Perihal Tiga Kucing kecilku yang ingin Aku ceritakan kepadamu

Aku memandangi mereka—tiga gumpal daging berbulu yang bergerak-gerak seperti gelembung sabun yang enggan pecah. Si Callico Kecil, si Callico Besar, dan si Oren. Usianya mungkin sekitar dua minggu. Beratnya barangkali tak seberat genggaman tangan. Tapi di sini, di dalam kardus di sudut kamar yang sempit, mereka bernapas. Bernapas. Paru-paru mini itu mengembang dan mengempis dengan ritme yang seolah mengejek semua konsepku tentang rapuh.

Mata mereka baru saja terbuka—biru keruh seperti kaca patri usang. Tatapannya kosong, tapi justru di situ letak keajaibannya: bagaimana sesuatu yang buta bisa tahu arah puting susu? Bagaimana makhluk yang bahkan belum bisa mengendalikan kandung kemihnya sendiri, mampu merangkak mencari kehangatan dengan presisi algoritmik?

Kemarin, si Callico kecil nyaris terinjak ketika aku melangkah. Hari ini, si Oren tersangkut di lipatan selimut. Mereka mengeong, suaranya seperti kresek diremas-remas, lalu kembali menyusu. Seolah kefanaan cuma angin lalu yang tak layak ditanggapi serius. Aku bertanya-tanya: apakah ini yang disebut kodrat? Ataukah ini bentuk pemberontakan paling purba—kehidupan yang menolak mati meski alam semesta tak pernah berjanji akan kebaikan?

Ibunya, Tirex, menjilati mereka dengan kasar. Lidahnya yang berduri membersihkan kotoran di bulu-bulu halus. Aku teringat konsep elan vital-nya Bergson: dorongan hidup yang buta, tak rasional, tapi tak terbendung. Tapi di sini, di lantai kamar yang dingin, teori itu menjelma jadi tawa: tiga tubuh mini yang tak tahu apa-apa kecuali bertahan, justru melakukannya lebih elegan daripada filsuf-filsuf yang kusembah.

Mereka tersandung, jatuh, lalu bangkit lagi. Kakinya yang belum stabil menari-nari di udara seperti vers libre. Aku yang sering terjebak dalam overthinking eksistensial, merasa diri jadi badut: meributkan makna hidup sementara tiga nyawa ini cukup hidup saja sebagai jawaban.

Malam ini, sambil menatap mereka tidur berpelukan, aku tersadar: keajaiban bukanlah mukjizat yang gemuruh. Ia ada dalam desah napas kecil yang bertahan meski kamar ini sempit, obat-obatan di meja menumpuk, dan dunia di luar sibuk dengan apokalipsnya sendiri.

Aku tak lagi bertanya mengapa mereka bisa hidup. Kini aku belajar diam, mengagumi cara tubuh-tubuh mungil itu—tanpa membaca Nietzsche atau Camus—telah menguasai seni yang paling sulit kupahami:

ada, sekadar ada, dan itu cukup.