Aku menemukan tulisan Santi di Instagram pagi ini, di antara story Digital Marketing DNVB dan meme politik WKWKTHO. Dia bicara tentang cinta sebagai ilusi neurokimia—dopamine yang memabukkan, oxytocin yang menjebak, dan kortisol yang menggerogoti. Kamu pasti tahu perasaan itu: saat jantung berdebar bukan karena spark, tapi karena amygdala-mu mengira sedang menghadapi predator, padahal cuma melihat dia online tanpa membalas pesan.
Aku duduk di kamar 3×3 meter ini, menatap atap seng yang berkarat. Di luar, langit Magelang kelabu seperti layar laptop yang menampilkan draft skripsi kosong. Tubuh ini masih lemas oleh clozapine semalam, tapi otak sudah berpacu. Bagaimana mungkin perasaan yang kita sebut “cinta” ternyata hanya kalkulasi hormon? Aku membayangkan Nietzsche tertawa sinis: “Kau pikir dirimu bebas, tapi kau cuma boneka biokimia!”
Santi bilang, dopamine membuatmu mengidealisasi seseorang. Aku mengangguk pelan. Dua tahun lalu, aku juga begitu—mengira senyumnya adalah gerbang menuju authentic existence ala Heidegger, padahal itu cuma kontraksi otot zygomaticus. Kamu pasti pernah merasakannya: memutar ulang percakapan sepele, mencari makna di setiap tanda baca, padahal itu cuma small talk tentang cuaca atau harga cabai.
Tapi oxytocin-lah yang paling licik. Hormon itu menyusup lewat pelukan singkat, sentuhan tangan yang tak sengaja, atau sekadar duduk bersebelahan di angkutan umum. Tiba-tiba, kamu merasa terhubung. Padahal, kata Sapolsky dalam bukunya, itu cuma strategi evolusi agar manusia mau merawat anak dan tidak kabur dari pasangan. Aku tertawa membayangkan nenek moyang kita di gua-gua: “Sayang, aku cuma terikat sama kamu karena vasopressin, bukan karena kamu spesial!”
Kamu mungkin protes: “Tapi perasaan ini nyata!” Aku tahu. Di malam-malam ketika insomnia dan antidepresan berdebat di kepalaku, aku juga masih memikirkan dia—perempuan yang kini sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Santi bilang, serotonin yang rendah membuat kita obsesif. Otak kita, seperti tikus dalam eksperimen Skinner, terus menekan tuas harapan meski tak ada imbalan.
Tapi di sini, di kamar yang sempit ini, aku mencoba berdamai. Cinta memang ilusi, tapi bukankah hidup sendiri absurd? Camus menulis tentang Sisifus yang bahagia mendorong batu, Sartre bicara existence precedes essence. Mungkin kita bisa mencuri makna dari kekacauan ini: mencintai meski tahu itu cuma sekresi hormon, mempercayai meski prefrontal cortex sedang libur.
Aku ingat kata-kata Santi di akhir tulisannya: “Sains membantu kita memahami pola, tapi kamu yang paling tahu apa yang kamu rasakan.” Mungkin itu jawabannya. Kita memang mesin biokimia, tapi mesin yang bisa menangis membaca puisi Chairil Anwar, atau tersenyum saat melihat anak kucing belajar berjalan.
Malam ini, sambil menunggu efek diazepam bekerja, aku memutuskan: biarlah dopamine dan kortisol menari sesuka mereka. Di sudut kecil ruang 3×3 meter ini, aku akan tetap menyimpan ruang untuk percaya bahwa sentuhan, rindu, dan semua gejolak ini—meski bisa diurai jadi rumus kimia—tetaplah puisi yang layak ditulis.
Seperti labirin tanpa pintu keluar, atau seperti kita yang tetap memilih hidup meski tahu akhirnya mati.