ikarus—terbakar tapi setidaknya pernah menyentuh matahari.”
Aku memegang kunci itu—dingin, tajam, seperti pecahan cermin yang siap melukai. “Kenapa kamu peduli?”
Kamu tersenyum, mengambil jaket denim dari kursi dan melemparkannya padaku. “Karena bau rokokmu mengingatkanku pada diri sendiri: sama-sama mencintai Camus tapi takut pada halaman 72.”